Satu Cinta untuk Selamanya

Annisa Nur Adhaniyah
Chapter #3

Mekarnya Bunga

Nura sudah masuk di usia remaja. Sekarang ia adalah siswi dan juga santri di Yayasan Nurul Huda. Ia sangat senang bisa kembali melanjutkan pendidikannya di Nurul Huda, karena disana ia kembali bertemu dengan teman lama nya yaitu Siti dan memiliki teman baru yaitu Aida. Mereka bertiga selalu bersama-sama disaat sekolah maupun saat mengaji.

Hampir setiap hari Nura bertemu dengan Ahsan namun hanya sekedar saling melihat dari kejauhan saja. Ahsan sudah tidak bisa mengirim pesan kepada Nura, karena ternyata Nura telah mengganti nomor handphone nya.

Kini Ahsan sudah menjadi ustadz di pesantren Nurul Huda, dia mengajar di kelas Ulya yaitu tingkatan kelas paling atas di Pondok Pesantren Nurul Huda, sedangkan Nura masuk di kelas pertengahan karena masih santri baru.

Setengah semester berlalu… Nura menjadi andalan para guru di Sekolahnya. Ia menjadi siswa yang rajin dan berprestasi.

Suatu hari ketika jam pelajaran di sekolah berlangsung, ia hendak menuju ruang guru karena diminta oleh gurunya untuk mengambil tugas dikarenakan guru nya tidak dapat hadir saat itu.

Di lorong kelas Nura hampir jatuh dan bertabrakan dengan seseorang.

Nura : “Astaghfirullah, maaf Pak” dengan wajah tertunduk sambil menahan badan yang hendak jatuh

Ahsan : “Nura, Kamu tidak apa-apa?” Tangannya refleks memegang bahu Nura.

Nura pun pelan-pelan menoleh kedepan, dan ia tidak menyangka ternyata ia sedang berhadapan dengan Ahsan.

Nura : “Saya tidak apa-apa A.” Menjawab dengan gugup

Ahsan : “Eh, maaf Nura saya refleks, saya tidak bermaksud apa-apa,” dengan segera menurunkan tangannya dari bahu Nura.

Nura : “Tidak apa-apa A, saya juga minta maaf karena tidak fokus saat berjalan” dengan wajah kembali menunduk

Ahsan : “Kamu mau kemana, Nura ?”

Nura : “Saya mau ke ruang guru A, mau mengambil tugas dari Bu Ida. Beliau tidak bisa masuk hari ini.”

Ahsan : “Oh ya sudah, silahkan Nura. Kamu hati-hati ya” sambil bergeser memberikan jalan kepada Nura

Nura : “Terimakasih A”

Nura pun bergegas pergi. Ia masih kebingungan, dalam hatinya bertanya, “kenapa A Ahsan bisa ada di sekolah ? apa dia sekarang mengajar di sekolah juga ?”

Setelah selesai mengambil tugas, Nura kembali ke kelas nya.

Siti : “Nura, barusan A Ahsan lewat ke depan kelas kita, kayaknya dia sekarangan ngajar juga di Madrasah Aliyah deh."

Nura : "Iya, aku barusan papasan sama dia”

Siti : "Hah ? Terus dia ngomong apa sama kamu ?” bertanya dengan penasaran

Nura : "Enggak kok, dia gak ngomong apa-apa” menjawab dengan cuek

Aida : "Ada apa sih, kok serius banget?” Sambil datang menghampiri Nura dan Siti

Siti : "Itu loh barusan Nura papasan sama A Ahsan” menjawab sambil mengejek Nura

Aida : "Emang ada apa dengan Nura dan A ahsan ?" bertanya dengan penasaran

Siti : “Oh iya, kamu kan gak tahu. Nura itu udah di deketin sama A Ahsan dari SD loh"

Nura : "Eh udah udah, kita harus cepet ngerjain tugasnya, nanti jam pelajarannya keburu habis” dengan nada sedikit tegas

Aida : “Siti, nanti kamu ceritain ke aku ya tentang Nura dan A Ahsan" bisik Aida

Siti : “Siap Da, nanti aku ceritain" membalas dengan berbisik juga

Nura : “Suuttt, udah ayo kerjain" ajak Nura dengan tegas

Selepas pulang sekolah, Nura beristirahat sebentar sebelum bersiap untuk mengaji. Ia masih terus membayangkan kejadian tadi. Pertemuannya dengan Ahsan kali ini membuatnya gelisah, ada rasa bahagia dalam hati Nura.

Waktu maghrib pun tiba, Nura berangkat untuk mengaji. Setelah selesai mengaji ia tidak langsung pulang karena harus mengabsen teman satu kelas nya yang sedang shalat berjamaah isya. Ia tidak ikut shalat karena sedang haid. Ia pun duduk di halaman masjid sambil memperhatikan teman-temannya.

Ketika tengah fokus mengabsen, ia mendengar suara lantunan Al Qur'an yang dibaca oleh imam. Ia pun berdiri mengintip dari jendela masjid untuk melihat siapa imam shalat saat itu. Dan ternyata yang sedang menjadi imam shalat saat itu adalah Ahsan.

Mendengar Ahsan melantunkan ayat-ayat Al Qur'an dengan sangat fasih dan merdu, tak terasa air mata Nura menetes. Ada rasa haru dan kagum dalam dirinya. Nura juga merasa menyesal karena ia telah mengabaikan laki-laki seperti Ahsan. Ia pun bergegas pulang menuju rumah nya dengan air mata yang terus menetes.

Sesampainya di rumah, ia bergegas masuk ke kamarnya dan langsung membuka lemari lalu mengambil jam juga menatap Al Qur'an yang dulu pernah Ahsan hadiahkan untuknya.

Air mata nya semakin deras. Hatinya luluh dan ia tidak bisa lagi menyembunyikan perasaannya. Kini di hatinya sudah mulai timbul perasaan cinta terhadap Ahsan, ia sadar bahwa Ahsan adalah laki-laki yang sempurna. Nura merasa bersalah karena dulu terlalu mengabaikan perasaan Ahsan untuknya. Dan sekarang Nura sadar bahwa perasaannya datang terlambat. Ia berpikir bahwa Ahsan sudah tidak mungkin mengejarnya lagi. Ia pun menangis sampai tertidur sambil memegang jam tangan pemberian Ahsan.

Keesokan malamnya setelah selesai mengajar, Ahsan tidak langsung pulang ke rumah. Ia duduk di halaman kelas sambil termenung sendiri.

Yusuf : “Assalamu'alaikum Ustadz, kok sendiri aja?"

Yusuf, seorang santri Nurul Huda dan juga teman dekatnya Ahsan datang menghampiri Ahsan.

Ahsan : “Wa’alaikumussalam. Kamu nih, bikin kaget saya aja Suf " jawab Ahsan tegas

Yusuf : “Antum kenapa tadz ? kelihatannya seperti banyak pikiran. Ada apa ?" Tanya Yusuf

Ahsan : "Kemarin saya papasan dengan Nura.” Mencoba menceritakan kejadian kemarin kepada Yusuf

Yusuf : “Mau sampai kapan ditahan terus sih tadz ? Udahlah, antum mending segera lamar Nura. Toh antum juga gak bisa lupain Nura"

Lihat selengkapnya