Blurb
Dengan laras bahasa yang agung, kata penghubung arkais, peribahasa berbunga, serta ungkapan penuh kias, setiap kisah menghadirkan warna sastra klasik yang memikat. Namun di balik keindahan bahasanya, terselip tingkah para lebai yang terkadang lebih pandai berpetuah daripada mempraktikkan petuahnya, saudagar yang lihai berhitung hingga menghitung untung dari bayang-bayang, serta hulubalang yang gagah di medan cerita tetapi kadang gentar menghadapi perkara sepele.
Di antara pasar yang riuh, balai kerajaan yang penuh muslihat, kampung yang sarat petuah, dan pelabuhan tempat saudagar datang membawa kabar dari negeri jauh, pembaca diajak menyaksikan manusia dengan segala kelucuan, kesombongan, kebijaksanaan, dan kelemahannya.
Sastra Tinggi Nan Jenaka bukan sekadar kumpulan cerita pendek, melainkan sebuah permainan bahasa yang mempertemukan keagungan sastra lama dengan humor yang segar. Setiap kisah menyimpan sindiran, setiap kelucuan membawa hikmah, dan setiap petuah kadang justru menjadi bahan tertawaan.
Sebab, sebagaimana kata orang-orang tua dahulu: "Hidup ini ibarat perahu di tengah muara; jikalau terlalu serius mendayung, niscaya lupa menikmati riak air yang menggelitik lambung."