Hujan belum berhenti sampai malam.
Air menetes pelan dari ujung atap teras, menciptakan suara berulang yang memenuhi rumah. Sekar baru saja selesai mandi ketika listrik tiba-tiba padam.
“Yahh…” suara Ivan terdengar dari kamarnya.
Beberapa detik rumah mereka benar-benar gelap.
Lalu suara langkah ibunya terdengar dari dapur.
“Sekar, lilinnya masih di laci bawah gak?”
“Masih kayaknya, Bu.”
Sekar berjalan perlahan menyusuri lorong sambil menahan dingin lantai. Cahaya dari luar rumah samar-samar masuk lewat jendela karena beberapa rumah tetangga masih memiliki genset.
Ivan keluar kamar sambil membawa ponsel yang menyala terang.
“Wi-Fi mati…” keluhnya pelan.
Sekar hampir tertawa.
“Yang dipikirin cuma itu.”
“Ya emang penting.”
Ibunya akhirnya muncul membawa lilin kecil dan korek api. Cahaya redup segera memenuhi ruang tengah mereka.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, televisi mati.
Laptop ayahnya juga tidak terdengar.
Rumah itu tiba-tiba terasa jauh lebih sunyi dari biasanya.
“Ayah belum pulang?” tanya Sekar.
Ibunya menggeleng kecil. “Masih di jalan katanya.”
Hujan di luar justru terdengar semakin deras.
Ivan duduk asal di lantai sambil memainkan cahaya senter dari ponselnya ke langit-langit.
“Kayak horror,” katanya iseng.
“Jangan aneh-aneh,” tegur ibu pelan.
Namun kali ini tegurannya terdengar lebih ringan.
Sekar duduk di sofa sambil memeluk lututnya. Cahaya lilin membuat ruang tamu mereka terlihat berbeda. Lebih kecil. Lebih hangat.
Atau mungkin hanya karena malam ini tidak ada layar yang menyala di antara mereka.
“Ibu takut gelap gak?” tanya Ivan tiba-tiba.
Ibunya terkekeh kecil. “Enggak.”
“Boong. Dulu waktu mati lampu ibu panik.”
“Itu karena kamu nangis.”
Ivan tertawa kecil mendengar itu.
“Aku masih kecil.”
“Iya. Kecil tapi berisik.”
Sekar diam-diam memperhatikan mereka.
Sudah lama sekali ia tidak mendengar percakapan seringan ini di rumah.
Tanpa sadar sudut bibirnya ikut terangkat kecil.
“Ayah biasanya pulang jam segini?” tanya Ivan lagi.
“Kadang lebih malam.”
“Hujan deras banget.”
Ibunya menatap pintu depan beberapa detik sebelum menjawab pelan, “Iya.”
Sekar tahu tatapan itu.