Satu Cinta untuk Selamanya

Annisa Nur Adhaniyah
Chapter #4

Mekarnya Bunga

Beberapa hari kemudian di sekolah, saat pelajaran Sejarah berlangsung Nura terlihat sangat gugup. Hatinya berdegup kencang saat Ahsan berdiri di depan meja nya sambil menjelaskan materi pembelajaran.

"Di kelas ini sekretaris nya siapa ya?" tanya Ahsan kepada semua murid

"Saya, Pak," jawab Nura sambil mengacungkan tangan.

Ketika Ahsan menjadi guru di sekolah panggilannya pun berubah menjadi "Pak" sebagai bentuk lebih menghormati.

"Boleh saya minta tolong untuk menuliskan ini di papan tulis?" ucap Ahsan sambil memegang sebuah buku.

"Boleh, Pak," jawab Nura.

Nura pun menghampiri meja guru lalu menulis materi pembelajaran di papan tulis. Ia menulis dengan perasaan gugup karena letak papan tulis sangat dekat dengan meja guru.

"Ehemm, gak usah gerogi gitu Ra," teriak Siti menggoda Nura.

Nura hanya membalasnya dengan tatapan tajam.

"Ada apa ya?" tanya Ahsan pura-pura tidak mengerti maksud Siti.

"Eh, enggak Pak," jawab Siti sambil tersenyum.

Semenjak Ahsan mengirimkan kembali pesan padanya, hari-hari Nura terasa lebih berwarna. Tidak bisa di pungkiri karena sering bertemu, Nura kini mulai memiliki perasaan kagum dan suka kepada Ahsan. Namun ia tidak banyak berharap, karena bagaimanapun Ahsan sekarang sudah menjadi gurunya di sekolah juga di pesantren.

Hari demi hari mereka lalui di tempat yang sama, kini pertemuan mereka selalu di warnai dengan senyuman. Ahsan sekarang lebih bersemangat ketika akan mengajar apalagi jika ia akan mengajar di kelasnya Nura.

Beberapa hari kemudian di sekolah saat jadwal Ahsan mengajar di kelas Nura, ia tidak melihat Nura. Ia pun mencoba bertanya kepada muridnya.

“Hari ini apakah ada yang tidak hadir?" tanya Ahsan dengan lantang.

“Ada Pak, Nura tidak hadir karena sakit," jawab Aida.

"Oh baik. Sekarang kita mulai saja pelajarannya.” Ahsan terlihat cuek, padahal dalam hatinya penuh dengan rasa khawatir.

Setelah pulang sekolah, Ahsan sengaja menunggu teman-teman Nura keluar dari kelasnya. Aida dan Siti pun lewat ke depan Ahsan.


“Aida, Siti tunggu dulu,” teriak Ahsan

"Iya Pak, ada apa?” jawab Siti dan Aida sambil menghampiri gurunya itu.

"Maaf saya mau tanya, Nura sakit apa ya?” tanya Ahsan khawatir.

"Katanya sih dia sesak nafas, penyakit asma nya kambuh, Pak,” jawab Siti.

“Oh gitu ya. Ya sudah, terimakasih ya,”

Lihat selengkapnya