Satu Atap

Diah kurniawati Ade Tenu Kurnia
Chapter #4

Bab 4. Pesan Singkat

Ponsel Sekar bergetar, tepat saat dosen di depan kelas mulai menjelaskan materi.

Ia melirik layar sekilas.

Ibu.

Sekar membuka pesan itu diam-diam di bawah meja.

Pulang jam berapa?

Singkat.

Sederhana.

Namun entah kenapa membuat dadanya terasa hangat sesaat.

Sekar mengetik cepat.

Kayaknya agak sore, Bu.

Tidak sampai semenit, balasan masuk lagi.

Jangan lupa makan.

Sekar tersenyum kecil tanpa sadar.

Kadang ibunya memang seperti itu.

Tidak banyak bicara secara langsung, tetapi selalu hadir lewat hal-hal kecil.

“Sekar.”

Suara dosen membuatnya cepat menyimpan ponsel.

“Iya, Pak.”

“Fokusnya ke depan, bukan ke layar.”

Teman di sebelahnya menahan tawa kecil sementara Sekar hanya mengangguk malu.

Kuliah hari itu berjalan lambat.

Di sela penjelasan dosen, pikirannya justru kembali pada rumah. Pada meja makan pagi tadi. Pada ibunya yang terlihat lelah. Pada ruang kerja ayahnya yang terasa lebih asing dibanding kamar hotel.

Dan pada percakapan singkat dengan ibunya.

Aneh.

Padahal dulu Sekar jarang memikirkan rumah sesering ini.

Atau mungkin karena baru sekarang ia mulai benar-benar memperhatikan semuanya.

“Sekar!”

Seseorang menepuk pundaknya begitu kelas selesai.

Sekar menoleh cepat.

“Melamun mulu dari tadi,” keluh Sasa sambil duduk di sampingnya.

Sasa adalah satu dari sedikit orang yang masih cukup dekat dengannya sejak semester awal. Mulutnya sering berisik, tetapi justru itu yang membuat Sekar nyaman.

“Capek,” jawab Sekar singkat.

“Kurang tidur?”

Sekar mengangkat bahu kecil.

“Eh nanti jadi ikut gak?” tanya Sasa lagi.

“Ikut apa?”

“Acara volunteer minggu depan.”

“Oh…”

Sasa memicingkan mata.

Lihat selengkapnya