Semesta tidak pernah berjalan di atas ketidaksengajaan, melainkan diatur oleh presisi frekuensi yang melompati lini masa linier manusia. Dari balkoni lantai dua puluh Tower Palem, dr. Aria Kirana menatap pendar lampu halogen hijau yang memantul di atas permukaan air kolam renang apartemen yang tenang di bawahnya. Angin malam bertiup dari arah barat, membawa aroma kelopak bunga kamboja yang basah dan bau tanah latosol dari balik rimbunnya pepohonan Makam Pahlawan Kalibata yang membentang sunyi di seberang pembatas dinding beton. Di sinilah, di kuadran terjauh dari bisingnya Gerbang Timur Kalibata City, Aria membangun laboratorium pengintaian klinisnya sendiri, sebuah menara gading yang sepi di mana setiap draf takdir buruk sedang dihitung mundur dengan kalkulasi biometrik yang mutlak.
Aria menarik napas panjang, merapatkan mantel sutra putihnya demi menghalau dingin somatik yang mulai merayap naik ke sirkuit sarafnya. Di pergelangan tangan kirinya, arloji kronograf militer berdetak statis dalam frekuensi seratus sepuluh kali per menit, ritme jantung buatan yang sengaja ia pelihara menggunakan dosis amfetamin dan propranolol yang terukur demi mengunci ekspresi wajahnya agar sedingin es di hadapan dunia. Aria melepaskan perangkat pemancar frekuensi mikro nirkabel berbentuk melengkung dari balik daun telinga kanannya, meletakkannya di atas meja kaca di samping secangkir teh maltol yang mulai mendingin. Alat kecil itulah yang tadi sore ia gunakan untuk membajak cache memori bawah sadar Sastra Aska di ruang praktiknya.
Dari ketinggian lantai dua puluh ini, jika mata normal manusia hanya melihat kerlip lampu Jakarta yang berkejaran, mata analitis Aria mampu menembus jarak horizontal sejauh Ratusan depa jengkal, mengunci pandangannya tepat pada siluet kusam gedung tua tiga lantai di sudut timur Kalibata. Di sanalah Sastra Aska berada, pemuda yang menderita kutukan ingatan eidetik mutlak tanpa fungsi hapus, kekasih masa kecilnya yang kini bertransformasi menjadi seorang peramal kuyu akibat jebakan superioritas intelektual. Aria memejamkan mata, membiarkan gema pesan lama ayahnya kembali beresonansi di dalam kepalanya, tentang koordinat terselubung yang ditulis dari pabrik takdir untuk memiliki jiwa sebagai Cermin Hati yang memantulkan keagungan cahaya, bukan untuk dikurung oleh kesombongan statistik kepala manusia.
Aria tahu betul bahwa Operasi Pembedahan Kognitif tanpa pisau bedah ini adalah satu-satunya jalan rasional untuk menyelamatkan nyawa Sastra. Memori fotografis Sastra yang terlalu tajam telah menjadi malware biologis yang sedang menuntun pemuda itu menuju kehancuran total. Setiap malam, getaran berfrekuensi tiga puluh hertz dari kereta barang pembawa kontainer logistik yang merayap panjang membelah Stasiun Kalibata akan menggetarkan fondasi gedung tua itu, bertindak sebagai pemicu somatis yang mengaktifkan kembali episode disosiatif Sastra.
Sastra mengira mesin tik Continental buatan Jerman tahun 1940 yang ia temukan di Jalan Surabaya adalah artefak magis yang bisa memprediksi maut, tanpa pernah menyadari bahwa jemari bawah sadarnyalah yang mengetik sendiri seluruh draf pembunuhan itu berdasarkan data visual yang direkam retinalnya di siang hari. Dan Aria, dari balik jendela kaca Tower Palem yang menghadap ke kompleks makam, harus berakting sebagai musuh sedingin es yang memprogram skenario kematian palsunya sendiri di Kilometer empat puluh lurus lintasan rel rel kereta. Semua semata-mata demi meluncurkan pembersihan total pada ingatan eidetik Sastra sebelum jaringan bayangan Tuan Baskoro meretakkan kewarasan sang peramal hingga mati total.