SEBERAPA PUN tengik dan busuknya kota ini, ia telah menjadi saksi perjalanan hidupku sejak lahir, tumbuh, jatuh, hingga patah. Namun, seindah apa pun kenangan yang tersimpan, aku takkan mengubah keputusanku untuk pergi dari sini. Mulai hari ini, entah sampai kapan.
Katakanlah aku seorang pria pengecut yang berlarut-larut dalam kesedihan dan memutuskan minggat setelah ditolak perempuan. Bahkan mungkin aku tak pantas disebut “laki-laki”. Terserah kalian saja lah. Nah, ‘kan, bahkan aku telah menggunakan frasa yang identik dengan kaum hawa. Memang tidak lakik sama sekali.
Sebelum benar-benar pergi, kuputuskan untuk berjalan-jalan sebentar. Lagi-lagi, ini adalah keputusan bodoh karena berjalan di tengah kota yang mataharinya ada lima sama saja menyiksa diri sendiri. Apalagi jalan rayanya yang tak pernah sepi pengendara, selalu macet meski saat jam kerja. Tak apa-apa lah. Di kota selanjutnya mungkin aku akan merindukan polusi biadab yang penuh debu dan sumpah serapah ini. Mungkin.
Setelah terjebak di traffic light selama tiga kali lampu merah, aku dan motorku berjalan melewati patung Pak Karno yang berdiri kokoh menghadap jalan layang. Ah, si pria kharismatik nan flamboyan. Mujur betul nasibnya hingga bisa rutin gonta-ganti pasangan. Sedangkan aku? Satu saja gagal melulu.
Aku terus melajukan motor melewati Jalan Cakrawala dan Amarta, kemudian dibuat mencelos tepat ketika melewati kanal besar di pertigaan Indraprasta. Kanal yang menjadi saksi perjumpaan pertamaku dengan Ayana saat menyaksikan gemerlap bridge fountain, hingga menjadi dua manusia norak saat menyaksikan pasar apung sepulang dari car free day. Kanal yang juga menertawakan ketololanku karena berdoa ingin menikah dengan Ayana tepat sebelum melepaskan lampion, padahal Ayana baru saja memproklamasikan bahwa dia sudah menjadi istri orang.
Ah, Ayana... dialah alasanku mantap ingin meninggalkan kota ini. Setiap jengkal tanah yang kulewati selalu mengingatkan tentangnya. Tentu saja, sebab ia sering merepotkanku minta diantar ke mana-mana. Aku tentu langsung mengiyakan, disusul adegan belingsatan memilih pakaian—padahal akhirnya cuma pakai celana jeans dan kaus kedodoran.
Kapan lagi bisa memboncengkan bidadari tanpa perlu repot-repot menukil puisi Eyang Sapardi? Walaupun selama berboncengan, Ayana akan duduk berjarak dan berpegangan behel demi menjaga diri—padahal sudah berkali-kali kukatakan bahwa aksinya itu malah membahayakan diri. Tapi ya sudah lah, perempuan memang sulit kumengerti.
Aku berbelok ke kanan, melewati ADA Siliwangi yang menjadi langganan Ayana belanja bulanan dan berburu diskonan. Kemudian, dengan menenteng totebag besar di masing-masing tangan—dia selalu menolak tawaranku membawakan belanjaan atas nama kesetaraan gender—Ayana akan mentraktirku semangkuk mi ayam bakso di warung Pak Mitro. Betul-betul dibayari sebagai ganti uang bensin, padahal aku ikhlas mengantarnya hingga ke luar galaksi sekali pun.
Ia sangat lahap menyeruput kuah tanpa tambahan saus-kecap-sambal, sambil mengkritik tisu-tisu yang bertebaran di sekitaran, juga bertanya-tanya alasan nenek moyang memulai tradisi mengonsumsi makanan panas saat cuaca sedang terik-teriknya. Ah, bibirnya yang ranum dan ceriwis itu tampak lebih menggoda dibanding bakso urat di hadapanku.
Aku terus berjalan melewati Pasar Bulu dan Tugu Muda. Biasanya aku mengomel tiap melewati Jalan Pandanaran yang teramat padat, tetapi sekarang aku akan memanjakan cuping hidungku dengan aroma bandeng presto, lunpia, dan wingko babat yang menguar di sepanjang jalan. Kali ini tak ada hubungannya dengan Ayana, aku hanya ingin mengecap memoar aneka jajanan yang lekat dengan perjalanan hidupku sejak masih ingusan.
