Di kantin para siswa mengantri membentuk barisan untuk mendapat giliran makan siang.
Meja-meja terisi oleh para siswa yang tengah makan dengan sesekali bercanda dan tersenyum di sela makan mereka.
Putri duduk di meja yang masih kosong. Mulai menikmati santap siangnya.
"Hei, boleh aku duduk di sini?" Ijin Nina yang masih berdiri di depan Putri.
"Hm.." ucap Putri terlebih dulu mendongak.
Nina menaruh tempat makannya di meja. Dia kemudian duduk tetap di depan Putri.
"Jika aku minta diajari matematika kamu bersedia tidak?" Pinta Nina setelah ia duduk.
"Hm, tentu saja boleh," jawab Putri sejenak menghentikan kunyahannya seraya menatap Nina.
"Benarkah? Terima kasih." Nina tersenyum kemudian mulai menyantap makanannya.
Ketenangan makannya terganggu saat tiba-tiba Maudi dan kedua temannya menghampirinya. Maudi berkacak pinggang kemudian menyeringai. Tidak lama kemudian Maudi meminta pada satu temannya untuk memberikan air mineral yang dipegang temannya.
"Air mineral part dua," ujar Maudi dengan senyum yang mengembang. Segera membuka tutup botol air mineral tersebut lalu kemudian mengguyurkannya secara perlahan ke tempat makan Putri.
Nina yang berada di depannya terdiam karena terkejut. Lalu buru-buru pergi dari sana beralih ke meja lain. Seisi kantin sontak menoleh ke arah insiden yang sedang terjadi.
Ada yang membelalakkan mata, ada pula yang menganga, namun mereka aemua tetap diam tak menegur atau pun membantu Putri.
Rangga yang juga melihat kejadian itu hanya memasang wajah datar. Tetap diam di tempatnya dan melanjutkan makannya seolah tidak terjadi apa-apa. Setelah beberapa saat dia kemudian pergi dari meja seraya membawa tempat makannya.
***
Putri menghela nafas dalam. Tersenyum meski dengan keperihan yang tampak jelas dari sorot matanya. Dengan perlahan dia menutup matanya. Menikmati angin yang berembus kencang yang menerpa tubuhnya.
Tidak apa-apa Putri, tidak apa-apa. Kau pasti bisa melewatinya. Batinnya berucap berusaha menguatkan dirinya sendiri.
Untuk beberapa lama Putri terus memejamkan matanya. Meski terpejam dia bisa merasakan pepohonan yang rindang di taman tengah bergoyang karena embusan angin yang menerpanya. Sedikit demi sedikit kedamaian memasuki relung hatinya.
***
Seraya memeluk bantal satu tangan Putri mengetuk beberapa kali pintu kamar ibunya. Lalu memutar kenop pintu dan menyembulkan kepalanya ke dalam.
Putri tersenyum melihat ibunya yang tengah duduk di sisi kasur.
"Ada apa?" tanya ibunya.
"Boleh Putri tidur dengan Ibu?"
Tak butuh waktu lama ibunya langsung tersenyum menanggapi.
"Tentu saja. Masuklah!"
Putri masuk seraya tersenyum menghampiri ibunya. Mereka kemudian berbaring bersisian. Menatap ke atas.