SASTRA PEMBAWA JANJI

MS Ransyah
Chapter #1

PROLOG: KUADRAN BARAT TOWER PALEM

Detak statis di dalam tempurung kepala Sastra Aska tidak pernah benar-benar mati, ia hanya bersembunyi di balik kebisingan kota yang banal sebelum meluncurkan hantaman listrik ke lobus frontalnya. Dari titik pijaknya di lantai dasar gedung tua peninggalan orang tuanya, sepasang matanya yang menderita hipertimesia akut merekam setiap fraksi spasial dengan akurasi yang menyiksa.

Korteks kognitifnya bekerja layaknya kamera pemindai beresolusi tinggi. Matanya ibarat memiliki Skill Memori Fotografis yang mampu mengunduh jutaan data makro tanpa fungsi hapus secara absolut. Sastra memaku pandangannya pada bayangan raksasa yang menjulang di kuadran barat kompleks apartemen vertikal: Tower Palem.

Bangunan beton itu berdiri kaku laksana batu nisan raksasa yang menghadang rimbunnya pepohonan Makam Pahlawan Kalibata di seberang pembatas dinding beton. Sastra merasakan sebuah dorongan obsesif yang janggal, sebuah tarikan somatik yang tidak berwujud namun terasa nyata meremukkan dada kirinya dengan takikardia yang memburu.

Sekali waktu, jemari Sastra mencengkeram erat paku baja empat inci di dalam saku jaket hitamnya sebagai jangkar visual. Refleks yang tertanam untuk menekan amigdala otaknya yang mulai kebanjiran data sensorik. Sastra melangkah menyusuri selasar koridor kusam. Pikirannya mendeposisi anomali yang terjadi malam ini ke dalam kuadran rasional yang dingin, mencoba mencari tahu mengapa struktur dari arsitektur Tower Palem seolah memancarkan pendar pembiasan cahaya semu. Jelas ini memicu lonjakan resonansi saraf di pelipis kanannya.

Langkah kaki kanannya yang sedikit pincang akibat sisa kompensasi trauma runtuhan beton gempa bumi dua puluh lima tahun silam menggaungkan irama antalgic gait yang ganjil di atas ubin semen. Getaran berfrekuensi rendah merambat naik dari fondasi bumi, bersilangan dengan gemuruh sayup-sayup dari rangkaian kereta barang pembawa kontainer logistik yang merayap panjang membelah Stasiun Kalibata.

Bagi mata fotografis Sastra, dunia luar malam ini bukan sekadar pemandangan urban, melainkan hamparan kode digital yang kaku. Ia menatap pendar lampu halogen hijau yang memantul di atas permukaan air kolam renang apartemen di bawah kaki Tower Palem, menyadari bahwa getaran air tersebut membentuk pola polarisasi tajam yang berdenyut dalam frekuensi sembilan belas hertz yang ganjil.

Lihat selengkapnya