Satu Atap

Diah kurniawati Ade Tenu Kurnia
Chapter #1

Bab 1. Rumah Sunyi

Sekar sempat berdiri beberapa detik di depan pagar.

Rumah itu terang seperti biasa.

Dari luar terlihat hangat.

Sama seperti rumah-rumah lain yang selalu tampak nyaman saat malam.

Namun anehnya, setiap kali pulang, Sekar justru sering merasa seperti tamu.

Ia tidak tahu sejak kapan perasaan itu muncul.

Mungkin perlahan.

Atau mungkin sudah ada sejak lama, hanya saja baru sekarang terasa.

Pukul sembilan malam, rumah itu masih menyala terang.

Lampu ruang tamu, dapur, teras depan, bahkan televisi yang tidak benar-benar ditonton siapa-siapa masih menyala seperti biasa. Dari luar, rumah itu terlihat hidup. Hangat. Sama seperti rumah-rumah lain yang selalu tampak baik-baik saja di mata orang lain.

Sekar membuka pagar perlahan, lalu melangkah masuk tanpa suara.

Ia tidak perlu mengetuk atau memanggil siapa pun. Di rumah ini, semua orang terbiasa datang dan pergi sendiri-sendiri.

Padahal dulu... ia mengibaskan semua ingatan yang melintas di kepala.

Suara televisi terdengar dari ruang tengah, bercampur bunyi sendok beradu dengan piring dari dapur. Samar-samar ada suara tawa dari kamar adiknya—mungkin sedang bermain game lagi bersama teman-temannya.

Namun anehnya, semua suara itu tetap terasa jauh.

“Pulang, Sekar?”

Suara ibunya terdengar dari dapur.

“Iya, Bu.”

“Habis makan?”

“Belum.”

“Makan dulu. Ibu masak ayam.”

“Iya.”

Percakapan itu selesai begitu saja.

Ia memejamkan mata sebentar, sadar setetes hangat meluncur di pipi tanpa sempat dicegahnya. Diraihnya selembar tisu dan berpura-pura tak ada yang jatuh luruh di hatinya.

Sekar melepas sepatunya pelan, lalu menaruh tas di kursi dekat pintu sebelum berjalan menuju dapur. Ibunya berdiri membelakangi, sibuk merapikan piring yang sebenarnya sudah rapi sejak tadi.

“Ayah belum tidur?” tanya Sekar sambil membuka tudung saji.

“Belum. Masih kerja.”

"Ayah sudah makan?"

"Sudah, makan sedikit sekali lalu masuk kamar."

Lagi.

Jawaban yang terlalu sering ia dengar sampai tidak terasa seperti jawaban lagi.

Apa yang salah? Ia menggeleng. Tidak ada.

Sekar menarik kursi makan perlahan. Meja makan itu cukup besar untuk empat orang. Dulu mereka sering makan bersama di sana, atau setidaknya Sekar masih mengingat samar-samar suara ayahnya yang sesekali bercanda dan ibunya yang marah karena adiknya menumpahkan kuah.

Sekarang meja itu lebih sering dipenuhi piring yang dibiarkan dingin.

Lihat selengkapnya