Sastra Tinggi Nan Jenaka

Amrullah Ibrahim
Chapter #1

Kisah pertama

“Alkisah seorang lebai nan gemar menjamu selera memperdaya saudagar tamak dengan menjual seekor burung nuri celopar yang kononnya warak dan fasih mengucap dalil dari Tanah Sham. Namun di hadapan khalayak, si burung membongkar segala rahsia dapur lebai!”

🥀 ─── 🌹 ─── 🥀


=== BAHAGIAN I: TEMPAYAN TAPAI DAN GEMURUH LAMBUNG YANG SUNYI ===

“Tiada siksa yang lebih pedih bagi seorang alim selain mencium harum kuah kenduri dari surau yang tak diundang.” — Catatan Tinta Teluk Nibung

─── 🌹 ───

SEBERMULA maka tersebutlah suatu kisah di Negeri Cempaka Sari nan aman damai lagi makmur airnya. Negeri itu bersandar pada muara sungai yang airnya berkilat keemasan tatkala matahari terbit di balik bukit kemuning, tempat perahu-perahu pinisi dari seberang laut bersauh menurunkan muatan cengkih, kapur barus, dan sutera Cambay. Adapun di celah deretan kedai papan beratap rumbia di hujung pekan itu, diamlah seorang lebai yang amat masyhur perawakan tubuhnya ke segenap ceruk kampung, bernama Lebai Kudus.

Maka akan Lebai Kudus ini, tubuhnya bagaikan tempayan tapai pulut hitam—apabila berjalan ke kiri bergoyanglah timbunan lemaknya ke kanan, apabila melangkah ke kanan bergoncanglah perutnya ke kiri laksana ombak musim tengkujuh memecah tebing karang Tanjung Balai. Sungguhpun sarbannya setinggi sarang tempua tergantung di pucuk dahan pulai, putih bersih tiada sebutir habuk pun berani hinggap, dan janggutnya yang lebat bagai ijuk enau diurut licin berjam-jam dengan minyak kelapa dara bercampur perahan daun pandan wangi, adapun di balik rongga dadanya bergolaklah satu kelemahan nan tiada tertahan: nafsu melahap pulut kuning berkuah santan kental, gulai kawah daging kerbau bertabur kerisik, dan kari kepala ikan jenahak bertumis rempah ratus!

Namun malang seribu kali malang melanda pada musim kemarau kali ini. Sudah genap dua purnama tiada seorang pun hartawan di Pekan Cempaka Sari sudi mengadakan kenduri arwah ataupun doa tolak bala. Orang-orang kaya kian gemar menjemput kadi muda berhidung mancung dari seberang lautan yang fasih melafazkan kalam dengan langgam serak-serak basah, sementara Lebai Kudus dibiarkan terperuk di atas balai-balai rumah panggungnya yang reot dimakan anai-anai. Selama tiga hari tiga malam, tiada sebutir nasi pun menjamah kerongkongnya melainkan ubi rebus dingin yang pahit di lidah dan sisa kerak dodol kering yang disorokkannya di dalam tempayan berdebu.

Duduklah Lebai Kudus bersandar pada tiang seri rumahnya di tepi jendela, merenung ke arah jalan pekan sambil tangannya yang montok mengusap-usap perutnya yang berbunyi melolong laksana lolongan serigala lapar di hutan bakau. Setiap kerutan di dahinya melukiskan kepedihan yang bukan sekadar kepedihan usus kosong, melainkan keperitan jiwa seorang lelaki yang merasa martabatnya sedang diinjak-injak oleh zaman yang kian materialistis.

“Duhai nasib si badan gendut!” keluh Lebai Kudus bercakap sendirian, suaranya bergetar antara nada ratapan seorang sufi dan erangan seorang pemalas yang kehilangan paha ayam panggang. “Mengapakah orang kaya di pekan ini kian kikir laksana mengepal tahi minyak? Tiada sedekah pulut kuning bertinta kunyit, tiada semangkuk gulai kawah berlemak manis! Jika tiada muslihat halus ditenun dengan benang akal yang licik, nescaya perutku ini kempis laksana kulit kerupuk lekor dihempap lesung batu penumbuk sambal belacan!”

