Satu Atap

Diah kurniawati Ade Tenu Kurnia
Chapter #3

Bab 3. Ruang Kerja

Malam itu hujan turun sejak maghrib.

Rintiknya tidak terlalu deras, tetapi cukup untuk membuat jalanan di depan rumah terlihat basah dan kosong. Sekar duduk di ruang tamu sambil mengerjakan tugas di laptopnya. Televisi menyala pelan tanpa benar-benar ia tonton.

Rumah mereka terasa sama seperti biasanya.

Ibunya di dapur.

Ivan di kamar.

Dan ayahnya masih berada di ruang kerja sejak pulang tadi.

Pintu itu lagi.

Selalu tertutup.

Kadang Sekar penasaran, apa sebenarnya yang dilakukan ayahnya di dalam sana sampai berjam-jam. Bekerja? Menonton berita? Atau hanya mencari alasan supaya tidak perlu terlalu lama berada di ruang tengah bersama mereka?

“Sekar.”

Sekar menoleh. Ibunya muncul sambil membawa semangkuk potongan buah.

“Makan dulu.”

“Makasih, Bu.”

Ibunya duduk sebentar di sofa sebelahnya.

“Kampus gimana?”

“Biasa.”

“Capek?”

“Lumayan.”

Percakapan mereka tidak jauh berbeda dengan pagi tadi.

Pendek.

Pelan.

Dan cepat habis.

Namun entah kenapa, malam ini Sekar tidak ingin langsung kembali diam.

“Ibu capek?”

Pertanyaan itu membuat ibunya menoleh sebentar.

“Kok nanya begitu terus?”

Sekar tersenyum kecil. “Gapapa. Penasaran aja.”

Ibunya ikut tersenyum tipis, meski matanya tetap terlihat lelah.

“Namanya juga ibu rumah tangga.”

Jawaban yang lagi-lagi terdengar sederhana.

Namun semakin dipikirkan, semakin terasa seperti sesuatu yang disembunyikan.

Suara hujan terdengar semakin jelas memenuhi ruang tamu.

Sekar melirik lorong menuju ruang kerja ayahnya.

“Ayah belum selesai kerja?”

“Belum.”

“Setiap hari ya…”

Ibunya diam beberapa detik sebelum menjawab pelan, “Ayah banyak tanggung jawab.”

Kalimat itu terdengar seperti pembelaan yang terlalu sering diulang.

Sekar mengangguk kecil tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Tak lama kemudian suara pintu kamar Ivan terbuka. Anak laki-laki itu keluar sambil membawa charger dan ponselnya.

“Wi-Fi lemot,” keluhnya sambil duduk asal di lantai ruang tamu.

“Kamu dari tadi main terus?” tanya ibu.

Ivan mengangkat bahu. “Temen-temen lagi online.”

“Besok sekolah.”

“Iya.”

Lihat selengkapnya