Sastra Aska memaksa kedua lututnya yang gemetar untuk menumpu seluruh berat badan di atas aspal dingin di bawah Flyover Kalibata. Setiap tarikan napasnya terasa seperti menghirup pecahan kaca. Begitu menyayat jalur trakea hingga masuk ke dalam percabangan bronkus.
Takikardia ventrikuler yang mendera jantungnya kini berada pada fase plateau yang mematikan. Frekuensi denyut nadi yang bertahan di angka seratus enam puluh kali per menit, telah menguras cadangan ATP pada otot miokardium. Hal ini memicu pergeseran metabolisme seluler dari aerob menjadi anaerob secara masif.
Rasa sakit substernal yang menjalar hebat ke rahang kiri. Ketidak-nyamanan yang disertai oleh sensasi mencekik akibat edema paru kardiogenik, yang kian mendesak cairan plasma masuk ke dalam ruang alveolus. Namun, di tengah badai iskemia yang mengancam sirkuit otaknya, kemampuan fotografis absolut Sastra menolak untuk mati.
Sepasang matanya yang diselimuti skotoma perifer mengunci fokus pada dr. Aria Kirana yang sedang bergerak cepat di hadapannya. Aria sedang berlutut di samping tubuh Boni yang tak sadarkan diri, memeriksa refleks pupil anak itu dengan senter diagnosis. Pendar cahaya putih dari senter tersebut memantul secara tegak lurus, menembus lapisan tipis epidermis wajah Aria, mengekspos detail mikro yang selama ini luput dari pengamatan mekanis Sastra.
Otak Sastra yang bertindak sebagai mesin pemroses data visual berdensitas tinggi mulai melakukan dekripsi paksa terhadap struktur wajah wanita itu. Sebagai pria yang merekam setiap milimeter anatomi manusia lintas siklus, Sastra mendeteksi adanya disonansi antropometrik yang ganjil pada wajah Aria. Jarak interpupil yang sedikit bergeser dari rasio alami, orientasi sudut rahang bawah yang terlalu angular, serta penipisan jaringan lunak di atas tulang zigomatikum, adalah bukti empiris yang tidak bisa dibantah oleh sains.
Ini adalah hasil dari sebuah prosedur bedah rekonstruksi maksilofasial radikal berskala besar yang dikerjakan dengan presisi bedah tingkat tinggi. Kesadaran fotografis Sastra mendadak melemparkan sebuah berkas memori lama yang tersimpan di sudut terdalam hipokampusnya. Deja-vu sebuah fragmen wajah seorang gadis kecil yang tersenyum di balik rimbun tanaman rambat pada lini masa orisinal sebelum seluruh sirkuit waktu melipat dan membusuk.
Sastra tertegun di tengah rasa sakitnya. Garis-garis antropometrik wajah masa kecil itu, jika dihitung menggunakan algoritma pertumbuhan tulang tengkorak manusia, secara matematis tumpang tindih dengan proyeksi osteologi di balik topeng porselen dr. Aria Kirana saat ini. Sastra merasakan dadanya bergemuruh bukan lagi karena malfungsi elektrik jantung, melainkan karena sebuah hantaman disosiasi psikologis yang dahsyat.
Wanita yang selama ini mengamatinya dari kejauhan dengan jubah klinis yang dingin. Memantau setiap denyut nadinya bagaikan seorang subjek eksperimen laboratorium, adalah jiwa yang sama yang pernah ia berjanji untuk dilindungi hingga akhir waktu. Sastra mencoba membuka mulutnya, memaksakan pita suaranya yang lumpuh akibat vasokonstriksi untuk melisankan sebuah nama. Namun Aria mendahuluinya dengan sebuah gerakan kaku yang sepenuhnya dipandu oleh kalkulasi medis.