Nasi beserta lauk-pauk sudah tertata rapi di atas meja. Meski hanya sebuah menu sederhana, namun selalu berhasil menggugah selera Putri untuk makan. Bagi Putri akan selalu menggugah selera karena ibunyalah yang memasak. Tangan ibunya seperti memiliki magic. Apa pun yang dimasaknya akan menjadi super lezat meski yang dimasak hanya menu sederhana.
Putri duduk di kursi makan. Tersenyum ke arah ibunya yang tengah mengambilkan nasi untuknya.
"Makan yang banyak. Dan jangan terlalu memforsir dirimu dalam belajar. Nikmati saja waktu sekolahmu," ucap ibunya saat menaruh sepiring nasi tepat di hadapan Putri.
Putri hanya tersenyum mendengarnya.
Ibunya sangat tahu lebih dari siapa pun bahwa Putri adalah orang yang sangat gila belajar. Putri bahkan sering belajar sampai larut malam. Membuat ibunya kadang merasa khawatir akan kehidupan anaknya yang akan kehilangan kebahagiaannya karena kegilaannya tersebut. Kegilaan yang membuat ibunya merasa bersalah. Karena kegilaan Putri didasari untuknya.
Ibu, Putri akan rajin belajar. Menjadi anak yang pintar dan membahagiakan Ibu. Kalimat yang pernah Putri lontarkan padanya. Sebuah kalimat yng secara bersamaan mengandung dua rasa sekaligus. Kebanggaan dan rasa sakit yang menghujam ke ulu hatinya. Karena penderitaannya Putri bertekad kuat seperti itu.
"Bagaimana hari pertamamu di sekolah? Apa menyenangkan?" tanya ibunya di sela-sela makan.
Putri menghentikan kunyahannya sejenak lalu tersenyum ke arah ibunya.
"Menyenangkan," jawabnya singkat kemudian melanjutkan kembali kunyahannya.
"Syukurlah, Ibu senang mendengarnya."
"Bahkan Putri kira sangat menakjubkan. Ibu tahu, di sana Putri menyaksikan beberapa kakak alumni sekolah yang bisa melanjutkan kuliah di luar negeri karena beasiswa. Ibu.." Putri menjeda kalimatnya. Dengan mata berbinar Putri menatap ibunya. Kini tatapan mereka saling bertemu.
Putri tersenyum.
"Ku kira di sekolah ini, Putri bisa menjadi apa pun yang Putri mau." Senyumnya terus mengembang seraya menatap ibunya.
Senyuman yang justru ditanggapi ibunya dengan kehawatiran yang tentu tidak terlihat oleh Putri.
"Ibu, Ibu ingin Putri jadi apa?" tambahnya kemudian dengan sumringah.
Ibunya tersenyum. Menyembunyikan kegetiran di dalam hatinya. Lalu kedua tangannya meraih tangan Putri.
"Kau tumbuh menjadi anak baik dan Solehah saja itu sudah lebih dari cukup bagi Ibu. Jangan buat dirimu terbebani hanya untuk membahagiakan Ibu."
"Ibu salah, kebahagiaan Ibu adalah kebahagiaan Putri. Saat Putri memperjuangkan kebahagiaan Ibu, itu sama saja seperti memperjuangkan kebahagiaan Putri sendiri. Jadi mana mungkin Putri terbebani."