Nura sudah masuk di usia remaja. Sekarang ia adalah seorang siswi Madrasah Aliyah dan juga santri di Yayasan Nurul Huda. Ia sangat senang bisa kembali melanjutkan pendidikannya di Nurul Huda, karena disana ia kembali bertemu dengan teman lama nya yaitu Siti dan memiliki teman baru yaitu Aida. Mereka bertiga selalu bersama-sama disaat sekolah maupun mengaji.
Kini Ahsan sudah menjadi ustadz di pesantren Nurul Huda, dia mengajar di kelas Ulya yaitu tingkatan kelas paling atas di Pondok Pesantren Nurul Huda, sedangkan Nura masuk di kelas pertengahan karena masih santri baru.
Hampir setiap hari Nura bertemu dengan Ahsan namun hanya sekedar saling melihat dari kejauhan. Ahsan sudah tidak bisa mengirim pesan kepada Nura, karena ternyata Nura telah mengganti nomor handphonenya.
Nura cukup terkenal di sekolanya karena ia adalah siswa yang berprestasi. Dari awal ia masuk sekolah, sudah ada beberapa laki-laki yang mendekatinya salah satunya adalah kakak kelasnya yang baru saja lulus dari MA Nurul Huda.
Namanya Ridwan, mereka bertemu pertama kali saat pelaksanaan MPLS di sekolah. Ridwan hadir sebagai pemateri saat itu. Sejak pertemuan yang pertama, Ridwan sudah menyimpan rasa kagum terhadap Nura, sampai ia mencoba mendekati Nura dengan memberi perhatian lebih bahkan sampai memberi Nura hadiah.
Seiring berjalannya waktu, Nura pun terbawa perasaan oleh Kakak kelasnya itu hingga ia lupa kepada Ahsan, orang yang dari dulu mengejarnya. Bukan tanpa alasan, Nura memilih melupakan Ahsan karena ia berpikir bahwa Ahsan juga sudah melupakannya.
"Nura, Aa mau jujur. Sebenarnya Aa punya perasaan cinta sama kamu. Kamu mau kan jadi pacar Aa?" ucap Ridwan melalui sebuah pesan.
"Tapi maaf, A. Saya tidak mau pacaran seperti orang-orang pada umumnya. Saya mau kita hanya saling mengenal satu sama lain meskipun lewat pesan" jawab Nura.
"Baiklah kalau kamu maunya seperti itu. Aa siap untuk mengenal kamu."
Nura dan Ridwan pun saling mengenal meskipun hanya sebatas mengirim pesan lewat handphone.
Setelah 1 bulan kenal, ternyata Ridwan adalah seorang perokok aktif. Tentunya sangat bertolak belakang dengan Nura yang memiliki riwayat penyakit Asma. Tapi Nura mencoba untuk terus mengenalnya terlebih dahulu.
Ridwan berbeda dengan Ahsan, ia bukan seorang santri. Hampir setiap hari Nura selalu mengingatkan Ridwan untuk melaksanakan shalat dan ibadah lainnya.
Suatu malam setelah Nura selesai mengaji di Pesantren Nurul Huda, ia tidak langsung pulang karena harus mengabsen teman satu kelasnya yang sedang shalat berjamaah isya. Ia tidak ikut shalat karena sedang haid, ia pun hanya duduk di halaman masjid sambil mengabsen teman-temannya.
Ketika tengah fokus mengabsen, ia mendengar suara lantunan Al Qur'an yang dibaca oleh imam. Ia pun berdiri mengintip dari jendela masjid untuk melihat siapa imam shalat saat itu. Dan ternyata yang sedang menjadi imam shalat saat itu adalah Ahsan.
Mendengar Ahsan melantunkan ayat-ayat Al Qur'an dengan sangat fasih dan merdu, tak terasa air mata Nura menetes. Ada rasa haru dan kagum dalam hatinya. Ia juga merasa menyesal karena telah mengabaikan laki-laki seperti Ahsan. Ia pun bergegas pulang menuju rumahnya dengan berderai air mata.
Sesampainya di rumah, ia bergegas masuk ke kamarnya dan membuka lemari lalu mengambil jam juga menatap Al Qur'an yang dulu pernah Ahsan hadiahkan untuknya.
