Miliaran Benang Cahaya Kuantum melayang di udara, menenun partikel oksigen menjadi visual tiga dimensi sebuah padang rumput hijau yang sangat mereka kenal dari masa lalu.
“Tahan fluktuasi fokusmu, Aria.”
Sastra tidak mengalihkan pandangan dari tiga layar monitor yang melayang. Telunjuknya bergerak cepat, mengunci grafik kelistrikan otak yang mendadak melonjak.
“Amplitudo gelombang otakmu menyentuh angka 45 Hertz. Sinyal MTB di Lauhul-Atsar mulai tidak stabil.”
Suara peringatan Sastra terdengar, namun Aria tidak membuka mata. Visor virtual yang menutupi separuh wajahnya mendengung samar, bergetar mengikuti ritme napasnya yang mulai memburu.
“Aku tahu, Sastra.” Sepasang sarung tangan eksoskeleton di jemari Aria bergerak-gerak halus, seolah sedang meraba tekstur angin yang tak kasat mata. “Tapi... padang rumput ini rasanya terlalu nyata. Anginnya, aroma tanahnya setelah hujan... Aku bisa merasakannya di ujung jemariku. Logam hidup ini menerjemahkan ingatanku dengan terlalu sempurna.”
Langkah Sastra mendekat, memecah kesunyian lab. Plat Kala Cakra di pergelangan tangan kirinya berdenyut keemasan, memantulkan cahaya pada dinding kaca laboratorium.