Pagi di rumah mereka selalu dimulai dengan suara yang sama.
Dentingan sendok.
Bunyi teko air.
Lalu langkah kaki yang terburu-buru.
Sekar keluar kamar sambil mengikat rambut seadanya. Jam dinding menunjukkan pukul enam lewat sepuluh menit. Aroma telur goreng dan kopi hitam memenuhi rumah, tetapi entah kenapa tetap tidak terasa hangat.
Ibunya berdiri di dapur dengan celemek yang sama seperti kemarin.
“Ayah udah bangun?” tanya Sekar pelan.
“Udah. Lagi siap-siap.”
Sekar mengangguk kecil lalu duduk di meja makan.
Meja itu cukup besar untuk empat orang, tetapi pagi-pagi seperti ini selalu terasa terlalu luas.
Dulu Sekar suka duduk di kursi dekat jendela karena ayahnya sering mencuri potongan telur dari piringnya sambil bercanda. Ivan kecil biasanya sibuk mengeluh karena tidak suka sayur, hanya mau ayam goreng kesukaannya, lalu ibunya akan memaksa mereka menghabiskan sarapan sebelum berangkat sekolah.
Pagi-pagi mereka pernah seramai itu.
Sampai Sekar sendiri tidak sadar kapan semuanya mulai berubah.
Kini meja makan itu lebih sering dipenuhi suara notifikasi dan kursi yang cepat kosong.
Beberapa menit kemudian ayahnya muncul sambil merapikan jam tangan. Kemeja kerjanya rapi seperti biasa. Tidak ada yang berubah dari penampilannya sejak bertahun-tahun lalu, kecuali lingkar gelap di bawah matanya yang semakin jelas.
“Pagi,” ucap beliau singkat.
“Pagi, Yah.”
Ayahnya duduk di kursi paling ujung meja sambil membuka ponsel. Jempolnya sibuk menggulir layar bahkan sebelum sarapan dimulai.
Ibunya meletakkan piring satu per satu.
“Sekar, nanti pulang jam berapa?”
“Belum tahu, Bu. Mungkin agak sore.”
“Hati-hati.”
“Iya.”
Lalu hening lagi.
Adiknya belum keluar kamar.
“Ivan belum bangun?” tanya Sekar.
Ibunya melirik jam sebentar. “Tadi bilang tidur lagi lima menit.”
Sekar nyaris tersenyum. Lima menit versi Ivan biasanya setengah jam.
Ayahnya masih fokus pada layar ponselnya.
Kadang Sekar ingin tahu, apakah ayahnya sadar kalau mereka semakin jarang bicara? Atau mungkin beliau sadar, tetapi tidak tahu harus memulai dari mana.
“Ayah berangkat lebih pagi hari ini?” tanya Sekar mencoba membuka percakapan.
“Iya. Ada meeting.”
“Oh.”
Dan selesai.
Tidak ada yang benar-benar salah dari percakapan mereka. Hanya terasa pendek. Seperti semua orang bicara seperlunya saja.
Ibunya duduk sebentar di kursi samping Sekar, sesuatu yang jarang dilakukan akhir-akhir ini.
“Makan yang banyak,” katanya pelan.