Satu Cita-cita untuk Ibu

ani__sie
Chapter #8

8. Hukuman Yang Menyakitkan

"Untuk hari ini pelajaran cukup sampai di sini. Ini dia hasil ujian harian kalian," ucap Bu Siwi seraya mengetukkan jarinya di atas kertas yang tertumpuk di atas meja.

"Ibu rasa kalian masih belajar matematika dengan mindset bahwa matematika itu sulit. Hanya satu yang dapat nilai sempurna. Yang lainnya Ibu harap belajar lebih giat lagi."

Banyak siswa yang mendesah di kursinya masing-masing. Seolah sudah menduganya. Suasana kembali riuh.

"Ketua kelas silahkan bagikan!" Bu Siwi puu keluar dari kelas.. Setelah itu ketua kelas pun maju untuk membagikan hasil ujian.

Dia memanggil satu persatu nama hingga para siswa pu satu persatu maju ke depan. Mayoritas ekspresi mereka lesu kala melihat hasil yang tertera di kertas.

Setelah mengambil lembar hasil ujian salah satu siswa berjalan berkeliling melihat lembar demi lembar milik para siswa. Siswa lain juga ikut melakukannya. Mereka sangat penasaran siapa yang mendapat nilai sempurna itu.

Suasana kelas menjadi ramai.

Setelah beberapa saat berkeliling melihat lembar demi lembar hasil ujian milik siswa-siswa lain, salah satu siswi berhenti kemudian berucap.

"Putri dapat 95, Maudi dapat 85, lantas siapa yang dapat nilai 100?" ujar siswi itu masih berdiri di antara kursi para siswa.

"Hei kenapa bingung. Sudah pasti Ranggalah," celetuk anak laki-laki yang duduk di belakang dengan begitu lantang.

Siswi yang mengitari setiap lembar hasil ulangan temannya pun kemudian melirik sekilas pada Rangga. Ya, meski mereka berkeliling namun mereka melewati Rangga. Terlalu menakutkan untuk mendekati Rangga yang sangat dingin itu. Beberapa detik kemudian siswi itu mengangkat kedua bahunya dengan ekspresi bergidik ngeri.

"Hiii.... Tapi aku tetap tidak suka dengan dia. Dia terlalu dingin melebihi Kutub Utara," umpat siswi itu lirih lalu segera berjalan menuju kursinya.

Rangga yang duduk di belakang tetap diam tak menanggapi.

Dan memang benar, Ranggalah yang mendapat nilai sempurna itu.

"Bukankah hasilnya sudah bisa ditebak. Tiga peringkat tertinggi nasional ada di kelas kita, dan pasti hasilnya pun sesuai peringkat mereka," lanjut anak laki-laki itu lagi membuat siswa-siswa lain menganggukkan kepala mereka setuju.

"Ya dia benar."

"Dia benar."

Sayup-sayup suara dari para siswa terdengar.

Rahang Maudi mengeras. Dia meremas ujung lembar hasil ulangan yang masih dia pegang.

Para siswa memberesi barang-barang mereka untuk bersiap pulang.

"Ayo Put, aku duluan yah," ucap seorang siswi seraya menepuk pundaknya sebelum ia keluar. Putri tersenyum seraya mengangguk pelan untuk menanggapi.

"Aku juga duluan yah," sambung siswi yang lain juga padanya.

Sejauh itu kondisi berjalan baik-baik saja. Meski Putri belum memiliki teman dekat di sekolah barunya, namun semua siswa ramah padanya. Kecuali satu orang. Maudi. Putri tidak tahu kenapa Maudi tidak menyukainya.

***

Di dalam busway Putri duduk di kursi dekat jendela. Di sebrang tempatnya duduk Rangga ternyata ada di sana. Duduk manis seraya membaca buku.

Setelah sesaat melihat ke arah Rangga, Putri mengalihkan pandangannya ke depan. Mengeluarkan headset dari dalam tas lalu memasangkannya ke handphone yang dia pegang.

Putri menyetel ponselnya. Memasang headset itu di kedua telinganya. Suara morotal Al-Qur'an pun menyapa pendengarannya.

Meski tanpa bersuara Putri mulai melafalkannya dengan kedua bibirnya. Mengikuti ayat demi ayat yang ia dengar.

Itu merupakan salah satu caranya untuk murojaah hafalannya yang baru dihafal dan belum begitu menancap di kepalanya. Di sela-sela kesibukannya belajar.

Dari sebrang tempat duduknya ternyata Rangga sudah lama memperhatikannya.

***

"Aku merindukanmu."

Lihat selengkapnya