SASTRA PEMBAWA JANJI

MS Ransyah
Chapter #12

Bab 11: Retro-Causal Shockwave

Detak kronometer digital di dinding laboratorium lantai dua puluh Tower Palem berkedip ajek, memancarkan pendar merah neon yang memotong atmosfer klinis ruangan. Dr. Aria Kirana mengarahkan fokus matanya secara tegak lurus pada monitor osiloskop yang terhubung ke tubuh Boni. Kurva kelistrikan jantung anak itu tidak lagi menampilkan kompleks QRS yang normal.

Sekumpulan gelombang berfrekuensi ganjil yang strukturnya patah-patah secara geometris, menjadi sebuah manifestasi fisik dari interaksi materi seluler dengan distorsi spasial tingkat lanjut. Aria mencatat adanya fenomena agregasi eritrosit yang tidak wajar pada sampel darah Boni di bawah mikroskop electron. Dinding sel darah merah anak itu tampak menyatu secara paksa, membentuk konfigurasi biner yang menyerupai susunan angka nol dan satu.

Sastra Aska masih mempertahankan posisinya. Menyandarkan punggungnya pada lemari arsip besi yang dingin, untuk mengurangi beban kerja miokardiumnya yang kian melemah. Efek dari injeksi epinefrin otonom lambat laun mulai menyusut, meninggalkan sisa rasa terbakar yang pekat di sepanjang jalur pembuluh darah interkostal dadanya.

Namun, fokus Sastra terganggu oleh kemunculan sensasi fisik baru yang jauh lebih destruktif. Sebuah gelombang kejut retro-kausal bak sebuah gema sisa trauma fisik yang merambat mundur melintasi lapisan dimensi. Tiba-tiba saja Deja-vu menghantam korteks serebralnya dengan kekuatan mekanis yang luar biasa.

Sastra merasakan sensasi vertigo yang hebat, diikuti oleh persepsi sensorik bahwa seluruh struktur tulang tengkoraknya sedang ditekan oleh beban seberat ratusan atmosfer. Di dalam benaknya yang dikutuk oleh ingatan fotografis absolut. Memori visual mengenai runtuhnya menara komando Surabaya di akhir lini masa terdahulu tiba-tiba saja terproyeksi kembali dengan kejernihan seratus persen.

Itu bukan sekadar kilas balik psikologis. Sastra merasakan rasa sakit yang nyata dari cedera remuk tak terlihat pada jaringan lunak di bahu kirinya. Seolah-olah serpihan beton dari masa lalu baru saja menghantam fisiknya di detik ini juga. Jantungnya merespons distorsi memori ini dengan melontarkan rentetan takikardia ventrikuler baru. Memaksa Sastra untuk menahan napas demi mereduksi pelepasan katekolamin dari kelenjar adrenal.

Lihat selengkapnya