Satu Cita-cita untuk Ibu

ani__sie
Chapter #6

6. Perpustakaan Nasional RI

Selain menyukai angin yang berembus, Putri juga sangat menyukai perpustakaan. Tempat di mana buku-buku berjejer begitu banyak dan tampak begitu menakjubkan.

Jika ilmu itu berbentuk, maka perpustakaan akan sesak karenanya bahkan mungkin tidak bisa menampungnya.

Tepat pukul sembilan pagi Putri sudah duduk manis di dalam busway yang membawanya menuju jalan Medan Merdeka Selatan no 11. Dia sudah tak sabar untuk segera sampai di perpustakaan Nasional RI. Perpustakaan yang mendapat julukan perpustakaan tertinggi di dunia.

Putri turun sesampainya di halte Balai Kota. Lalu kemudian untuk sampai di gedung perpustakaan Nasional RI Putri harus menyebrang jalan. Karena letak gedung perpustakaan tepat di sebrang halte.

Itu pertama kalinya Putri datang ke perpustakaan Nasional RI. Perpustakaan yang memiliki dua puluh empat lantai. Baru mendengarnya saja sudah sangat menakjubkan.

Putri melangkahkan kakinya masuk ke sebuah rumah lawas yang di dalamnya dijadikan ruang pameran berbagai instalasi seni. Hal-hal yang berhubungan dengan Nusantara. Belum apa-apa Putri sudah dibuat kagum oleh tempat itu.

Setelah keluar melalui pintu belakang rumah lawas, Putri dibuat tercengang oleh penampakan gedung yang menjulang tinggi di hadapannya.

Memasuki lobi keterkejutannya semakin meningkat diiringi oleh rasa takjub kala rak buku yang tampak megah menjulang tinggi empat lantai menyambutnya di dalam lobi. Untuk beberapa saat Putri mendongakkan kepalanya takjub.

Putri melanjutkan langkah menuju petugas untuk menitipkan tasnya. Petugas kemudian memberikan kunci loker dan tas yang tampak transparan.

Saat mengelilingi setiap lantai Putri selalu dibuat takjub. Desain yang megah di setiap lantai, buku-buku yang tersusun rapi di rak-rak yang beraneka ragam disertai tempat baca yang sangat nyaman. Berbagai model kursi dan meja tersedia. Ada meja panjang dan kursi seperti pada umumnya, tersedia juga tempat baca dengan kursi empuk layaknya ruang tamu pribadi yang tampak mewah. Selain itu begitu banyak komputer yang bisa digunakan oleh pengunjung. Dari yang berjejer panjang, bahkan yang berkotak-kotak layaknya sebuah perkantoran profesional. Dan masih banyak lagi fasilitas-fasilitas yang mumpuni yang tak pelak menyuguhkan rasa kagum dan takjub.

Putri hanya bisa terus menganga dibuatnya.

Namun hal paling menakjubkan dari perpusnas RI adalah lantai dua puluh empat. Dari lantai paling atas itu kita bisa melihat monumen Nasional Monas dengan sangat jelas.

Dinding yang diganti dengan kaca-kaca besar membuat kita bisa menyaksikan Monas dari dalam gedung. Selain itu kita juga bisa menyaksikan Monas dari ruang terbuka gedung lantai dua puluh empat tersebut. Dengan dibatasi stainlees yang berlapis kaca yang tampak kokoh sebagai pembatas, kursi-kursi panjang layaknya kursi taman yang tersedia, membuat kita nyaman melihat Monas dari sana.

Putri berdiri di antara pembatas stainlees yang berlapis kaca. Menatap kokohnya Monas yang tampak sangat jelas di matanya.

Angin yang berembus lumayan kencang membuat ujung khimarnya menari-nari tersapu angin. Putri sejenak memejamkan matanya untuk menikmati embusan angin tersebut. Lalu membuka matanya kembali setelah beberapa saat dan menatap Monas diiringi senyumnya yang mengembang penuh.

Para pengunjung seolah sibuk dengan dunianya sendiri. Mengekspresikan rasa takjub dan gembiranya dengan cara sesuai keinginannya.

Putri beberapa lama memandangi pemandangan indah di depannya. Namun betapa terkejutnya ia ketika dia menoleh ke sisi kanan dan hanya berjarak beberapa meter saja Rangga ternyata berdiri tengah menatapnya. Pandangan mereka kini saling bertemu.

Setelah beberapa detik pandangan mereka saling beradu, Putri kembali mengarahkan pandangannya ke depan. Rasa canggung seketika menyelimuti hatinya.

Putri menunduk memejamkan matanya. Menghela nafas dengan sangat pelan.

Lihat selengkapnya