Sisa pendar merah darurat dari sistem yang mati paksa masih memantul di atas permukaan meja mekanis. Di dalam The Greenhouse Core, kesunyian mendadak terasa begitu pekat, menyisakan desis linear dari pipa vakum saat cairan Edenite Alloy ditarik kembali ke tabung penyimpanan isolasi. Sastra tidak menunggu sensor pneumatik selesai mengunci katup. Ia melangkah lebar, membiarkan sepasang bot kulitnya berdecit di atas lantai baja bordes tahan karat, lalu menopang tubuh Aria yang limbung sebelum wanita itu menyentuh tepi The Neural Loom.
"Aria, tetap buka matamu. Lihat aku."
Sastra menekan tombol pelepas manual di bawah pelipis visor virtual Aria. Alat pemindai kognitif itu terlepas dengan bunyi klik mekanis yang kering. Di balik lensa pemindai yang meredup, kelopak mata Aria bergetar hebat. Sisa darah segar di sudut mata kanannya mengalir lambat, membentuk garis tipis yang membelah pucatnya pipi. Pelan menetes sebelum akhirnya mengering akibat terpaan udara dingin dari pendingin ruangan.
Tanpa menunggu konfirmasi dari sistem diagnosis otomatis. Sastra mengangkat tubuh Aria dalam satu sentakan. Langkah kakinya tergesa-gesa membelah koridor laboratorium, melewati jajaran rak Bio-Server Yggdrasil yang akar-akarnya masih tampak menegang kaku, dialiri sisa-sisa energi magnetik dari Bakteri Magnetotaktik (MTB).
Ia membawa Aria masuk ke dalam ruang domestic. Tempat satu-satunya sudut di lab rumah kaca ini yang tidak tersentuh oleh kabel optik terbuka atau pendar konstan layar holografik. Di atas ranjang katun putih yang sederhana, ia membaringkan tubuh Aria dengan sangat hati-hati. Dengan kontur seolah-olah wanita di depannya adalah rangkaian struktur mikroskopis yang bisa hancur jika menerima guncangan sekecil apa pun.
“Sastra... anak itu...” Suara Aria parau, nyaris tenggelam oleh deru napasnya sendiri yang pendek dan patah-patah.
“Jangan bicara dulu. Redam aktivitas kognitifmu.”
Sastra meraih pergelangan tangan kiri Aria. Di sana, Plat Kala Cakra masih melingkar, melekat erat pada kulit. Namun, logam cair berwarna perak itu tidak lagi memancarkan cahaya keemasan yang biasanya menandakan sinkronisasi saraf yang stabil. Permukaannya berkedip-kedip dalam ritme jingga pekat. Mencuatkan tanda bahwa sirkuit kuantum di dalamnya sedang melepaskan gelombang mikro pendingin secara maksimal untuk mencegah sel saraf di lobus parietal Aria terbakar pasca-anomali.
Sastra menyentuh tepian Plat Kala Cakra dengan ibu jarinya. Hingga tindakannya ini memicu kemunculan antarmuka holografik diagnostik yang melayang setinggi sepuluh sentimeter di atas pergelangan tangan Aria.
“Aktivitas Sinapsis: Lonjakan mendadak di area Hippocampus dan Lobus Oksipital.”
“Suhu serebral puncak: 38,9°C.”
“Sistem melakukan enkapsulasi paksa demi proteksi kognitif.”
Sastra mengibaskan layar kecil itu hingga menghilang ke udara. Tangannya mengambil selembar kain steril dari nakas, mengusap jejak darah di sudut mata Aria dengan gerakan konstan yang lembut. Ia tahu betul apa arti darah itu. Itu adalah tanda terjadinya tekanan balik komputasi. Goresan sebuah kondisi di mana memori fotografis absolut milik Aria dipaksa menerima input data yang kapasitasnya melampaui ambang batas toleransi jaringan saraf manusia.
Namun, yang membuat rahang Sastra mengencang bukan sekadar kondisi fisik Aria, melainkan fakta dari arah ruang utama yang baru saja tertangkap oleh memori fotografisnya sendiri.