SASTRA PEMBAWA JANJI

MS Ransyah
Chapter #5

Bab 4: Jam Dinding Yang Berkarat

Bunyi statis dari desis kompresor mesin pendingin ruangan bergaung konstan, membelah keheningan di lantai dua gedung tua yang bersandar kaku pada sayap Gerbang Timur. Aliran freon yang tersendat di dalam pipa tembaga mengirimkan hawa dingin somatik yang menembus lapisan pakaian, menusuk langsung ke dalam pori-pori kulit Sastra Aska. Di atas meja kerja jati tuanya, realitas fisik dan metafisik mulai saling bertumpang tindih.

Jarum detik dari sebuah jam dinding raksasa bermerek Seiko, ikut menambah anomalinya suasana yang berdetak pekat di dalam ruang batin Sastra. Punggungnya menegak sempurna, membentuk garis lurus yang menantang gravitasi keraguannya sendiri. Pandangan eidetiknya terkunci pada konfigurasi benda-benda di atas meja: sebuah senter ultraviolet dengan kalibrasi presisi 365-nanometer yang ujungnya mengepulkan sisa residu oli sintetik, serta jajaran paku baja empat inci yang tergeletak dalam posisi siaga.

Semuanya adalah instrumen rasional-internal miliknya, jangkar yang mengikat kewarasannya pada dunia materi. Namun, pertahanan stoik itu mulai goyah ketika getaran frekuensi rendah di kisaran tiga puluh hertz merambat naik dari fondasi bumi. Itu adalah manifestasi kinetik dari putaran roda baja kereta komuter yang tengah menggesek lintasan rel Stasiun Kalibata. Resonansi akustik tersebut memicu episode disosiatif akut di dalam sumbu saraf Sastra, mengaburkan batas tegas antara kuadran empiris dan proyeksi ilusi di dalam lobus frontalnya.

Waktu tidak lagi beringsut maju; Sastra membeku dalam antisipasi yang mencekik. Di tengah kegelapan koridor luar yang melukiskan bayangan monokromatik, daun pintu jati di hadapannya mendadak mengayun terbuka. Tidak ada engsel berkarat yang menggores udara, tidak ada ketukan mekanis. Ruang vakum seolah tercipta untuk memberikan jalan bagi sesosok siluet yang melangkah masuk dengan keanggunan absolut.

Aria melangkah membelah ruangan, membiarkan gesekan sol sepatunya mengkalibrasi ketegangan udara. Ia mengenakan sepatu bot militer spesifikasi taktis yang anehnya masih menyisakan kerak basah lumpur latosol merah. Jelas bagi Sastra, sebuah anomali geologis yang mustahil ditemukan di ekosistem beton Kalibata City. Kecuali seseorang baru saja menggali sesuatu dari kedalaman fondasi masa lalu yang tersembunyi.

Kekasaran utilitarian dari alas kaki itu berbenturan secara visual dengan lambaian gaun sutra putih aristokrat yang membalut tubuhnya. Setiap kali gaun itu bergerak memecah udara, tercium aroma ozon tipis yang amat pekat, sebuah residu kimiawi dari tegangan listrik tinggi yang kini seolah menempel kaku dan menginfeksi dinding ruangan.

Lihat selengkapnya