Kala matanya terpejam menahan rasa pedih di ulu hati, melayanglah ingatan sang lebai ke masa empat puluh tahun lampau di Pesantren Teluk Nibung. Di sanalah rahasia paling kelam yang membentuk sosoknya hari ini bermula. Kala itu ia masih bergelar si 'Kudus Kurus'—anak yatim piatu berleher jenjang dengan tulang rusuk menonjol bagai sangkar ayam. Setiap kali waktu santap tiba, anak-anak saudagar kaya berbondong-bondong membuka rantang tembaga berisi paha kambing guling berbau cengkih dan ketumbar, sementara Kudus terpaksa merayap ke dapur surau tua, mengorek kerak nasi gosong di dasar kawah belanga yang telah berpasir abu kayu arang.

Pernah suatu malam pada malam Nisfu Syaaban, bau kari kambing milik anak saudagar rempah menyengat lubang hidungnya hingga air liurnya menetes membasahi tikar sembahyang. Ketika ia memberanikan diri menatap ke dalam mangkuk perak itu, sang anak saudagar mencemuhnya dengan tawa sinis seraya berkata: 'Orang miskin cukup mengunyah zikir; perut yang lapar itu perisai zuhud, hai Kudus!' Malam itu Kudus menangis tersedu-sedu sambil membebat perutnya yang perih dengan sobekan kain sarung koyak. Di hadapan bayang-bayang pelita minyak jarak yang bergoyang ditiup angin laut, ia bersumpah di dalam sanubarinya: *'Demi zat yang menguasai langit dan bumi, apabila janggutku telah memutih dan serban telah melilit kepalaku, aku tidak akan membiarkan lidahku menelan ludah basi kemiskinan lagi! Perutku ini harus dimuliakan laksana singgasana raja!'*

Kini, sumpah masa muda itu menjelma menjadi raksasa buas di dalam lambungnya. Perut buncitnya bukan sekadar timbunan lemak makanan percuma, melainkan benteng kebanggaan rapuh yang didirikannya untuk menepis ingatan nista si Kudus Kurus pengemis kerak liwet. Dan apabila lambung itu kini kosong selama tiga hari, momok kemiskinan purba itu bangkit kembali mengacungkan jari ke mukanya, menuntut pembalasan.

🥀 ─── 🌹 ─── 🥀


=== BAHAGIAN II: UNGGAS RIMBA DI BALIK SELUBUNG WANGI KASTURI ===

“Burung liar memandang manusia bukan dari serbannya, melainkan dari sisa makanan yang melekat di janggutnya.” — Amsal Rimba Bukit Cempaka

─── 🌹 ───

Maka bangkitlah Lebai Kudus dari lamunannya dengan mata yang menyala bagai mata kucing hutan mengintai anak puyuh. Segenap sendi-sendi dagingnya yang bergayut terasa panas. Siasat licik mulai berputar di benaknya laksana pusaran air di muara Kuala Cempaka. Jikalau ayat-ayat tahlil tiada lagi laku memikat selera orang kaya, maka keajaiban mistis dari alam gaiblah yang mesti dipentaskan ke muka gelanggang!

Arakian, sang lebai pun mengenakan terompah kayunya yang berbunyi *kelotok-kelotok* memecah keheningan rimba belukar di kaki Bukit Cempaka. Di tangannya tergenggam seutas jerat benang sutera berlumur getah terap dan sebiji pisang emas yang ranum. Tiadalah lama ia menunggu di bawah naungan pohon meranti rendang, hinggaplah seekor burung nuri hijau berkepala merah darah di dahan rendah. Burung itu tampak pongah, paruhnya bengkok hitam legam berkilat, dan sepasang matanya bulat mengecil laksana mata tukang intip.

