Pagi itu matahari bersinar sangat cerah.
Rangga berlari dengan kecepatan sedang. Melewati pepohonan demi pepohonan. Bahkan melewati orang-orang yang juga berlari melintas berlainan arah dengannya.
Pikiran tentang Putri belum juga beranjak dari kepalanya sejak semalam.
Seiring langkahnya yang terus berlari wajah Putri selalu muncul di benaknya. Tatapan sendunya yang dihiasi senyuman saat mendapatkan perlakuan tidak baik dari Maudi sulit dia enyahkan dari kepalanya.
Meski berada dalam ketidakadilan mata itu tetap memancarkan cahayanya.
Rangga berhenti dari berlarinya. Nafasnya masih terengah-engah. Dia frustasi dengan perasaannya sendiri.
Dia memejamkan matanya rapat-rapat lalu menghela nafas dalam. Kemudian membuka matanya lagi. Mengelap sejenak keringat yang memenuhi wajahnya dengan handuk kecil yang ia sampirkan di lehernya.
Rangga kemudian menyeringai.
"Sepertinya aku sudah benar-benar gila!" Rutuknya lirih. Rangga kemudian menundukkan kepalanya. Menghela nafas lagi. Dia merasa kesal dengan dirinya sendiri yang tak kunjung bisa mengenyahkan pikiran tentang Putri dari kepalanya.
Sebelumnya dia tidak pernah seperti itu.
Baru saja ia hendak melangkah dari tempatnya berdiri ayunan kakinya ia tarik lagi saat di depannya Maudi mendekat ke arahnya.
"Hai Rangga, senang bertemu denganmu di sini," sapa Maudi dengan senyuman lebarnya.
Rangga diam tidak menanggapi. Dia melihat ke arah Maudi dengan tatapan khasnya. Tatapan dingin.
Maudi tetap tersenyum tidak tersinggung. Karena dia tahu seperti itulah ekspresi Rangga dalam kesehariannya. Itulah yang Maudi pikirkan.
Dia tidak tahu bahwa dalam ekspresi dinginnya Rangga menyimpan ketidaksukaan padanya.
"Mau ku temani?" lanjut Maudi masih dengan senyum di bibirnya.
Rangga yang menatapnya dingin tetap diam tidak menanggapi. Lalu dalam beberapa detik kemudian dia pergi begitu saja tanpa berkata sepatah kata pun. Meninggalkan Maudi yang masih berdiri di tempatnya. Rangga benar-benar mengabaikannya.
Maudi berbalik menatap punggung Rangga yang mulai menjauh karena ia terus berlari. Senyum lebar kembali terukir di bibirnya.
"Meski pun kau tampak dingin aku tetap menyukainya. Akan ku pastikan kau akan menjadi milikku," gumam Maudi seraya menatap Rangga yang sudah mulai menghilang dari pandangan matanya.
***
Matahari mulai naik ke tempat yang lebih tinggi. Membuat panasnya semakin terasa menyengat kulit.
Kedai Bu Yuki masih tampak sepi. Hanya satu dua kursi yang terisi.
"Bu, Teh Siti kenapa enggak masuk? Apa Teh Siti sakit?" tanya Putri pada ibunya saat berada di dapur kedai.
"Bukan. Katanya ada keperluan keluarga yang mendesak."
"Oh," jawab Putri singkat seraya mencuci sayur di wastafel.