SASTRA PEMBAWA JANJI

MS Ransyah
Chapter #13

Bab 12: Kronologi yang Membusuk

Layar monitor katoda di sudut meja kerja dr. Aria Kirana kembali berkedip horizontal. Ditengah keheningan sesekali memancarkan pendar hijau fosfor yang memotong kegelapan sudut laboratorium. Deretan kode biner nol dan satu yang semula merekam fluktuasi saraf Sastra Aska mendadak berhenti, lalu menyusun diri secara instan menjadi baris matriks koordinat spasial baru.

Pengamatan fotografis absolut Sastra langsung mengenali nilai numerik yang tertera pada baris dekripsi kuantum tersebut: -6.257, 106.857. Angka lima puluh tujuh yang tersisip kaku di balik pecahan desimal itu merujuk tepat pada titik koordinat geografis peron satu Stasiun Kalibata. Numeralnya menandakan bahwa pusat gravitasi The Glitch Continuum telah bergeser dari kolong flyover menuju jalur rel kereta api malam.

Aria melangkah kembali menuju meja periksa baja tempat tubuh Boni terbaring rigid. Mengabaikan luka bakar melepuh di telapak tangan kanannya, ia meraba arteri karotis anak itu untuk melakukan evaluasi klinis fase lanjut. Melalui observasi taktil yang dingin, Aria mendeteksi adanya perubahan densitas ekstrem pada jaringan integumen Boni.

Kulit anak itu tidak lagi memiliki elastisitas biologis; sebaliknya, jaringan selularnya mulai mengeras, mendingin, dan memancarkan kilau kaku dengan tekstur menyerupai logam kuningan Prasasti Rajah Kala Cakra yang telah musnah. Ini adalah patologi spasial tingkat kritis, di mana hukum asimilasi materi memaksa anatomi Boni bertindak sebagai medium padat baru untuk mengunci sisa pengulangan kuantum.

Sastra merasakan sirkuit otaknya mulai mengalami degradasi fungsi akibat hantaman gema retro-kausal lapis kedua yang merangsek masuk ke lobus paroksimalnya. Kemampuan fotografisnya dipaksa memproses tumpang-tindih memori dari dua puluh siklus berbeda secara simultan. Bias menciptakan tekanan intrakranial yang begitu hebat hingga membuat sepasang bola matanya terasa seperti hendak meletus dari soket orbitalnya.

Lihat selengkapnya