...uap latosol yang menguap dari aspal basah Kalibata merayap naik, membawa desis dingin 19-hertz yang membekukan kaca ruko... Sastra Aska menghentikan langkah kaki kanannya yang pincang tepat di koridor sempit yang membatasi pelataran luar apartemen vertikal dengan klaster kios memorabilia barang antik yang berhimpit kaku di samping Gerbang Timur Kalibata City.
Sumbu saraf di pelipis kanannya melepaskan denyut takikardia kronis yang konstan, mengirimkan kejutan listrik mikro yang memaksa sepasang mata eidetiknya untuk terus memindai detail makro dari sisa-sisa peradaban analog yang terbuang di sudut kota. Di dalam saku jaket hitamnya, Sastra menyentuh tuas silinder logam. Ada sebuah getaran taktil berfrekuensi rendah merambat naik ke sumbu saraf tangannya.
Kelistrikan aneh itu memicu lonjakan resonansi saraf di pelipis kanan Sastra. Pikiran analitisnya langsung memetakan alat tersebut bukan sebagai objek empiris belaka, melainkan sebuah instrumen rasional-internal yang memiliki keselarasan mekanis dengan frekuensi bawah sadarnya sendiri yang kepenuhan pasca-serangan disosiatif.
Jemari Sastra yang dingin terus meraba permukaan keras ujung paku baja empat inci tersebut. Menjadikannya sebuah jangkar somatik yang mutlak diperlukan untuk menstabilkan dinding amigdalanya, agar tidak runtuh oleh luapan data visual yang terus membanjiri korteks parietal kirinya.
Pikiran analitis Sastra mendeposisi atmosfer yang pengap ini ke dalam kuadran rasional-internal yang dingin. Mencoba memisahkan antara distorsi bising mesin kota dan denyut kesadaran murni manusia yang bergerak kaku laksana bidak-bidak catur di bawah bayang-bayang Konsorsium Delta-57. Sastra tahu, ia tidak sedang mengamati dunia melalui kacamata magis, melainkan sedang membaca kalkulasi fisika biologis yang sangat presisi.
Sekali sempat, Sastra merekamnya melalui pembiasan cahaya semu yang memantul dari kornea mata orang-orang yang melintas di area komunal ini. Kini, pandangan retinanya yang sedingin es segera terkunci pada sebuah mesin tik mekanis bermerek Continental buatan Jerman tahun 1940 yang diletakkan di atas meja kayu kusam pada kios terdalam. Letak ini persis beberapa meter di balik dinding benteng beton panti asuhan mandiri miliknya.
Mata Sastra melebar saat mendeteksi pelat kuningan kecil yang tertanam di bawah roda rol mesin tik tersebut yang mengukir nomor seri pabrik DE-110-BPM-57. Sensoriknya memicu ingatan fotografisnya untuk ditarik mundur dua puluh lima tahun lalu. Masih seolah dekat terngiang, kembali bergema dari balik dinding batin yang retak mengingatkan tentang koordinat-57 di pusat jiwanya. Sastra terpicu memori yang merupakan Cermin Hati-nya untuk memantulkan keagungan suara berat dan hangat dari dokter saraf jenius ayah dari gadis kecil belahan jiwanya.