SASTRA PEMBAWA JANJI

MS Ransyah
Chapter #14

Bab 13: Peron Utama dan Keheningan 19-Hertz

Sastra Aska merasakan penurunan perfusi oksigen ke dalam sel-sel otaknya telah mencapai ambang batas nekrosis iskemik akut, sebuah konsekuensi biologis yang tidak dapat dihindari ketika badai listrik torsades de pointes memaksa ventrikel jantungnya bergetar tanpa memompa volume darah yang memadai.

Sastra sesekali merasakan "kebas yang aneh" dan juga sensasi berat di tungkai kiri dan wajah kirinya, seolah-olah ada organ silika tak kasat mata yang membayangi kulit organiknya. Ketika ia meraba pantulan dirinya, sudut mata Sastra menangkap bias arkeologi arus transmisi keperakan temporal.

Kini Sastra sesekali merasakan 'kebas yang aneh' dan sensasi berat dari tungkai kiri dan wajah kirinya. Setiap langkah kaki yang ia ayunkan keluar dari lobi Tower Palem menembus kegelapan malam Kalibata terasa seolah-olah ia sedang menyeret sebongkah semen padat yang tertanam di dalam rongga pelvisnya. Sastra bahkan sampai merasa bahwa ini bukan tubuhnya.

Kemampuan fotografis absolut Sastra, yang biasanya bertindak sebagai pemindai realitas berdensitas tinggi. Kini mulai mengalami distorsi katastrofik akibat iskemia lobus oksipitalis. Geometris jalanan yang ia lalui tidak lagi tercatat sebagai garis-garis linear. Trotoar di sepanjang Jalan Raya Pasar Minggu juga tampak melengkung dan patah pada sudut-sudut non-Euclidean yang mustahil. Tanda seolah-olah ruang tiga dimensi di sekeliling mereka sedang dikunyah oleh rahang tak terlihat dari entitas kuno yang bersembunyi di balik kabut hitam.

Di sampingnya, dr. Aria Kirana sedang terus berjalan dengan kekakuan seorang opsir forensik yang mengabaikan pembusukan lingkungan di sekitarnya. Setengah menyeret tubuh Boni yang jaringan kulitnya kini telah mengalami pengerasan parsial dengan warna kuningan metalik yang masih kaku. Aria mempertahankan fiksasi kognitifnya melalui disiplin Stoikisme yang paling ekstrem. Wajah hasil rekonstruksi bedah maksilofasialnya sama sekali tidak menunjukkan kontraksi otot emosional.

Sepasang mata Aria yang tersembunyi di balik lensa kontak gelap, tetap terfokus mendeteksi tanda-tanda asfiksia spasial pada tubuh Sastra. Aria mengamati bagaimana otot sternokleidomastoideus di leher Sastra berkontraksi secara berlebihan. Dimulainya sebuah pertanda klinis bahwa sistem pernapasan Sastra telah beralih menggunakan otot bantu napas sekunder. Mulai collaps akibat hilangnya elastisitas alveolus paru-paru yang tersedak oleh pengentalan atmosfer Jakarta.

Ketika mereka melintasi gerbang besi Stasiun Kalibata yang telah ringsek dan berkarat dalam hitungan detik akibat percepatan entropi temporal. Keheningan yang turun bukan lagi sekadar absennya gelombang suara akustik, melainkan sebuah vakum kosmis yang mencekam. Atmosfer di sekitar Peron Satu terasa begitu padat. Membuat seakan-asap beracun dari pembakaran materi organik telah membeku di udara.

Lihat selengkapnya