Satan's Dining Table

Asfar Asfahan
Chapter #1

Chapter 1: Tamu Asing

Ada dua orang asing yang paling kubenci di dunia ini, dan sialnya, Bapak selalu memaksaku keluar kamar setiap kali mereka datang yang kadang tak menentu. Panggil mereka Pakde dan Bude, begitu kata Bapak dan Ibu sejak aku bisa mengingat suara parau mereka.


Setiap kali sepasang suami-istri itu datang membawa kardus-kardus loakan dari kota, rumah kecil kami mendadak terasa sempit dan pengap. Bau busuk minyak angin murah bercampur balsem yang menguar dari tubuh ringkih perempuan yang kupanggil Bude itu selalu sukses membuat lambungku mual, seolah-olah dia membawa wabah kemiskinan yang menjijikkan ke rumah kami.


"Jonas, salim dulu sama Bude," bisik Ibu sambil mendorong bahuku ke depan. Aku bergeming, mengeratkan peganganku pada tiang pintu kamar, menolak keras menyentuh kulit telapak tangannya yang kasar dan pecah-pecah akibat keseringan memeras baju majikan.


Aku sudah cukup bahagia dengan sejumput keceriaan masa kecilku. Di sini. Di desa Sukatani. Sebelah selatan dari kota yang dulu pernah menjadi Ibu kota negara pada awal masa kemerderdekaan. Ada rasa yang terbesit dalam dada, seolah pasangan yang baru kukenal sebagai kerabat dari Ibuku ini, adalah “Alien” yang pantas untuk diberi jarak. 

Bukan tanpa alasan, mereka datang dengan penampilan yang kurang layak untuk mendapatkan secuil perhatianku. Meskipun saat itu usiaku baru beranjak 7 tahun, tapi aku bisa melihat kesenjangan yang menganga lebar diantara keluarga kami.


Keluarga kecil kami bisa dibilang berkecukupan. Rumah adat jawa yang luas. Halaman dan kebun yang setara 2 lapangan futsal. Belum lagi hamparan sawah yang berundak indah di sepanjang punggung bukit “Artomoyo”. Sisa peninggalan sistem irigasi zaman kolonialisme. 


Semua itu memberikan aku rasa aman dan nyaman bersanding dengan kasih sayang dari Bapak dan Ibu. Orang tuaku hanyalah petani yang hidup dengan kesederhanaan. Di pagi hari sebelum berangkat ke ladang, sajian khas selalu terhidang di dipan kayu.


Ketela rebus, pisang goreng, dan kopi pahit hitam tidak pernah luput melewati kerongkongan Bapak yang jenjang dengan jakun menyembul mancung di lehernya. Sedangkan Ibu yang biasa memakai daster batik dengan rambut dicepol, selalu memberikan senyum hangatnya pada kami, sesaat sebelum Bapak berangkat dengan motor Astrea hitam antiknya, dan aku yang siap dibonceng dibelakangnya ke sekolah.


Tapi, di minggu pagi itu pandanganku teralihkan dengan kedatangan tamu asing. 2 ojek motor RX-King memecah keheningan dengan suara “cemprengnya” di pelataran rumah. Bapak dan Ibu menyambutnya bagai pahlawan yang datang dari medan tempur. Tapi, aku hanya bersembunyi di balik badan Ibuku yang dasternya masih bau pewangi pakaian.


“Jon …, jangan malu-malu. Sini, Bude bawa oleh-oleh dari pasar.” Seketika itu, tangan kurusnya melepaskan tali rafia yang membungkus kardus bekas mie instan itu. “Nih, ada mainan truk pengangkut barang, nanti biar Bude ikat sama tali, ya, biar kamu bisa tarik.”

Lihat selengkapnya