SASTRA PEMBAWA JANJI

MS Ransyah
Chapter #8

BAB 8: Mata Jalanan Di Bawah Beton Rajawali

Aria Kirana mengencangkan cengkeramannya pada pelat kuningan Prasasti Rajah Kala Cakra, menggunakan delapan sudut geometrisnya untuk menekan ujung-ujung saraf sensorik di telapak tangan kirinya sendiri. Ini adalah grounding tool yang kaku, sebuah taktik klinis untuk memutus rantai umpan balik kecemasan yang terancam melumpuhkan korteks prefrontalnya pasca menerima kiriman artefak menara Surabaya dari Tuan Baskoro melalui perantara Rian.

Rasa sakit lokal yang tajam dari sudut kuningan yang menembus sarung tangan lateksnya dimanfaatkan Aria sebagai jangkar visual dan mekanis untuk melakukan gatekeep terhadap sisa stabilitas mentalnya dari gempuran sensory overload kabut belerang. Di hadapannya, tubuh Sastra Aska perlahan melorot bertumpu pada tiang beton jembatan, napasnya berbunyi pendek akibat edema paru akut yang dipicu oleh iskemia miokardial intermiten.

Sudut pandang Sastra yang kian menyempit mendeteksi bintik-bintik gelap yang menari di atas wajah Aria. Halusinasi ini sebuah manifestasi dari hipoksia serebral stadium awal yang mulai mengikis sirkuit memorinya yang biasanya absolut. Otak fotografis Sastra merekam fluktuasi ini bukan sebagai akhir eksistensi, melainkan sebagai kegagalan matematis.

Lihat selengkapnya