Namun, perjalanan berikutnya tetap saja mengingatkanku dengan Ayana. Ada Gramedia yang menjadi tempat nongkrong favoritnya. Ada Simpang Lima yang membuatku bergejolak menyaksikan bulir-bulir keringat membasahi dahi Ayana selama jogging pada Minggu pagi—sepertinya berahi adalah satu-satunya ciri kejantanan yang kupunya. Jajaran mall yang membuat Ayana betah mengoceh soal kapitalisme dan westernisasi, tetapi toh selalu buru-buru memburu diskon akhir tahun yang ditawarkan. Sekali lagi, dia tetaplah seorang perempuan.
Aku berbelok ke area yang lebih rindang, lalu melipir ke Taman Indonesia Kaya, ngadem sebentar sambil minum es dawet gerobakan. Dulu, Ayana pernah mengajakku kemari. Ia minta difoto di antara patung Pandawa, sembari mencerocos soal wayang.
“Enak kali, ya, jadi Drupadi? Bisa dapat nafkah dari lima suami,” katanya, sembari melihat-lihat hasil foto.
Aku terkejut, tentu saja. Kalimat yang barusan terucap sangat kontras dengan citra Ayana sebagai wanita alpha yang selama ini kukenal. “Ah, aku kira kamu lebih suka Srikandi? Dia sering menjadi ikon perempuan tangguh. Bukankah itu sesuai dengan visimu dalam memperjuangkan hak-hak perempuan?”
“Enggak, ah. Srikandi itu overrated. Dia hanya jadi umpan agar Bisma enggak melawan, karena bagi Bisma, pantang mengangkat senjata kepada perempuan. Yang mengalahkan Bisma saat itu ya tetap panah Arjuna, bukan Srikandi.”
“Drupadi juga umpan, lho. Dia lahir dari api pemujaan sebagai jawaban doa Drupada untuk balas dendam kepada Arjuna dan Dorna.” Kulihat Ayana bergumam mengiyakan celetukanku.
Kemudian, aku melanjutkan, “Omong-omong soal nafkah, kelima suami Drupadi ‘kan miskin semua. Bukannya berusaha apply loker atau merintis usaha, malah ngemis jabatan ke Duryudana. Sampai rela dimutasi ke pedalaman selama 13 tahun pula.”
“Haha! Kayaknya mereka tipe manusia yang saat wawancara kerja terlalu mengunggulkan diri. Minta gaji besar dan jabatan tinggi bermodalkan ordal.”
Ah, manis nian tawa Ayana yang hampir tanpa suara. Ayana menyadari perubahan sikapku yang tiba-tiba diam karena terpana. Ia melanjutkan, “Tapi setelah dipikir-pikir, aku enggak mau jadi Drupadi, ah. Dia dikelilingi lima pria yang ngakunya perkasa, tapi cuma bisa diam saja saat Drupadi ditelanjangi di hadapan massa. Cih, laki-laki macam apa itu? Omdo!”
“Jangankan melindungi Drupadi dari Dursasena, bahkan membela Drupadi dari perintah poliandri Kunti pun enggak bisa. Tipikal lelaki yang terlalu menuruti kata ibu sampai mengabaikan perasaan istrinya yang selalu tersakiti,” jawabku.
“Kamu enggak boleh begitu lho, Mas Rahman!” seru Ayana yang sekonyong-konyong membuatku terperanjat. “Kamu harus bisa membela dan melindungi orang yang kamu cintai, meski seluruh dunia mencoba melawan kalian. Jangan patahkan kepercayaannya.”
Tatap mata Ayana yang tulus dan teduh malah membuatku terenyuh. Kamulah orang yang akan kubela dan lindungi, Ayana. Hanya kamu. Selalu dan selamanya....
Aku baru tersadar dari lamunan ketika kedua mataku mulai panas. Entah sejak kapan air mata mengalir di pipiku. Mengingat Ayana hanya membuat hatiku makin rapuh, segala tentangnya selalu berhasil membuat pertahananku luruh. Dawet di gelas telah tandas, seiring bibirku yang mendaraskan nama Ayana kian deras. Aku tak ingin meninggalkan kota ini dengan kesedihan. Maka, sebelum hatiku semakin patah, aku beranjak dari bangku taman dan kembali pulang. Lagi pula, dua jam lagi jadwal penerbangan.
Saat aku membalikkan badan hendak menuju gerbang utama, bayangan Ayana muncul dengan silau mentari di sekelilingnya. Beberapa kali mataku mengerjap demi memastikan dia Ayana betulan. Aku masih terkesima, nyaris tak percaya. Demi mematahkan halusinasi, aku memanggil namanya. Seketika, dia menghentikan langkah dan sama terkejutnya. Aku lebih terkejut melihat kedua matanya yang sembab dengan tatap hampa.
