Jika ditanya apa yang tidak bisa aku lupakan dalam hidupku? Itu adalah penderitaan ibuku. Penderitaannya yang berjuang demi menghidupiku. Dia menggendongku saat usiaku baru delapan bulan di sisi kiri pundaknya dengan bantuan kain, lalu di sisi pundaknya yang lain dia memanggul sekarung sayuran di tengan hiruk pikuk pasar yang masih gelap.
Adakalanya juga aku dititipkan pada tetangganya yang mau berbaik hati membantu saat ibu bekerja sebagai penyapu jalanan. Selain itu dia juga menjadi buruh cuci. Melakukan banyak pekerjaan demi menghidupiku.
Dia sebatang kara. Sendirian melakukan segalanya untuk ku.
Putri membayangkan betapa sulitnya masa itu bagi ibunya.
Meski dalam nestapa matanya tetap berbinar, senyumnya selalu terukir lebar. Meski terkadang aku tahu itu merupakan senyum kegetiran. Dan itu membuatku menahan tangis dan sakit di dada.
Aku ingin mengganti semua rasa sakit dan penderitaan, semua kesulitan dan kegetiran hidupnya dengan kebahagiaan, kebanggaan, serta memberikan kenyamanan dalam hidupnya.
Aku ingin menggantinya dengan semua hal itu. Bahkan dengan sebuah mimpi yang akan terus berdampak untuknya di akhirat kelak. Sebuah dampak mimpi yang tak akan pernah lepas meski kematian datang menjumpai.
Putri yang tengah duduk di kursi taman dengan memejamkan matanya tanpa terasa menitikan air matanya. Semilir angin yang berembus membuat bunga-bunga dan ranting pohon yang dipenuhi dedaunan bergoyang. Membuat suasana terasa sejuk dan damai. Menghapus sejenak rasa sedih yang menyapa hatinya.
Putri masih terus memejamkan matanya. Merasakan embusan angin yang menerpa hingga ke relung hatinya.
Putri sangat menyukai angin yang datang berembus. Baginya angin yang berembus mempunyai kekuatan yang besar. Memberi kedamaian di tengah hati yang sesak. Membuat dada yang sempit terasa kembali lapang. Meski hanya sesaat tapi kita membutuhkannya untuk kembali memupuk kekuatan di tengah kesulitan yang menerpa. Di tengah kondisi yang membuat kita merasa putus asa.
***
Demi mewujudkan mimpinya untuk membahagiakan ibunya, Putri menjadi sangat gila belajar. Di sekolah mau pun di rumah. Siang atau pun malam. Sebagian besar waktunya digunakannya untuk belajar. Bahkan Putri tidak pernah absen datang ke perpustakaan di kotanya setiap hari minggu. Menghabiskan waktu seharian di sana.
Dan selangkah, akhirnya usahanya pun mulai membuahkan hasil.
"Dan inilah momen yang ditunggu-tunggu, berkat tekad dan kerja kerasnya, dia berhasil mengharumkan nama sekolah sampai ke tingkat nasional. Bahkan bukan hanya sekolahnya saja, melainkan juga mengharumkan kota ini."
Seorang guru di atas panggung menjeda kalimatnya untuk mengatur irama nafasnya.