SASTRA PEMBAWA JANJI

MS Ransyah
Chapter #9

Bab 8: Sinkronisasi Dua Pelat

Sastra Aska mengatupkan rahangnya begitu rapat hingga otot maseternya menegang kaku. Rasanya itu seperti menahan hantaman hipoksia yang kian agresif menggerogoti korteks serebralnya. Pandangan matanya yang dikutuk oleh kemampuan fotografis absolut kini menangkap setiap fraksi gerakan dr. Aria Kirana dalam gerak lambat yang menyakitkan. Saat Aria mengulurkan pelat kuningan Prasasti Rajah Kala Cakra ke arah dahi Boni. Seberkas cahaya dari lampu merkuri jalanan menembus celah beton flyover, menyinari sudut rahang Aria secara tegak lurus.

Otak Sastra, yang bertindak sebagai mesin pemroses citra berdensitas tinggi, secara otomatis melakukan komputasi antropometrik lapis kedua terhadap wajah wanita itu. Komputer mental di dalam kepala Sastra mendeteksi sebuah ketidakselarasan matematis yang mustahil; jarak antara kantus medial sepasang mata Aria dan lekuk filtrum di atas bibirnya memiliki rasio emas yang terlalu presisi. Sebuah tanda klinis dari jahitan rekonstruksi bedah maksilofasial pasca-trauma yang sengaja menyembunyikan struktur osteologi aslinya.

Sastra merasakan sebuah gelombang kejut kognitif yang lebih dahsyat dari sekadar takikardia. Kesadaran Stoikismenya dipaksa berhadapan dengan sebuah realitas biner: wajah di hadapannya adalah kebohongan anatomis yang dirancang dengan sangat rapi. Namun pola fluktuasi emosi yang terpancar dari cara Aria menahan napas adalah data otentik yang klop dengan memori masa kecilnya yang telah terkunci di siklus terdahulu.

Konsekuensi biologis dari iskemia miokardial yang belum terkompensasi kini mencapai fase kritis di dalam tubuh Sastra. Gelombang depolarisasi elektrik di dalam ventrikel jantungnya mulai pecah menjadi fokus-fokus ektopik yang kacau. Ini mulai memicu rentetan kontraksi prematur yang intermiten. Rasa sakit substernal yang menjalar ke skapula kiri membuat Sastra terpaksa berlutut di atas tanah yang basah. Kedua tangannya mencengkeram tanah berbatu untuk mempertahankan sisa poros tubuhnya agar tidak jatuh pingsan.

Lihat selengkapnya