Dari balik kaca mobil yang terus berjalan Maudi menatap sendu ke arah gedung di pinggir jalan yang bertuliskan kursus tata rias. Seiring mobil yang terus melaju gedung itu pun hilang dari pandangan matanya, membuat Maudi mengalihkan pandanganya ke depan dengan ekspresi sendu dan mata yang menerawang entah kemana.
Tidak lama kemudian dia membuka tas sekolahnya. Mengambil tempat makeup yang dia bawa dan membuka sletingnya. Matanya menatap sayu ke arah berbagai kosmetik yang ada di sana.
Sesampainya di rumah dia segera masuk ke kamarnya. Melepas tas yang semula melekat di tubuhnya ke sembarang tempat di lantai kamar. Maudi lalu membanting tubuhnya ke tempat tidur. Memejamkan matanya seraya menghela nafas dengan seragam yang masih melekat.
Tahukah kalian menjalani kehidupan yang tidak sesuai keinginan seperti memikul beban teramat berat dengan waktu yang berjalan sangat lambat.
Kekangan Ayah, tuntutannya padaku agar menjadi seperti yang diinginkannya membuatku tidak bisa bersuara dan melakukan apa yang ku inginkan. Aku tidak bisa mengejar impianku.
Seiring membatin pandangannya terus terarah di langit-langit kamarnya.
Sikap Ayah membuatku hidup dengan beban berat hingga waktu seolah berjalan sangat lambat. Aku berada dalam kehidupan neraka berselimutkan kemewahan. Sangat mengerikan dan tak terbayangkan. Lanjut batinnya.
Jarum jam terus berputar melewati angka demi angka, dan sekarang tepat menunjukan pukul delapan malam.
Maudi bangun dari tidurnya. Dia kemudian beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah rapi berganti baju dia mendudukkan diri di meja belajarnya. Meraih laptop dan menyalakannya. Maudi lalu menonton tutorial tata rias di YouTube.
Ekspresi wajahnya tampak berbinar senang. Dia begitu antusias memperhatikan dan sesekali meniru apa yang dilakukan tokoh di dalam video meski hanya dengan tangannya dan bukan alat makeup. Senyumnya terus terukir tanpa pudar sedikit pun ketika menyaksikan video itu sebelum akhirnya ketukan dari luar pintu kamarnya segera memudarkan senyuman itu dan membuatnya terkejut. Spontan mematikan laptopnya dengan cepat.
"Sayang, keluarlah. Ayo kita makan." Suara mamanya terdengar dari balik pintu. Membuatnya menghela nafas lega. Melemaskan tubuhnya yang semula menegang.
Maudi pikir itu ayahnya. Dan jika ketahuan tengah menonton video itu ayahnya pasti akan sangat marah.
Hal itu pernah terjadi suatu hari dan membuat ayahnya benar-benar mengamuk. Kemarahan ayahnya sangat menyeramkan. Bahkan karena itu ayahnya mengacak-acak kosmetiknya yang terpajang rapi di meja rias hingga berserakan di lantai. Bahkan saat itu ayahnya mengancamnya, jika dirinya tertangkap basah tengah menonton video itu ayahnya akan menyita semua kosmetik beserta peralatan kecantikannya. Mengingat itu Maudi hanya bisa menghela nafas dalam.
Di meja makan Maudi menyantap makan malam bersama kedua orang tuanya. Terus memakan makanan yang sebenarnya tidak terasa nikmat karena hatinya yang tidak dalam keadaan baik.
Maudi terus memasukkan makanan ke dalam mulutnya tanpa bersuara sedikit pun dengan pandangan yang terarah pada piring yang berada di depannya.
"Jangan lengah dan kalahkan dia. Kau mengerti?" ujar ayahnya di sela-sela makan.
Maudi menganggukkan kepalanya seraya terus mengunyah.
"Jika kali ini kau kalah lagi, hukuman yang Ayah berikan akan jauh lebih berat lagi. Kau harus ingat itu," lanjut ayahnya kali ini seraya menatap Maudi. Maudi kembali mengangguk. Anggukkan yang sangat pelan hingga terlihat samar.
Merasakan ketegangan yang mulai tercipta di meja makan membuat mama Maudi buka suara.