SASTRA PEMBAWA JANJI

MS Ransyah
Chapter #4

Bab 3: Parameter Iskemia dan Pengintai Kompartemen

Histeria massal di jagat maya Jakarta Selatan telah melampaui titik didih ekuilibrium ketika rekaman deduksi visual Sastra Aska merobek batas sirkuit algoritma komersial. Di luar dinding beton gedung tua peninggalan orang tuanya yang bersandar kaku pada sayap Gerbang Timur, riuh rendah ribuan pasang kaki pekerja urban mulai beraktifitas. Antrean raksasa itu membelah aspal basah, menembus pelataran Menara Ebony bak gelombang pasang neurotik yang mencari muara kewarasan.

Ritme waktu itu tidak lagi diukur oleh pergantian jam digital di pergelangan tangan, melainkan oleh deru kasar lokomotif komuter yang membelah rel stasiun dan transisi warna langit dari kelabu aspal menuju jingga tembaga yang terinfeksi polusi ibu kota. Sastra duduk mematung di balik meja kerja jati tuanya. Retinanya merekam getaran mikroskopis pada engsel pintu kayu depan

Sebuah resonansi mekanis akibat tekanan fisik dari kerumunan manusia yang membawa beban disonansi kognitif pekat dari rutinitas apartemen vertikal mereka. Boni kecil melangkah mendekat dari sudut bayangan koridor yang minim cahaya. Parut luka berbentuk rel kereta di lengan kanan bocah itu tampak menegang di bawah pendar lampu halogen ruangan. Bisa terlihat kalau itu membiaskan jejak trauma masa lalu yang belum sepenuhnya mengkristal menjadi penerimaan.

"Mas Sastra," bisik Boni. Pita suaranya menghasilkan getaran frekuensi rendah yang sarat akan kecemasan komunal. "Pria dari Menara Ebony itu... dia memaksa mau meruntuhkan engsel kita. Dia meracau bahwa tablet kerjanya memuntahkan bau asam belerang oksida tepat setelah retinanya menangkap visual videomu di jaringan tranding."

"Biarkan dia melintasi ambang pintu, Boni. Mari kita barikade kognitif yang mengurung ketakutannya," respons Sastra tanpa sedikit pun menggeser sumbu pandangnya dari tuts besi mesin tik Continental Jerman di atas meja.

Sepertinya daun pintu kayu itu terdorong dengan kasar, menciptakan gesekan akustik yang menggores dinding keheningan ruko. Sesosok tubuh melangkah masuk dengan gestur mekanis yang asimetris, seolah persendiannya telah kehilangan lubrikasi organik. Ia adalah @Rian_Dev, seorang pekerja nomaden digital yang sistem saraf otonomnya tengah dilumpuhkan oleh sindrom kepanikan data. Dengan gerakan yang serampangan dan dikendalikan murni oleh hormon kortisol, Rian melemparkan sebuah tablet berspesifikasi militer ke atas permukaan meja jati Sastra. Benturan material komposit dan kayu tua itu memantulkan gema kering ke seluruh penjuru ruangan.

Lihat selengkapnya