Semenjak kepergian Mamanya, Nura sudah tidak lagi ikut mengaji di Pesantren Nurul Huda. Sekarang ia sibuk membantu Bapaknya untuk mengurus kedua adiknya, terlebih adik bayi yang baru berusia 5 hari itu.
Setiap hari Ahsan larut dalam pikirannya, hatinya ikut rapuh melihat Nura yang sangat terpukul ditinggal oleh Mamanya. Ia ingin menemani masa sulit Nura tapi ia sadar bahwa ia tidak memiliki hubungan apapun dengan Nura.
- Tujuh hari setelah kepergian Mama Nura -
“Abi, Ummi. Ahsan mau menikah," ucap Ahsan memecahkan hening di ruang tengah rumahnya.
“Menikah dengan siapa Ahsan?" jawab umminya terkejut.
"Sebenarnya, Ahsan sudah lama suka kepada Nura. Ahsan mendekatinya dari dia masih kelas 6 SD, Ummi. Dan Ahsan merasa sekarang dia juga punya perasaan yang sama kepada Ahsan,” jawabnya dengan penuh percaya diri.
“Nura anaknya Pak Edi ? yang istrinya baru meninggal itu kan?" tanya Umminya.
“Tapi Ahsan, keluarganya kan masih dalam kondisi berduka, apa kita tidak terlalu terburu-buru?” sahut Kiai Ahmad.
"Justru itu Abi, Ummi… Ahsan ingin menemani Nura di masa sulitnya. Sekarang dia sedang terpukul karena ditinggal Mamanya dan juga harus mengurus kedua adiknya. Ahsan ingin membantunya, tapi Ahsan tidak memiliki hubungan apapun dengan dia. Ahsan tidak ingin menimbulkan banyak fitnah, maka dari itu Ahsan memutuskan untuk menikahinya dengan segera,” ucap Ahsan.
“Niat kamu sudah bagus Ahsan. Kamu ingin menemani Nura tanpa menimbulkan fitnah diantara kalian. Malam ini kita shalat istikharah untuk meminta petunjuk kepada Allah. Semoga memang ini yang terbaik untuk kamu dan Nura,” tutur Kiai Ahmad.
Di sepertiga malamnya, Ahsan terbangun untuk melaksanakan shalat istikharah. Ia menyebut nama Nura dalam do’anya. Ia berharap segala keinginannya itu di permudah dan diridhai oleh Allah Swt.
Keesokan malamnya setelah selesai mengajar santri, Ahsan pulang ke rumah dan ternyata ia sudah ditunggu oleh kedua orangtuanya.
“Sini, duduk dulu Ahsan," ajak Umminya. Ahsan pun bergegas duduk di dekat kedua orangtuanya.
“Ahsan, setelah Abi dan Ummi beristikharah dan berdiskusi, Abi memutuskan untuk menuruti permintaan kamu untuk menikahi Nura. Abi yakin Nura adalah pilihan yang baik untuk kamu. Dia cantik, pintar, dan juga memiliki akhlak yang baik. Keluarganya pun semuanya baik. Insya Allah Abi dan Ummi siap mengantar kamu untuk menemui Nura dan Bapaknya," tutur Kiai Ahmad.
“Benar Ahsan, Ummi juga setuju kamu menikah dengan Nura. Dulu, almarhumah Mamanya Nura sering mengasuh adik kamu waktu kecil. Kamu pun tahu itu. Sekarang Ummi ingin membalas kebaikan almarhumah Mamanya Nura," sambung Umminya.
Mendengar pernyataan kedua orangtuanya, Ahsan sangat senang dan ia semakin yakin untuk segera menikahi Nura, wanita yang dari dulu sudah ia cintai.
“Kamu segera kabari Nura, bilang bahwa kita akan ke rumahnya besok setelah shalat isya," ucap Kiai Ahmad dengan tegas.
“Baik Abi, Ahsan segera kabari Nura. Terimakasih Abi, Ummi," jawab Ahsan dengan perasaan bahagia dan haru.
“Abi akan menentukan tanggal yang terbaik untuk pernikahan kamu dengan Nura," ucap Kiai Ahmad.
Keesokan harinya, Ahsan langsung menelepon Nura.
“Drrrtt…drrrrttt….” suara panggilan masuk dari handphonenya Nura. Ia pun segera mengangkat telepon yang ternyata dari Ahsan.
“Assalamu'alaikum Nura, apa kabar?" tanya Ahsan.
“Wa’alaikumussalam.. Alhamdulillah A kabar saya baik,” jawab Nura.
"Saya hanya ingin menyampaikan pesan.. Nanti malam setelah isya, saya akan datang kerumahmu bersama kedua orangtua saya,” ucap Ahsan.
Nura terkejut dengan pernyataan Ahsan.