Angin desa berembus pelan di sepanjang jalan. Bulir-bulir air ikut membaur bersama angin hingga membuat jalanan desa berkabut. Weni merapatkan jaket bututnya, matanya berkeliaran memastikan tidak ada siapa pun yang mengikutinya.
Srekkk…
Weni memalingkan pandangan ke arah barisan pohon yang terlihat samar. Napasnya mulai memburu. Dengan tangan gemetar, ia mengeluarkan korek yang di bagian belakangnya terdapat lampu kecil. Weni mengarahkannya ke sumber suara. Cahaya senter itu bergerak ke sana kemari, mencari sesuatu yang mungkin saja baru saja lewat di antara semak belukar.
Tidak ada apa pun.
Entah cahaya senter itu tidak mampu menjangkau terlalu jauh, atau memang tidak ada siapa pun di sana.
Weni berjalan tergesa-gesa. Sepatu yang dikenakannya beberapa kali terantuk batu hingga membuatnya meringis kesakitan.
Di bawah pohon beringin tua, sebuah papan pengumuman kayu yang hampir lapuk masih terlihat berdiri tegak. Weni kembali memandang ke sekeliling, memastikan tidak ada siapa pun di sekitar sana.
Sorot matanya berhenti pada kaca jendela Kantor Desa.
Entah karena adrenalinnya sedang memuncak atau memang dirinya mulai berhalusinasi, seseorang seperti baru saja lewat dari dalam ruangan itu.
Weni menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya yang kering. Bulir keringat mulai menetes di pelipisnya.
Kantor Desa itu terlihat begitu suram. Mungkin karena jarang didatangi dan hanya ramai pada acara-acara tertentu, bangunannya terlihat terbengkalai. Lumut bahkan sudah mulai menghiasi dinding-dindingnya.
Weni menatap selebaran kertas yang ditempel asal. Kertas itulah alasan kenapa dirinya sampai datang ke sini. Ia sudah sering mondar-mandir melihat selebaran tersebut sampai akhirnya tidak bisa lagi menahan diri.
Selembar kertas itu terlihat sederhana. Sudut-sudutnya hanya diperkuat dengan selotip kuning yang sudah tampak usang, dan hanya berisi satu kalimat singkat:
“Mencari pekerja Warung Sate Sati.”
Weni berdiri mematung. Napasnya tertahan di dada, memikirkan rencana gila yang ada di kepalanya.
Jari-jarinya yang kasar karena pekerjaan di ladang meraih sudut kertas itu. Weni membaca kalimat tersebut beberapa kali, seolah kata-kata di sana mampu menawarkan keajaiban dari kemiskinan yang selama ini mencekik lehernya.
Weni melipat selebaran itu dan menyelipkannya ke saku bajunya.
Angin malam terasa semakin dingin. Berkali-kali Weni merapatkan jaket butut yang resletingnya sudah lama copot, berharap mendapatkan sedikit kehangatan. Namun, di dalam dadanya, debar harapan terasa begitu nyata.
Ia berharap satu lembar kertas itu mampu membawa perubahan besar.
Weni membetulkan tali tasnya yang hanya berisi beberapa lembar pakaian dan uang dari celengan ayam yang ia pecahkan siang tadi. Sekali lagi, ia memantapkan hati untuk minggat dari desa ini.
Hari sial.
Baru saja Weni melangkah menjauh dari Kantor Desa, di seberang jalan dirinya berpapasan dengan seseorang yang ia kenal. Belum sempat Weni bersembunyi, sorot senter sudah lebih dulu menangkap wajahnya.
“Weni, mau ke mana?”
Pak Tejo menurunkan senter yang dibawanya. Matanya menyelidik, menunggu jawaban atas pertanyaannya.
“Em... ke rumah teman, Pak.”
Weni menggenggam tali tas ranselnya erat-erat hingga buku jarinya memutih. Kepalanya menunduk, berusaha menyembunyikan kebohongan dari sorot matanya.
“Kok rapi? Bawa tas gede lagi. Kamu mau minggat?”
Dorr!!
Sekali tebak langsung benar.
Weni yang semula terlihat kikuk seketika mengubah ekspresinya menjadi dingin. Ia melihat kembali jam di tangannya, lalu mendengus kesal.
“Kalau saya mau minggat, kenapa, Pak? Toh, di sini saya hidup susah. Saya mau ke kota, mengubah nasib hidup saya.”
Mendengar itu, Pak Tejo membulatkan mata, seolah baru teringat sesuatu.