SASTRA PEMBAWA JANJI

MS Ransyah
Chapter #3

BAB 2: Arsitektur Kesunyian dan Anomali Kanvas Silikon

Sastra Aska membiarkan telapak tangan kirinya tenggelam pada permukaan dingin daun meja jati peninggalan era kolonial. Kamar batinnya mencoba meredam sisa retro-causal shockwave yang memantul dari peristiwa di trotoar tadi. Di luar jendela buramnya, ekosistem Kalibata berdenyut dalam ritme basah. Sisa hujan semalam meninggalkan genangan horizontal di aspal, memantulkan polarisasi cahaya lampu merkuri hijau yang berpendar dari deretan apartemen vertikal Kalibata City. Syahdunya pendaran itu membentuk distorsi geometri visual, sebuah pola fraktal yang terus direkam oleh ingatan fotografis eidetik Sastra tanpa henti, memetakan setiap inci ketidaksempurnaan kota.

Udara di dalam ruangan itu tiba-tiba mengalami pergeseran viskositas. Sedikit tercium aroma asam belerang oksida yang sangat tipis, menguar lambat bagai kabut beracun. Bagi indera penciuman Sastra yang terlatih, itu adalah pertanda spesifik dari degradasi sirkuit silikon pada perangkat keras di sekitar area komunal yang mulai mengalami malafraktur kognitif. Tubuh organik Sastra merespons. Ia merasakan denyut nadi di pangkal lehernya berdetak statis, menginjak angka seratus sepuluh ketukan per menit. Takikardia ini mungkin saja merupakan indikasi klinis dari beban disonansi kognitif yang memuncak akibat pergeseran realitas. Namun, ia memandang lonjakan kardiovaskular itu dengan ketabahan seorang stoik sejati. Rasa sakit fisik ini hanyalah sirkulasi elemen organik yang kaku. Sebuah pergeseran atom yang sepenuhnya netral di hadapan hukum keteraturan semesta yang tak terbantahkan.

Fokus meditatifnya terputus ketika engsel pintu ruko bergesekan lambat, menghasilkan lengkingan akustik bernada rendah yang merobek frekuensi keheningan. Serangkaian langkah kaki masuk, bukan dengan ketegasan, melainkan dengan ritme ringkih yang asimetris. Sepertinya sedang menyeret beban gravitasi yang tak kasat mata.

Sastra tidak berbalik. Ia mempertahankan posturnya, menatap tajam pada mesin tik Continental tahun 1940 miliknya. Matanya menangkap anomali mikroskopis: tuts huruf 'E' dan 'S' yang bersamaan bergetar secara mikro. Seolah digerakkan oleh sirkuit induksi elektrostatis dari kuadran barat ruangan. Sesuatu yang membawa pembusukan moral baru saja melintasi ambang pintunya, dan bayangan pekat dari Menara Borneo kini berdiri tepat di belakang punggungnya. Sastra tahu siapa yang datang, namun pertanyaan yang menggantung di udara adalah: sejauh mana keputusasaan telah menggerogoti kewarasan sang tamu malam ini?

"Kau tahu persis mengapa kau menembus pekatnya malam untuk datang kemari, Tuan Hendrawan," ucap Sastra. Suaranya mengalun datar, membawa resonansi sedingin es yang membeku di kaca etalase penghias sudut ruangan.

Di belakangnya, Hendrawan mencengkeram tepi meja jati. Buku-buku jari sang kurator seni itu memutih, seolah tengah menahan beban langit-langit yang hendak runtuh menimpanya. Napasnya memecah udara menjadi fraksi-fraksi tajam yang tak beraturan. "Mereka bilang kau bisa melihat apa yang disembunyikan oleh kedalaman sirkuit digital," bisik Hendrawan, pita suaranya bergetar membawa kepanikan absolut.

"Lukisan itu... seluruh sistem katalogisasi Delta-57 menyatakan kanvas itu asli. Validasi biometriknya sempurna. Tapi... tapi aku mendengar derit runtuhan besi tua yang bergesekan setiap kali deru ‘exhaust’ Kalibata Plaza berhembus menyeberangi rel."

Lihat selengkapnya