Kegelapan di dalam ruang utama The Greenhouse Core tidak pernah benar-benar mati. Ketika pemutusan arus paksa memadamkan seluruh lampu utama. Ruangan itu bertransisi menjadi akuarium raksasa yang berpendar merah pekat. Lampu darurat reflektif di sudut-sudut plafon memantulkan bayangan daun-daun ivy yang menggantung pasrah.
Di bawahnya, cairan perak kehitaman dari Edenite Alloy yang beberapa menit lalu mengembang liar memagari koridor, kini perlahan-lahan menyusut. Logam hidup itu kembali melunak, merayap mundur ke dalam pipa-pipa vakum dengan suara desis yang menyerupai tarikan napas makhluk melata yang sedang tertidur.
Sastra tidak memedulikan pemandangan itu. Fokusnya tersedot sepenuhnya pada bobot tubuh Aria yang bersandar pasrah di lengan kirinya.
"Aria, dengar suaraku?"
Tangan kanan Sastra bergerak cepat ke tengkuk Aria. Ia menekan tombol manual pada pelipis visor virtual wanita itu. Alat pemindai kognitif tersebut terlepas dengan bunyi klik mekanis yang tajam. Di balik lensa yang meredup, kelopak mata Aria terpejam rapat. Sisa darah segar di sudut mata kanannya mulai mengering, meninggalkan jejak merah kehitaman yang kontras dengan warna kulitnya yang mendadak sepucat porselen.
Sastra mengangkat tubuh Aria dalam satu sentakan. Langkah kakinya yang tergesa-gesa memecah kesunyian lab, berkejaran dengan gema detak jantungnya sendiri yang berdentum di balik dada. Ia membawa Aria melewati lorong penghubung menuju ruang domestic. Ini satu-satunya area di lab rumah kaca ini yang tidak tersentuh oleh kabel-kabel optik terbuka.
Ia membaringkan tubuh Aria di atas ranjang berbahan katun putih. Sentuhan kain alami itu terasa aneh di jemarinya yang terbiasa memegang dinginnya perangkat keras kuantum. Sastra segera menarik pergelangan tangan kiri Aria. Di kulit wanita itu, Plat Kala Cakra masih melingkar kokoh. Namun, gelang perak cair itu tidak lagi memancarkan cahaya keemasan yang menenangkan.
Warnanya kini berkedip-kedip merah jingga, mengirimkan sinyal termal dingin yang konstan untuk menurunkan suhu lobus parietal Aria yang sempat menyentuh batas kritis. Sastra menyentuh permukaan plat tersebut dengan ibu jarinya. Sebuah antarmuka holografik kecil setinggi sepuluh sentimeter langsung mencuat ke udara.
“Pemindaian Saraf: Aktivitas Synaptic di Area Broca melambat 40%. Suhu serebral: 37,2 derajat Celsius. Penurunan dipicu oleh anomali enkripsi eksternal.”
Sastra mengembuskan napas berat. Layar virtual itu ia kibaskan menjauh dengan lambaian tangan. Tangannya beralih mengambil sekotak tisu steril di atas nakas, mengusap noda darah di pipi Aria dengan gerakan yang sangat hati-hati, seolah-olah wanita di depannya adalah struktur kaca mikroskopis yang bisa retak pada benturan sekecil apa pun.
“Kenapa kau selalu melangkah terlalu jauh, Aria?” bisik Sastra pada keheningan.
Suaranya tercekat di tenggorokan. Janji dari masa lalu mereka kembali terngiang di kepalanya seperti gaung lonceng kuno. Mereka berjanji untuk membangun dunia virtual ini sebagai tempat perlindungan bagi ingatan manusia, bukan sebagai labirin yang mengisap kesadaran mereka sendiri hingga kering.
Sebuah getaran halus dari arah ruang utama lab mengejutkannya. Itu bukan getaran mesin yang rusak. Getaran itu memiliki ritme stabil seperti ketukan jari yang konstan pada meja kayu.