Satu Cita-cita untuk Ibu

ani__sie
Chapter #4

4. Maudi Alya Pratama

Hari itu waktunya dia bersenang-senang. Memanjakan diri dengan segala hal yang menyenangkan. bersama kedua temannya dia masuk ke salon kecantikan ternama. Melakukan perawatan pada wajahnya yang sebenarnya sudah sangat sehat dan cantik.

Dia adalah Maudi Alya Pratama. Seorang anak semata wayang dari keluarga terpandang dan terpelajar. Ayahnya merupakan salah satu anggota DPR. Sedangkan mamanya mantan seorang model yang kini memiliki sekolah model ternama di ibu kota.

Paras Maudi menuruni mamanya yang cantik. Dengan tinggi badan seratus enam puluh sentimeter, kulit putih, bola mata kecoklatan dan rambut panjang hitam legam, kecantikannya tampak begitu nyata.

Dengan semua yang dimiliki kedua orang tuanya Maudi hidup dalam keberlimpahan. Kemewahan menjadi hal biasa dalam kesehariannya. Semua mata yang melihatnya akan selalu menghujaninya dengan kata beruntung.

Setelah selesai dari klinik kecantikan, Maudi dengan kedua temannya bersenang-senang ke taman hiburan. Menaiki berbagai macam wahana yang ada di sana. Setelah puas menunggangi berbagai macam wahana, mereka kini beralih menonton film di bioskop.

Meski pun watku sudah menunjukkan pukul enam sore, tak lantas membuat mereka berhenti dan pulang. Mereka melanjutkan kesenangannya dengan berbelanja. Mengitari toko demi toko. Baju, tas, sepatu mereka bawa pulang. Di antara kedua temannya Maudilah yang terbanyak menenteng paper bag hasil belanjaannya.

Waktu menunjukkan pukul sembilan malam. Dengan tangan yang dipenuhi belanjaan Maudi masuk ke dalam rumahnya. Betapa terkejutnya ia sampai menjatuhkan semua belanjaannya ke lantai saat di ruang tengah ayahnya sudah menunggu dengan tatapan mata tajam penuh kemarahan. Sedang mamanya yang berada di belakang ayahnya tampak khawatir dengan meremas-remas tangannya yang ditaruhnya di depan perut.

"A...ayah, bb...bukannya Ayah masih di luar kota?" ucap Maudi terbata-bata. Ketakutan seketika menjalar ke seluruh tubuhnya. Lidahnya tiba-tiba terasa kelu. Susah payah dia menelan salivanya. Menahan rasa takut.

Mendengar kalimat itu ayahnya menyeringai.

"Seperti inikah dirimu saat Ayah pergi?" ujar ayahnya dingin.

"Sudahlah sayang, jangan terlalu keras padanya. Tidak apa kan sesekali dia bersenang-senang?" tutur istrinya dengan nada lembut seraya menyentuh lengannya yang dengan kontan segera ditepis oleh suaminya.

"Jangan ikut campur. Ini urusanku dalam mendidiknya," sergah suaminya Dengan tatapan nyalang ke arah Maudi.

"Dasar anak tidak tahu diuntung," umpat ayahnya kemudian.

Maudi yang gemetar menundukan kepalanya dan menautkan kedua tangannya ke depan. Kemudian rasa sakit seketika ia rasakan hingga membuat dadanya terasa berat. Bibirnya bergetar. Dia sekuat tenaga berusaha menahan tangisnya agar tidak pecah.

Mamanya tidak bisa berbuat apa-apa. Kasih sayangnya sungguh tak berdaya. Hanya bisa menahan rasa sakit dan iba melihat kesakitan anaknya.

"Seharusnya kau membalas semua yang telah kami berikan dengan bersungguh-sungguh. Kamu boleh bersenang-senang saat kau sudah menjadi yang pertama," papar ayahnya tegas.

Dalam peringkat ujian nasional Maudi menduduki peringkat ke tiga di bawah Rangga dan Putri dalam tingkatan nasional. Dan lucu sekaligus menyebalkannya bagi Maudi, kini mereka berada dalam satu sekolah. Bahkan satu kelas yang sama.

Ayahnya berjalan mendekatinya. Memandangnya sekilas dengan raut wajah marahnya. Lalu membungkuk memunguti semua paper bag hasil belanjaan Maudi yang tergeletak di lantai.

"Simpan ini! Jangan kau berikan padanya sebelum dia meningkatkan peringkatnya." Titah suaminya seraya mengisyaratkan istrinya untuk mengambil alih belanjaan.

Lihat selengkapnya