Dengan kecekapan seorang lebai yang biasa menangkap ayam sesat jemaah surau, direntapnya jerat getah itu. Burung itu menggelepar riuh seraya mematuk jempol kaki Lebai Kudus hingga berdarah. 'Aduh, celaka benar unggas tak beradab ini!' pekik Lebai Kudus sambil mengikat kaki burung itu dengan tali ijuk. Burung itu bukannya ketakutan, melainkan membalas dengan bunyi parau yang mengejek: *'Prekkk! Jempol hitam! Jempol busuk!'*

Maka dibawanya burung itu pulang ke terataknya yang sempit. Burung itu tiadalah pintar seperti burung murai istana, melainkan tabiat aslinya tersangat celopar, pendendam, dan suka meniru bunyi-bunyi kotor di sekitarnya—terutama bunyi orang bersin, orang mendengkur, dan desah sendawa berbau bawang. Selama tiga hari tiga malam berikutnya, teratak Lebai Kudus berubah menjadi madrasah unggas paling aneh di muka bumi.

Di bawah temaram pelita minyak jarak yang berkelip-kelip di sudut dapur, Lebai Kudus duduk bersila menghadap sangkar buluh. Tangannya memegang sepotong pisang raja sebagai umpan, sementara wajahnya dipasang dengan raut khusyuk yang dibuat-buat. 'Wahai unggas yang diberkati arwah para wali,' bujuk sang lebai dengan suara bergetar yang ditekan-tekan agar terdengar merdu laksana seruling gembala, 'ulangilah kata-kata ini: *Subhanallah... Ya Tuan Orang Kaya Dermawan ahli surga... Murahkanlah rezeki sang lebai dengan paha kambing masak kurma...*'

Burung nuri itu memiringkan kepalanya yang merah saga. Matanya yang tajam menatap lurus ke dalam lubang hidung Lebai Kudus yang kembang kempis kelelahan. Bukannya mengulang zikir, burung itu malah mengibaskan sayapnya hingga debu abu dapur berterbangan ke dalam mata sang lebai, lalu memekik lantang: *'Prekkk! Subhanallah! Beri pisang emas sebiji! Lebai buncit suka tidur! Preettt... pfffftt!'*—burung itu lalu meniru bunyi kentut Lebai Kudus yang lepas tanpa sengaja tatkala sang lebai bangkit membetulkan letak kain sarungnya yang terloncat.

Terbelalaklah mata Lebai Kudus. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur dari pelipisnya membasahi janggut minyak kelapanya. Ia merasa seolah-olah burung itu bukan sekadar unggas rimba, melainkan jelmaan arwah penuntut hutang yang dikirim langit untuk memperolok-olok niat buruknya. 'Kurang ajar punya burung! Tiada takutkah engkau pada laknat para malaikat?' bentak Lebai Kudus seraya mengacungkan lidi kelapa.

Namun burung nuri itu hanya melompat ke tenggeran atas sangkar seraya berputar-putar dengan lincah, memandang sang lebai dengan tatapan penuh kesinisan hewani. Di balik tempurung kepalanya yang kecil, burung itu telah mengamati segala tindak-tanduk sang lebai selama berhari-hari: bagaimana sang lebai pura-pura berpuasa di hadapan orang kampung tetapi mengendap-endap di bawah ketiak dapur pada tengah malam untuk mengorek sisa dodol basi berjamur; bagaimana sang lebai mendengkur bagai kerbau tercekik leher tatkala azan Subuh berkumandang; dan bagaimana sang lebai berangan-angan menghitung kepingan dinar emas di atas tikar sembahyangnya.

Akan tetapi Lebai Kudus bukanlah lebai yang mudah berputus asa di hadapan selera perutnya. 'Jika lidahmu belum fasih berzikir,' bisik sang lebai tersenyum simpul dengan kerutan licik di sudut bibirnya, 'maka hidung orang kaya yang bakhil itu yang akan kupikat dengan harum kemenyan syurga!'

Lihat selengkapnya