Air mata nya semakin deras, hatinya penuh dengan penyesalan. Ia sadar bahwa Ahsan adalah laki-laki yang menjadi idamannya. Nura sangat merasa bersalah karena ia selalu mengabaikan perasaan Ahsan untuknya. Dan sekarang Nura sadar bahwa penyesalannya ini datang terlambat, ia berpikir bahwa Ahsan sudah tidak mungkin mengejarnya lagi. Ia pun menangis sampai tertidur sambil memegang jam tangan pemberian Ahsan.
Nura sempat berharap Ahsan akan kembali hadir dalam hari-harinya meskipun hanya mengirim perhatian lewat pesan. Namun ia merasa itu semua sudah tidak mungkin karena sampai saat ini Ahsan tidak ada menghubunginya.
Hubungannya dengan Ridwan masih berjalan dengan baik. Nura masih berusaha terus mengenal Ridwan, ia mencoba menerima kekurangan Ridwan dan mencari kelebihannya untuk meyakinkan bahwa ia tidak salah memilih.
Ridwan memang orang yang baik, dewasa, sangat perhatian dan sayang kepada Nura, kekurangannya hanya karena Ridwan adalah perokok dan ia kurang dalam mendalami ilmu agamanya.
"Nura, kamu lagi dekat dengan seorang alumni MA Nurul Huda ya?" tanya Mama Nura.
"Hhhmmm... enggak kok Ma," jawab Nura dengan terbata-bata.
"Mama tahu, Nura. Kalau kamu memang bahagia dan hati kamu merasa cocok, tidak apa-apa lanjutkan saja."
"Tapi Bapak kurang setuju kamu dekat dengan dia," sahut Bapaknya yang sedang membereskan barang dagangannya.
"Emangnya kenapa sih, Pak?" tanya Mamanya.
"Ma, dia itu bukan santri, dia juga perokok. Bapak pernah lihat langsung dia sedang berkumpul dengan teman-temannya sambil merokok dan bermain musik. Bapak rasa dia bukan yang terbaik untuk kamu, Nura. Bapak lebih setuju kamu dengan Ahsan, anak Kiai Ahmad." jawab Bapaknya.
Nura hanya terdiam mendengar ucapan Bapaknya. Ia pun pergi ke kamarnya dengan perasaan yang dilema. Ia menyadari bahwa Ahsan memang lebih baik segalanya dari Ridwan, namun kini ia sudah tidak bisa berharap lagi kepada Ahsan karena Ahsan pun tidak pernah menghubunginya lagi.
Kini hari-harinya dipenuhi dengan rasa bimbang. Ia ingin memutuskan kedekatannya dengan Ridwan, namun ia tidak mau membuat Ridwan kecewa dan sakit hati. Kalaupun pendekatan ini diteruskan, ia merasa hatinya tidak sepenuhnya menerima Ridwan.
Waktu berlalu, tahun ajaran baru pun dimulai. Kini Nura sudah duduk dibangku kelas XI Madrasah Aliyah Nurul Huda.
Suatu hari ketika jam pelajaran di sekolah berlangsung, ia hendak menuju ruang guru karena diminta oleh gurunya untuk mengambil tugas dikarenakan gurunya tidak dapat hadir saat itu. Di lorong kelas, Nura hampir jatuh dan bertabrakan dengan seseorang.
“Astaghfirullah, maaf Pak,” ucap Nura dengan wajah tertunduk sambil menahan badannya yang hampir jatuh.
“Nura, Kamu tidak apa-apa?” Tangan laki-laki itu refleks memegang bahu Nura.
Nura pun pelan-pelan menoleh kedepan, dan ia tidak menyangka ternyata ia sedang berhadapan dengan Ahsan.
“Saya tidak apa-apa, A,” jawab Nura dengan gugup.
Tanpa disadari mereka seketika saling bertatapan. Jantung Nura berdegup kencang saat Ahsan menatapnya.
“Eehh, maaf Nura tangan saya refleks. Saya tidak bermaksud apa-apa.” Ahsan dengan segera menurunkan tangannya dari bahu Nura.
“Tidak apa-apa A, saya juga minta maaf karena saya tidak fokus saat berjalan,” jawab Nura dengan wajah kembali menunduk.