Satu Cinta untuk Selamanya

Annisa Nur Adhaniyah
Chapter #2

Terhalang Jarak

Satu bulan setelah lulus dari jenjang Sekolah Dasar, Nura pun bersiap berangkat ke Pesantren untuk menuntut ilmu dan meneruskan sekolahnya ke jenjang SMP.

Disisi lain Ahsan yang juga tinggal di Pondok Pesantren di Kota yang berbeda, ia diperbolehkan membawa alat komunikasi pribadi. Hampir setiap hari nya ia menanti kabar dari Nura, namun sampai sekarang belum juga ada pesan masuk ke handphone nya. Ahsan pun mencoba mengirim pesan terlebih dahulu kepada Nura.

"Assalamu'alaikum Nura, apa kabar ?" dengan berharap mendapat balasan baik dari Nura

"Wa’alaikumussalam, maaf Nura nya lagi di pondok dan gak boleh bawa handphone. Saya dengan Mamanya. Ini siapa ya?"

Ternyata yang membalas pesan Ahsan adalah Mamanya Nura.

" Oh iya Bu, maaf mengganggu. Saya temannya Nura, dan kebetulan rumah kita juga berdekatan." jawab Ahsan

" Temannya Nura? Siapa ya? Laki-laki atau perempuan?" tanya Mama Nura penasaran.

" Saya laki-laki bu, tapi saya bukan siapa-siapanya Nura ko Bu. Saya hanya senang dengan Nura. Saya titip salam saja untuk Nura ya Bu. Inisial nama saya dari huruf A." Jawab Ahsan.

" Oh iya baik nanti saya sampaikan." ucap Mama Nura sambil sedikit menebak siapa sebenarnya laki-laki inisial A tersebut.

Hari demi hari Nura dan Ahsan lalui di beda Kota. Jarak sedang menguji kisah cinta mereka. Bagi Ahsan meskipun ia berjauhan dengan Nura, ia tidak lepas memikirkan Nura. Sedangkan disisi lain, Nura berpikir mungkin Ahsan sudah menemukan perempuan lain yang lebih baik darinya.

Sampai di suatu hari, musim liburan pun tiba. Nura dan Ahsan sama-sama libur dari Pesantrennya.


-Di Rumah Nura-

"Nura, waktu kamu di pesantren ada yang ngirim pesan ke HP mu, katanya dia titip salam buat kamu" ucap Mamanya.

" Siapa emangnya Ma?" tanya Nura.

"Mama juga gak tahu, cuman bilangnya dia tetangga kita dan inisial namanya dari huruf A. Kira-kira Siapa ya Pak ?" Bertanya kepada Bapak Nura yang duduk di sebelahnya.

"Halah, paling cuman iseng aja mau deketin anak kita Ma" jawab Bapak Nura dengan cuek.

" Tapi Mama penasaran Pak, apa mungkin Akbar anaknya Bu Susi ya ? Tapi kayaknya bukan deh," tanya Mama Nura.

"Mama apaan sih, ko jadi nebak nebak gitu. Udah ah Nura mau ke kamar aja" jawab Nura sambil bergegas pergi ke kamarnya.

"Ya sudah sana kamu pergi istirahat." Ucap Bapaknya.

Nura pun pergi ke kamar meninggalkan orangtuanya yang masih berada di ruang tengah.

" Eh pak, tapi apa jangan-jangan Ahsan anaknya Pak Kyai Ahmad ya? Soalnya setiap dia ketemu Mama, dia itu senyum kayak malu gitu" tutur Mama Nura.

" Mana mungkin lah Mah, masa anaknya Pak Kyai suka sama anak kita. Malu lah kita." jawab Bapak Nura dengan sedikit tegas.

"Tapi mungkin aja kan Pak, anak kita kan cantik, pintar lagi"

Lihat selengkapnya