Sastra Tinggi Nan Jenaka

Amrullah Ibrahim
Chapter #5

Kisah Kelima

Muslihat Membeli Kapling Firdaus dengan Peti Zakat Negeri

"Di bawah sengatan terik pelabuhan bandar hilir, Khoja Dinar—saudagar kikir yang dihantui mimpi kalajengking kubur—membawa peti emas hasil jarahan baitulmal untuk membeli sertifikat kapling surga dari Lebai Makruf, seorang fakir compang-camping bermulut naga. Pertemuan dua pendosa berbalut silat lidah syariat ini kian menggelikan tatkala Hulubalang Rangga Jayaleksana menyergap dengan perut keroncongan."

🥀 ─── 🌹 ─── 🥀


Bagian I: Langkah yang Menggelikan di Bawah Terik Matahari

Derak Terompah Kayu, Peluh Ketakutan, dan Kemilau Emas Haram

─── 🌹 ───

Alkisah, maka tatkala matahari tepat tegak di ubun-ubun langit bandar hilir—seumpama kawah tembaga mendidih yang ditumpahkan ke atas kepala sekalian makhluk—berjalanlah Khoja Dinar dengan langkah yang teramat canggung lagi menggelikan hati para kuli pelabuhan. Tubuhnya yang tambun laksana tempayan minyak kasturi bergoyang ke kiri dan ke kanan, meniru langkah para pembesar istana yang lazimnya bertitah di atas peterana gading; namun alangkah malang gerak-gerik itu, sebab sepasang lututnya yang gementar tak henti-hentinya berlaga bagai dua alu penumbuk padi. Di atas pundak kirinya yang berlapis sutra Gujarat kusam, terpanggul sebuah peti kayu jati berukir sulur bayung, berpateri lempengan kuningan tebal, yang berkilau-kilau menyilaukan mata di bawah sengatan hawa terik.

Adapun peti itu tiada lain berisi keping-keping dinar emas tulen, berkilau laksana sisik ikan tenggiri dihempas buih gelombang. Kendatipun demikian, demi mencium bau semerbak logam mulia tersebut, tiada secuil pun ketenteraman merayap di dada sang saudagar. Sebaliknya, setiap kali terompah kayunya menghentak debu jalanan berbatu kerikil, hatinya berdegup kencang bagai tambur perang tentara Siam. Khoja Dinar melirik ke kiri dan ke kanan dengan ekor mata yang jelalatan, seolah-olah dari balik rumpun pandan berduri atau dari celah kedai tuak yang reyot bakal melompat serombongan algojo kerajaan membawa tali gantung.

"Aduhai celaka tiga belas, mengapa peti ini kian jauh kupanggul kian memberat laksana menggendong bangkai gajah bunting?" gumam Khoja Dinar seraya menyeka peluh kental yang menganak sungai di lipatan lehernya yang bertingkat tiga. Peluh itu terasa asin bercampur rasa getir yang asing di lidahnya—getir kecemasan seorang pendosa yang tiba-tiba teringat akan lubang kubur.

Syahdan, beberapa depa di muka pintu gerbang pekarangan yang dipagari bilah-bilah bambu lapuk, berdirilah sebuah dangau berdinding gedek yang telah doyong ke barat. Di sanalah bertapa seorang lebai yang masyhur kepandaian lidahnya ke seantero mukim: Lebai Makruf al-Kerupuki. Sang lebai tengah duduk bersila di atas balai-balai beralaskan tikar pandan yang telah rombeng di makan gegat. Jubahnya yang hijau pupus telah bertukar warna menjadi kelabu dekil, penuh tampalan kain perca dari tujuh belanga yang berbeda, namun di lehernya tergantung seutas tasbih kayu gaharu sebesar biji salak yang digesek-gesekkan dengan irama yang teramat takzim.

Maka tatkala daun pintu pagar yang berkeriut itu didorong oleh sang saudagar, Lebai Makruf tiada segera berpaling. Ia tetap memejamkan mata setengah jalang, seraya mendengus ke udara. Hidungnya yang bengkok laksana paruh burung gagak tua seketika mengendus aroma yang tiada asing baginya: aroma kepingan logam yang digosok minyak kelapa dan aroma ketakutan maut dari seorang kaya yang dangkal akalnya. Sudut bibir sang lebai pun tertarik sedikit ke samping, membentuk seringai miring nan tipis—sebuah senyum serigala lapar yang baru saja melihat seekor kibas gemuk berjalan sukarela menuju kancah sembelihan.

🥀 ─── 🌹 ─── 🥀


Bagian II: Retrospeksi di Gudang Baitulmal & Racun Kalajengking Kubur

Kenangan Malam Hujan Lebat dan Teror Siksa Pasca Kematian

─── 🌹 ───

Hatta, tatkala kakinya menginjak pelataran dangau yang bertabur kulit kerang kering, sukma Khoja Dinar mendadak ditarik mundur oleh pusaran ingatan yang dingin lagi mengerikan. Tiga malam sebelum hari yang terik ini, tatkala hujan lebat mencurah di atas bumbung genting kota bandar dan petir membelah cakrawala bagai pedang malaikat maut, Khoja Dinar berdiri sendirian di ruang bawah tanah gudang Baitulmal kerajaan.

Kala itu, selaku bendahara titipan yang dipercaya memegang kunci peti derma bagi anak-anak yatim dan fakir jompo, tangannya yang licin oleh minyak zaitun telah mencongkel segel lilin lak merah bertanda cap mohor negeri. Di dalam gelap gulita yang hanya diterangi setunggul pelita minyak jarak, ia menimbang emas zakat itu dengan timbangan yang dacingnya telah ia kikir timahnya sedemikian rupa. Setiap kali seratus dinar dimasukkan ke dalam pundi-pundi fakir, dua puluh dinar diam-diam ia selipkan ke dalam lipatan bengkungnya. Di luar jendela jeruji besi, ia masih mendengar sayup-sayup ratap tangis seorang janda tua beranak lima yang merintih meminta secupak beras di muka balai penghulu. Namun kala itu, hatinya beku laksana batu cadas di dasar jurang. Ia berbisik pada dirinya sendiri dengan logika pedagang kelontong: 'Bukankah Tuhan Maha Pengampun lagi Maha Murah hati? Selagi aku sanggup mendirikan surau kecil di sudut lorong kelak, tentu dosa mengerat seperlima emas zakat ini hanyalah perkara remeh seumpama debu di atas tunggul!'

Lihat selengkapnya