Di sepertiga malam Putri bangun dari tidurnya. Mendudukkan tubuhnya beberapa saat dengan mata yang masih terpejam rapat. Setelah beberapa menit dia membuka matanya. Beranjak dari tempat tidurnya menuju kamar mandi yang ada di dapur. Membersihkan diri lalu berwudu. Dan kemudian melakukan solat tahajud dua rakaat. Setelah dia selesai berdoa Putri langsung mengambil Al-Qur'annya. Mulai menghafal ayat demi ayat dari surah Al-Baqaraah. Dia sesekali menguap dan juga mengucek matanya. Mencoba menahan rasa kantuknya dan berusaha tetap fokus dalam menghafal.
Selain ingin membahagiakan ibunya di dunia, Putri juga ingin membahagiakannya di akhirat juga.
Putri menghela nafas dan menundukkan kepalanya dalam-dalam karena sedikit merasa frustasi karena dia selalu lupa pada ayat yang tengah dihafalnya.
"Putri semangatlah! Bukankah kau ingin memberikan mahkota untuk ibumu di akhirat kelak. Semangat Putri semangat," ujarnya pelan untuk menyemangati dirinya sendiri.
"Ya Allah, berikan kemudahan pada hamba dalam menghafal Al-Qur'an. Aku ingin membahagiakan Ibu bukan hanya di dunia tapi juga di akhirat kelak. Tolong Putri ya Allah," ujarnya lagi sebelum kembali membenamkan diri dalam menghafal.
Putri terus mengulang satu ayat itu berkali-kali. Berusaha menancapkannya kuat dalam ingatan.
Putri sedang menghafal surah Al-Baqarah, tepatnya juz ke dua. Sebelumnya Putri sudah menghafal lima juz akhir Al-Qur'an sehingga totalnya dia sudah menghafal enam juz Al-Qur'an.
Akhirat adalah kehidupan yang sesungguhnya. Yang kekal tidak ada lagi kematian. Sebuah kehidupan yang jika menderita akan sangat menderita, dan jika bahagia akan sangat bahagia. Kebahagiaan dan penderitaannya tidak akan pernah sebanding dengan yang pernah dirasakan di dunia. Batin Putri setelah berhenti menghafal dan menutup Al-Qur'annya.
"Putri kamu harus selalu ingat itu," lanjut gumamnya lalu menghela nafas pelan.
Tepat pukul enam pagi Putri dan ibunya sarapan. Dengan penuh sayang ibunya menyentongkan nasi goreng ke piring kemudian diletakkan di depan Putri yang duduk manis dan sudah berseragam sekolah.
"Habiskan. Kamu butuh energi besar untuk belajar, bukan?" ucap ibunya setelah ia duduk. Ibunya sangat senang menggoda Putri yang gila akan belajar itu.
Putri tersenyum dengan binar bahagia di matanya. Dia merasa sangat beruntung memiliki ibunya yang sangat menyayanginya. Kalimat itu seolah selalu muncul di benaknya saat dia sedang bersama ibunya.
Putri menyeruput teh hangat yang baru saja ibunya tuangkan. Nasi goreng di piringnya sudah habis. Beberapa detik Putri menatap ibunya yang tengah menuangkan teh ke gelas untuk dirinya sendiri.
"Ibu," panggil Putri pelan.
"Hm..." sahut ibunya seraya menaruh teko kembali ke atas meja kemudian mengarahkan pandangannya pada Putri.
Tatapan mereka saling bertemu. Putri kemudian tersenyum.
"Ibu harus tetap berada di sisi Putri. Tunggu Putri sampai Putri sukses dan membuat Ibu bangga," ucap Putri tulus.
"Kau mulai lagi," jawab ibunya seraya menatapnya serius. Dan beberapa detik kemudian tersenyum.
"Baiklah Ibu akan menunggumu. Melihat seberapa sukses anak Ibu yang ambisius ini. Lagi pula Ibu mau pergi kemana? Tempat Ibu memang untuk berada di sisimu," lanjut ibunya mencairkan suasana kembali.
Mereka berdua sama-sama tertawa kecil sebelum akhirnya satu tangan ibunya meraih tangannya. Lalu digenggamnya erat dengan kedua tangannya. Menatap Putri dengan mata teduhnya. Ketulusan terpancar jelas dari mata itu.
"Jangan membuatmu sulit hanya untuk membahagiakan Ibu. Ibu ingin kau bahagia. Jangan pernah lupa untuk bahagia."
Putri memanyunkan bibirnya.
"Sudah yang keberapa kalinya Ibu mengatakan Ibu."
Putri menaruh satu tangan ke atas tangan ibunya yang tengah menggenggam tangannya erat. Memicingkan kedua matanya ke arah ibunya.
"Jangan khawatir, Putri tidak akan melupakan itu," ucap Putri meyakinkan ibunya.
"Ibu harus percaya pada Hilya," lanjutnya.
***
Di depan kelas Bu Sopi tengah menerangkan materi Bahasa Indonesia.
"Menyampaikan ide melalui anekdot," papar Bu Sopi di depan.
"Putri terangkan apa anekdot itu?" lanjut Bu Sofi mengarahkan pandangannya ke arah Putri dengan satu tangan tertumpu di meja.
"Baik Bu," jawab Putri, dan dalam beberapa detik dia mulai menerangkan apa anekdot itu.
"Anekdot merupakan cerita singkat dan lucu yang digunakan untuk menyampaikan kritik melalui sindiran lucu terhadap kejadian menyangkut orang banyak atau perilaku tokoh publik," terang Putri lantang.
"Ya tepat," sergah Bu Sofi sedikit menunjukkan jari telunjuknya seraya mengubah posisi menjadi lebih tegak.
Bu Sofi kemudian melirik ke jam tangan yng melingkar di pergelangan tangannya.
"Stand up comedy merupakan cerita lucu yang terkadang berisikan sebuah sindiran. Lalu pertanyaannya apakah itu merupakan anekdot?" Bu Sofi diam sejenak, mengarahkan pandangannya menyapu kelas.
"Stand up comedy hanyalah sebuah media untuk menyampaikan anekdot. Oleh karena itu Ibu akan bagi kalian dalam beberapa kelompok untuk membuat stand up comedy yang merupakan anekdot."
"Yaaaah...." Kompak beberapa siswa mengeluarkan keluhannya.
"Minggu depan kalian harus mementaskannya di depan. Ketua kelas ini kelompok yang sudah Ibu bagi. Hari ini sekian."