Waktu pun tiba, Nura harus berangkat ke Pesantren untuk menuntut ilmu dan meneruskan sekolah ke jenjang SMP.
Disisi lain Ahsan yang juga tinggal di Pondok Pesantren di Kota yang berbeda (namun diperbolehkan membawa alat komunikasi) setiap hari nya menanti kabar dari Nura, namun belum juga ada pesan masuk darinya. Ahsan pun mencoba mengirim pesan terlebih dahulu.
Ahsan : "Assalamu'alaikum Nura, apa kabar ?" berharap mendapat balasan baik dari Nura
Mama Nura : "Wa’alaikumussalam, maaf Nura nya lagi di pondok dan gak boleh bawa handphone. Saya dengan Mama nya. Ini siapa ya ?"
Ahsan : " Ouh iya Bu, maaf mengganggu. Saya temannya Nura, dan kebetulan rumah kita juga berdekatan."
Mama Nura : " Temannya Nura ? Siapa ya ? Laki-laki atau perempuan ?"
Ahsan : " Saya laki-laki bu, tapi saya bukan siapa-siapanya Nura ko Bu. Saya hanya senang dengan Nura. Saya titip salam saja untuk Nura Bu. Inisial nama saya dari huruf A."
Mama Nura : " Ouh iya baik nanti saya sampaikan." Sambil sedikit menebak siapa sebenarnya laki-laki inisial A tersebut
Hari demi hari Nura dan Ahsan lalui di beda Kota. Jarak sedang menguji kisah cinta mereka. Bagi Ahsan meskipun ia berjauhan dengan Nura, ia tidak lepas memikirkan Nura. Sedangkan disisi lain, Nura berpikir mungkin Ahsan sudah menemukan perempuan lain yang lebih baik darinya.
Sampai suatu hari, musim liburan pun tiba. Nura dan Ahsan sama-sama libur dari Pesantrennya.
-Di Rumah Nura-
Mama Nura : "Nura, waktu kamu di pesantren ada yang ngirim pesan ke HP mu, katanya dia titip salam buat kamu," dengan ekspresi mengejek Nura
Nura : " Siapa emangnya Ma ?"
Mama Nura : "Mama juga gak tahu, cuman bilangnya dia tetangga kita dan inisial namanya dari huruf A, kira-kira Siapa ya Pak ?" Bertanya kepada Bapak Nura yang juga berada di tengah rumah
Bapak Nura : "Halah, paling cuman iseng aja mau deketin anak kita Ma." Menjawab spontan dengan nada cuek
Mama Nura : " Tapi Mama penasaran Pak, apa mungkin Akbar anaknya Bu Susi ya ? Tapi kayaknya bukan deh," dengan wajah yang sangat penasaran
Nura : "Mama apaan sih, ko jadi nebak nebak gitu. Udah ah Nura mau ke kamar aja" sambil bergegas pergi ke kamarnya
Bapak Nura : "Ya sudah sana kamu pergi istirahat."
Nura pun pergi ke kamar meninggalkan orangtuanya yang masih berada di ruang tengah.
Mama Nura : " Eh pak, tapi apa jangan-jangan Ahsan anaknya Pak Kyai Ahmad ya ? Soalnya setiap dia ketemu Mama, dia itu senyum malu gitu"
Bapak Nura : " Mana mungkin lah Mah, masa anaknya Pak Kyai suka sama anak kita. Malu lah kita." Menjawab dengan nada tegas
Mama Nura : "Tapi mungkin aja kan Pak, anak kita kan cantik, pintar lagi"