...jelaga tipis yang mengendap di atas pagar besi Stasiun Kalibata bergeser lambat, meninggalkan jejak karbon purba yang menghitung mundur detik ke-57 di setiap kaca jendela kereta. Di sisi lain, Sastra Aska berdiri kaku di kuadran barat area atap datar Menara Ebony. Membiarkan tubuh kuyunya dihantam oleh desis angin malam yang membawa aroma asam belerang oksida tipis dari cerobong utilitas gedung vertikal.
Di hadapannya, berdiri Tuan Baskoro, sang pimpinan tertinggi Konsorsium Delta-57, yang sedang menatap hamparan lampu kota Jakarta Selatan dengan kedua tangan keriputnya mencengkeram erat hulu perak tongkat jalan bermotif naga kuno. Sastra mengunci pandangan retinanya pada pergerakan mekanis Tuan Baskoro, mendeteksi adanya degradasi biner sirkuit silikon yang memancarkan pendar polarisasi spektrum ungu tajam di sekitar garis epidermis leher pria tua tersebut.
Sumbu saraf di pelipis kanan Sastra melepaskan kejutan listrik berfrekuensi konstan, memicu takikardia kronis di dada kirinya hingga denyut nadi lehernya melesat melewati batas seratus sepuluh ketukan per menit. Namun, Sastra mengadopsi ketabahan kosmis sejati; ia mengisolasi rasa sakit fisika biologisnya sebagai perubahan atom yang netral, menolak membiarkan emosinya meracuni kedaulatan logikanya dari intervensi gelombang luar komputer induk yang memanipulasi ruang komunal ini.
Sastra melangkah dua tindak ke depan dengan irama antalgic gait yang pincang, mengeluarkan tiga buah paku baja empat inci dari dalam saku jaket hitamnya lalu menjajarkannya secara berurutan di atas permukaan meja kaca pembatas atap sebagai jangkar kognitif mutlak. "Kau mengundangku ke atas menara vertikal ini bukan untuk memeriksa kesehatan mentalmu, Tuan Baskoro. Kau cemas karena sirkuit pengawasan digitalmu mendeteksi adanya malafraktur data pada ingatan fotografis eidetikku sejak jam dua dini hari tadi."