Satu Cita-cita Untuk Ibu

ani__sie
Chapter #2

2. Sekolah impian

Mariyah memeluk Putri lama sekali. Dia seolah tidak rela melepas sahabatnya itu pergi.

"Lepaskan Mariyah! Sampai kapan kau akan memelukku?" ujar Putri tersenyum.

"Biarkan aku memelukmu sedikit lebih lama. Sekarang aku tidak bisa sering bertemu dengan mu lagi. Aku pasti akan sangat merindukanmu," jawab Mariyah sambil mengeratkan pelukannya.

Putri mengelus-elus pungung Mariyah. Setelah beberapa lama Mariyah akhirnya melepaskan pelukannya.

"Meski pun nanti kau punya banyak teman baru di sana, tolong jangan lupakan aku." Mata Mariyah sudah mulai berembun.

Putri tersenyum seraya menatap sahabatnya itu.

"Kau pikir aku sejahat itu apa. Mana mungkin aku melupakanmu. Bicaramu sungguh asal. Tersenyumlah! Aku ingin senyummu yang mengantarku pergi, bukan air matamu."

Mariyah menghela nafas dalam. Mencoba menahan tangisnya namun gagal. Bulir dari matanya tetap saja beberapa kali menetes.

"Bagaimana ini? Aku tidak bisa menghentikan air mataku ini." Rengek Mariyah seraya terus mengusap matanya yang basah dengan ke dua telapak tangannya.

Putri tersenyum sedih lalu kembali merengkuh tubuh Mariyah.

"Aku juga pasti akan sangat merindukanmu. Bagiku kau seorang sahabat yang tak kan pernah tergantikan."

Mana mungkin bisa? Mariyah sahabatnya sejak dari SD. Mereka selalu bersama tak terpisahkan. Di mana ada Putri di situ pasti ada Mariyah. Ekonomi keluarga Mariyah lebih beruntung dibanding Putri.

Kala Putri tak punya uang jajan, Mariyah selalu membagi dua uang jajannya dengannya. Bahkan Mariyah selalu membantunya ketika Putri berjualan kue keliling di daerah tempatnya tinggal.

Mariyah melambaikan tangannya. Melepas kepergian Putri dan ibunya. Dia kemudian membentuk tangannya layaknya ponsel dan mendekatkan ke arah telinganya lalu sedikit berseru pada Putri yang masih melihat ke arahnya.

"Jangan lupa menghubungiku."

Putri tersenyum seraya mengangguk.

***

Dengan uang hasil hadiah Bapak Wali Kota, Putri dan ibunya memulai kehidupannya di Jakarta. Menyewa sebuah tempat yang akan dijadikan kedai makanan sebagai mata pencaharian ibunya.

Dengan semangat Putri membantu ibunya membersihkan tempat itu. Di saat ibunya mengepel lantai, Putri yang mengelap kaca-kaca. Lalu menata meja beserta kursinya. Dan kemudian bersama-sama membentangkan spanduk panjang dan mengikatnya di bagian atas kedai.

Putri dan ibunya saling beradu pandang lalu tersenyum melihat kedai mereka.

Lihat selengkapnya