Satu Cita-cita untuk Ibu

ani__sie
Chapter #5

5. Kedai Istimewa

Seorang guru matematika tengah menerangkan materi di depan. Di tengah keseriusan sang guru beberapa murid menguap lebar. Memainkan handphone secara diam-diam. Bahkan ada yang tertidur kemudian terbangun lagi karena terkejut oleh kepalanya sendiri yang seolah akan terjatuh ke meja.

Berbeda halnya dengan Putri, dia begitu antusias mendengarkan. Dan Rangga pun yang tampak anti sosial dia begitu antusias jika mengenai belajar.

Bel berbunyi nyaring. Kontan membuat semua siswa yang semula bosan kembali berbinar dan semangat.

"Baiklah, sampai di sini pelajaran kita hari ini. Tapi jangan lupa Minggu depan akan ada ulangan tertulis. Ibu harap kalian mempersiapkannya dengan baik," ujar guru di depan seraya membereskan bukunya yang ada di meja.

Pengumuman yang kompak disambut tidak suka para siswa. Menghela nafas pelan seraya menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi. Wajah semangat siswa yang semula terpancar karena bel yang berdering nyaring menguap cepat berganti ekspresi kecut memelas.

Seorang siswa tiba-tiba mengacungkan tangannya.

"Ada yang mau ditanyakan?" sahut guru di depan.

"Bu, kenapa sih pelajaran matematika itu terasa sulit?" celetuk siswa itu asal.

Namun sang guru menanggapinya dengan bijak dan serius. Guru di depan tersenyum menatap siswa yang bertanya kemudian menatap ke semua siswa di kelas.

"Itu karena mindset kalian. Karena suasana hati kalian yang salah ketika dalam belajar. Kalian sering menghadirkan rasa bosan ketika dalam belajar. Dengarkan nasehat ini."

Guru di depan menjeda kalimatnya.

"Jim Kwik pernah berkata, suasana hati dan perasaan kalian dalam mempelajari sesuatu mempengaruhi pada apa yang kalian pelajari. Jika kebosanan kalian diukur dari skala nol sampai sepuluh dan jawabannya adalah nol, maka ingatlah, apa pun yang dikali nol akan tetap menjadi nol. Itulah sebabnya mengapa banyak orang tidak mengingat apa yang mereka pelajari."

" Begitu pula dengan mindset kalian harus tetap dijaga tetap positif dan optimis," tambah guru di depan.

Di tempat duduknya Putri mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Sampai jumpa minggu depan. Jangan lupa kondisikan suasana hati kalian di saat tengah belajar." Setelah menyelesaikan kalimatnya guru di depan beranjak keluar kelas. Diikuti oleh para siswa dalam beberapa detik kemudian. Suasana kembali riuh.

***

Kedai Bu Yuki lumayan ramai. Dengan memperkerjakan satu pekerja bu Yuki sangat terbantu dan tidak terlalu kewalahan dalam melayani pelanggan saat kedai ramai.

Dari pintu keluar dapur Bu Yuki mendaratkan pandangannya ke arah meja pojok kedai yang kini tengah diduduki Frizi. Dalam seminggu itu Frizi rutin datang dan memesan makanan. Namun dalam seminggu itu pula makanan yang dipesannya sedikit pun tak pernah dia sentuh. Masih utuh seperti sedia kala saat dia keluar meninggalkan kedai.

Bu Yuki yang miris melihat makanan tersebut sekaligus berempati pada sosok itu yang tampak murung dan tak berselera mencoba menghampirinya.

"Maaf, Nak," sapa Bu Yuki saat menghampiri Frizi di tempatnya.

"Oh, iya, Bu," balas Frizi tersadar dari lamunannya.

"Maaf jika Ibu lancang, tapi setiap kali Ibu lihat kamu datang dan memesan makanan, setiap itu pula kamu tidak memakannya. Apa ada masalah dengan makanannya?"

Frizi mulai merasa tak enak hati.

"Oh, tidak Bu, tidak ada masalah."

Lihat selengkapnya