Satu Cita-cita untuk Ibu

ani__sie
Chapter #9

9. Awal Rasa Sakit

Angin berembus cukup kencang. Menjadi seperti alunan musik yang berirama karena membuat bunga-bunga dan dedaunan yang melekat di ranting-ranting pepohonan terus bergoyang.

Putri duduk di kursi taman sekolahnya seraya memejamkan mata. Merasakan embusan angin yang menerpa kulitnya lalu merembes masuk ke dalam jiwa.

Pernahkah kalian berpikir pemandangan seperti ini sungguh menakjubkan? Menikmatinya dalam waktu yang sangat lama pun tidak akan pernah membosankan. Gumam Putri membatin.

Bukankah angin yang berembus itu begitu spesial? Karena mampu mengusir sejenak kesedihan, meringankan dada yang tengah merasa sesak. Meski tidak menyelesaikan masalah, namun kita membutuhkan itu untuk memupuk kembali kekuatan untuk dapat kembali menghadapi kenyataan dengan penuh percaya diri. Setidaknya itulah yang ku rasakan. Lanjutnya membatin masih memejamkan matanya di tengah embusan angin yang terus menerpanya. Membuat suasana gemerisik yang ditimbulkan dari daun-daun yang terus melambai.

Setelah beberapa saat Putri membuka matanya. Tersenyum menatap pepohonan dan bunga-bunga di sekitarnya yang tak henti-hentinya bergoyang.

"Aku suka sekali angin. Entahlah, apakah ini karena kegetiran hidup yang pernah ku alami atau karena alasan lain? aku tidak tahu. Dan aku pun tidak tahu apakah perasaan seperti ini hanya dapat dirasakan oleh orang yang memiliki kegetiran dalam hidup atau oleh siapa pun? Entahlah," gumam Putri lalu menghela nafas pelan.

Tapi bagiku angin yang berembus selalu berhasil membuatku bisa bernafas di saat aku seolah tak bisa bernafas. Ujar Putri membatin lagi seraya terus menatap ke arah bunga-bunga yang terus bergoyang karena terpaan angin.

Setelah libur panjang, para siswa akhirnya kembali pada rutinitas kesehariannya sebagai pelajar.

Di halaman sekolah yang luas itu, siswa-siswa berjalan menuju gedung sekolah yang tak kalah besarnya. Menjalani rutinitas mereka sebagai pelajar kembali.

Kini Putri duduk di kelas sebelas. Dan satu kelas lagi dengan Rangga dan juga Maudi.

"Di dalam sejarah bangsa-bangsa di dunia dikenal adanya masa penjelajahan samudra. Aktifitas ini dalam rangka untuk menemukan dunia baru. Aktifitas yang juga tidak terlepas dari motivasi dan juga keinginan untuk survive, memenuhi kepuasan dan kejayaan dalam kehidupan dunia."

Beberapa siswa menguap lebar. Bosan dengan pelajaran yang tengah diterangkan seorang guru di depan.

"Ada pun bangsa-bangsa yang pernah menjelajah yaitu seperti Spanyol, Portugis, Belanda, dan juga Inggris."

Maudi melamun tidak mendengarkan. Pelajaran terasa sangat membosankan bagi para siswa. Bahkan ada salah satu siswa yang duduk di belakang sampai tertidur. Menelungkupkan kepala yang ditumpukan pada kedua tangannya yang dijadikan bantal.

Di kelas itu hanya Putri dan Rangga yang tampak serius memperhatikan apa yang sedang diterangkan oleh guru di depan.

***

Bel pulang berdering nyaring. Para siswa berhamburan keluar kelas.

Dengan kedua tangan yang diapit oleh kedua teman Maudi di kanan dan kirinya, mereka membawa paksa Putri ke tempat yang sepi di sekolah.

"Lepas, apa yang mau kalian lakukan padaku," ujar Putri seraya meronta.

Kedua teman Maudi tidak peduli. Mereka terus menyeret Putri sampai ke belakang sekolah.

Di sana Maudi telah menunggu dan menyeringai setelah melihat sosok Putri.

Sesampainya di depan Maudi kompak kedua temannya mendorong Putri hingga jatuh berlutut tepat di depan Maudi.

Lihat selengkapnya