SASTRA PEMBAWA JANJI

MS Ransyah
Chapter #7

Bab 6: Garis Tangan yang Terbelah

Sastra Aska mengunci pandangannya pada profil samping wajah dr. Aria Kirana di bawah pendar neon ruko Kalibata yang berkedip ajek setiap tiga detik sekali. Sastra mengernyitkan dahi, merasakan disonansi kognitif yang hebat di dalam korteks visualnya.

Sebagai pria yang dikutuk dengan memori fotografis absolut. Viral dengan sebuah kemampuan yang membuat masyarakat awam memujanya secara keliru sebagai seorang peramal ulung. Sastra mampu mengingat setiap lekuk wajah manusia yang pernah ditemuinya hingga skala milimeter. Namun, wanita di hadapannya ini adalah sebuah anomali geometris yang membingungkan sistem sarafnya.

Struktur tulang pipinya terlalu simetris, dan terdapat garis parut mikro yang tersamar dengan sangat rapi di sepanjang batas folikel rambut belakang telinganya, sebuah penanda klinis dari rekonstruksi wajah radikal yang massif.

Sastra kali ini kalah, sepertinya tidak mampu mengenali wajah itu. Wajah dr. Aria Kirana terasa sepenuhnya asing, dingin, dan artifisial. Namun, setiap kali Aria menggerakkan jemarinya atau mengembuskan napas, sebilah rasa déjà-vu yang teramat tajam menghantam dinding kesadarannya.

Seolah ada perasaan terdalam dari diri Sastra yang membawanya kembali oleh satu kenangan masa kecil di sebuah beranda yang penuh tanaman rambat. Sebuah momen di mana ia merasa utuh. Sastra seolah ingin kembali pada momen itu, namun ia tahu ia tidak bisa karena ia telah salah sejak awal merangkai jalannya untuk kembali ke sana. Momen yang seperti terjebak dalam keangkuhan memori fotografisnya dan semakin mengunci mati masa lalu yang asli.

Sastra tidak pernah tahu bahwa di balik topeng porselen hasil bedah rekonstruksi itu, Aria sedang menekan kepedihan emosionalnya sendiri demi menjalankan sebuah terapi kognitif radikal untuk menyembuhkan jiwa Sastra yang kian menyeleweng ini. Konsekuensi biologis dari takikardia ventrikuler yang berkepanjangan terlihat oleh Aria mulai menggerogoti sisa pertahanan fisik Sastra tanpa ampun.

Otot miokardiumnya yang dipaksa berdenyut melampaui seratus enam puluh kali per menit mulai mengalami kegagalan pompa akut, menyebabkan penumpukan cairan di dalam alveolus paru-parunya. Sastra mulai megap-megap, dadanya terasa seperti dilingkari oleh sabuk besi yang terus menyempit, sementara perfusi oksigen ke otaknya menurun drastis, memicu scotoma. Mungkin saja dalam hitungan menit, kilatan cahaya hitam-putih di sudut matanya yang mengancam akan merenggut kesadarannya.

Lihat selengkapnya