Ia lantas berlari menghampiriku. Tiga detik berikutnya, air mata Ayana telah membanjiri pipi. Aih, tragedi macam apakah ini? Kupersilakan ia duduk di bangku yang baru saja kududuki.
Aku berdiri di depannya, sengaja menghalangi agar Ayana tidak menjadi pusat perhatian. Meski sekarang telah memasuki era individualisme, nyatanya budaya kepo masih melekat kuat dalam jiwa masyarakat. Aku ingin memberi ruang aman dan nyaman bagi Ayana untuk meresapi kesedihan tanpa intimidasi dari orang-orang yang sekadar penasaran.
Setelah memastikan tangisnya benar-benar reda, aku menawarkan diri untuk membelikan air minum. Dengan lemah, Ayana menggelengkan kepala. Bibirnya yang ranum tak lagi cerewet seperti biasanya. Hari ini ia tampak pucat meski dipulas gincu semerah saga. Dengan terbata, ia memulai ceritanya—bahkan sebelum aku sempat bertanya.
***
Hari ini, untuk kedua kalinya, aku menjadi “ratu sehari”. Kali ini tanpa raja, sebab perhelatan memang dikhususkan untukku seorang. Tidak, ding, untukku dan bayi dalam kandungan. Aku dipaksa duduk di singgasana yang berhiaskan aneka rupa bunga. Tentu aku tak enak hati, sebab di sekitarku, berkerumun ibu-ibu yang duduk lesehan sembari menyiapkan jajanan pasar.
Ada berbagai macam panganan yang akan disajikan. Aku paling tidak sabar menyicipi rujak serut yang juga terbuat dari tujuh jenis buah. Lidahku sudah bergetar membayangkan rasa kuah rujak yang manis-asam-dingin. Sayang tidak ada buah nanas. Padahal sudah kujelaskan kepada Ibu Mertua bahwa isu nanas bisa menggugurkan kandungan hanyalah mitos belaka. Namun, seilmiah apa pun alasannya, menantu selalu kalah dari mertua.
Beruntung hari ini keluargaku turut datang, sehingga ada Mama yang menghiburku. “Sabar dulu, sebentar lagi kamu bisa makan nanas sepuasnya.”
Melihat bibirku yang masih mecucu, Mama kembali berucap, “Ayana, kamu itu bukan perempuan pertama di dunia ini yang menjalankan peran sebagai menantu. Mama dan milyaran perempuan lain juga merasakannya. Wajar mengalami bentrok dengan ibu mertua, tapi kita sebagai yang muda harus mengalah. Biar bagaimana pun, dia adalah ibu dari suamimu.”
Akhirnya, demi menjaga kehormatan keluarga, mau tak mau aku menuruti nasihat Mama. Aku juga tidak ingin merusak acara tingkepan yang dirancang spesial untukku.
Aku beruntung memiliki Mas Rama. Dia selalu meratukanku, memperlakukanku secara istimewa. Ia berusaha meyakinkan keluarganya yang sempat tidak menerimaku karena pamali lelaki Jawa menikah dengan gadis Sunda. Ia yang selalu membuatku nyaman ketika Ibu Mertua—saat itu masih calon—membombardirku dengan berbagai pertanyaan. Mas Rama bahkan rela menjalani hubungan jarak jauh, demi mewujudkan cita-citaku untuk melanjutkan studi magister. Ia tak pernah rewel saat aku sibuk sosialisasi dan mendampingi para perempuan yang butuh bantuan.
Namun, sebetulnya aku merasa ada yang berbeda dari Mas Rama belakangan. Ia tidak datang saat wisuda magisterku, tidak menjemput kepulanganku, dan belakangan kulihat sering menahan amarah saat berbincang dengan Ibu Mertua. Aku tidak berani bertanya mengenai topik yang mereka bicarakan; juga perihal alasan perbedaan sikap Mas Rama. Barangkali, ini hanya prasangkaku semata. Bukankah ibu hamil jadi lebih sensitif dan emosional?
Maka, sebisa mungkin aku menekan perasaan itu. Toh, Mas Rama menyambut kepulanganku dengan manis dan hangat. Mengingat kecup dan belainya membuat hatiku berdesir dan seketika melupakan ketiadaan buah nanas di rujak serut. Kami sama-sama bergairah malam itu, malam paling binal yang pernah kulalui. Yang ternyata bersambung pada malam-malam berikutnya.