Putri menarik nafas panjang. Menutup buku pelajarannya lalu menyandarkan punggungnya di sandaran tempat belajarnya. Meregangkan tubuhnya menjadi lebih rileks setelah beberapa jam berkutat dengan buku-buku.
Dia kemudian menengok ke arah dinding di mana jam terpasang di sana. Waktu menunjukkan pukul dua dini hari.
Putri beranjak dari tempat duduknya. Keluar menuju kamar mandi. Membasuh muka dan beberapa bagian tubuhnya. Berwudu. Air kembali menyegarkan wajahnya. Kantuk yang semula menyerang kini menguap.
Dia membentangkan sajadah di bagian sisi kiri tempat tidurnya. Mengenakan mukenanya lalu memulai solat dua rakaat.
Selepas selesai solat beberapa saat Putri menengadahkan tangannya untuk berdoa. Dia kemudian mengambil Al-Qur'an yang ada di nakas di samping tempat tidurnya. Membukanya dan mulai menghafal.
Di waktu sepertiga malam merupakan jadwal Putri untuk menghafal. Dan seelain di jam itu dia memberikan waktu lagi untuk menghafal setelah solat magrib. Sedangkan untuk memurojaah hafalan yang telah ia hafal dilakukannya selepas isya dan subuh.
Jadwal yang rutin Putri lakukan. Sebisa mungkin dia berusaha untuk tidak absen.
Aku sadar, saat aku memutuskan untuk bermimpi dan berusaha mewujudkannya, aku tidak bisa melalui hari sama seperti seseorang yang tak punya mimpi. Ada harga yang harus dibayar ketika seseorang memutuskan untuk bermimpi dan mewujudkannya. Ada hal yang harus dikorbankan. Seorang pemimpi harus siap untuk lelah dan kehilangan waktu yang harus dihabiskan untuk berjuang meraih impiannya. Itulah harga dan pengorbanan pemimpi. Itu pasti Putri. Gumamnya dalam hati di sela diamnya dia saat istirahat sejenak dari menghafalnya.
Putri terus mengulang satu ayat dalam sepuluh kali. Mencoba merekatkannya dalam ikatan. Sebelum benar-benar melakat di kepalanya dia tidak akan pindah ke ayat selanjutnya. Putri berusaha sebaik mungkin. Mendapatkan banyak ayat bisa dia hafal dalam satu waktu.
Mimpi yang sangat patut diperjuangkan. Ultimet tiket pembawa ke surga. Kita bahkan berhak menggandeng orang untuk kita bawa masuk ke surga. Tempat dimana hanya ada keindahan dan kebahagiaan. Tidak ada lagi kesusahan, kesedihan atau pun rasa cemas dan khawatir. Kehidupan yang didambakan semua orang di dunia, namun sayangnya sampai kapan pun tak akan bisa terwujud di dunia. Hanya bisa terwujud di surga. Gumam batinnya lagi saat Putri selesai menghafal dan menutup Al-Qur'annya.
***
Pagi menyapa. Setelah selesai mengenakan seragam sekolah Maudi duduk di depan meja riasnya.
Pantulan dirinya terlihat di cermin. Maudi diam menatap pantulannya sendiri dalam beberapa saat.
"Kamu menyedihkan Maudi. Sangat menyedihkan. Kenapa kau tidak bisa bersuara dan memperjuangkan impianmu? Kamu itu robot bukan manusia." Maudi kemudian menyeringai.
"Kamu tidak pantas untuk hidup Maudi!" umpatnya sendiri dengan ekspresi dingin yang menahan kemarahan.
Maudi menghela nafas panjang. Beralih melihat ke arah bermacam-macam produk kecantikan yang tertata rapi dia atas meja riasnya.
"Kenapa kepintaran yang lebih penting? Bukankah wajah yang dilihat pertama kali? Bukankah pujian pertama terlontar karena kecantikan? Bukankah kecantikan yang pertama dilihat untuk menjadi seorang artis?" lanjut Maudi saat ia melihat banyak produk kecantikan di depannya.
Kekangan yang ayahnya berikan membuatnya benci belajar. Tidak suka mendengar kata pintar. Dan pada akhirnya membuat pemikiran di benaknya tentang kehidupan keliru. Kecantikan bukan segalanya, tapi Maudi memandang sebaliknya.
Maudi menghela nafas pelan.
"Lupakan Maudi. Jangan buat moodmu menjadi rusak," ujarnya lagi pada dirinya sendiri lalu kemudian berusaha mengembangkan senyumnya.
"Sekarang waktunya bersenang-senang dengan merias wajahmu," lanjutnya berujar masih di depan cermin.
"Buat dirimu percaya diri dengan kecantikan yang menonjol."
Dengan wajah yang berbinar Maudi mulai mengaplikasikan setiap step kosmetik yang bermacam-macam ke wajahnya. Menggambar alisnya, lalu mengontur wajahnya, dan kemudian finishing dengan memakai pewarna bibir yang ditambah sedikit kilauan agar tampak bersinar.
Maudi tersenyum melihat hasilnya.
"Cantik, kau sangat cantik Maudi!" pujinya sambil tersenyum melihat dirinya dari pantulan cermin.
Maudi benar-benar bahagia. Sangat bahagia. Setiap kali dia menyentuh peralatan dan berbagai macam makeup kebahagiaannya membuncah. Mengembang memenuhi ruang di hatinya. Semua yang tengah dihadapinya terlupakan.
Mimpi yang tidak bisa dia suarakan. Menjadi penata rias terkenal.
***
Putri berdiri tepat di depan gerbang sekolah. Menyaksikan banyak siswa yang berlalu lalang masuk. Dia tersenyum menyaksikan pemandangan itu.
Ya, kamu boleh bermimpi di dunia ini. Sangat boleh, hanya satu hal tidak boleh terlupakan. Yaitu akhirat. Batin Putri masih diam berdiri.
Melihat sekolahnya ia seolah melihat mimpi dunianya. Kesempatan yang diberikan sekolahnya yang elit seperti kesempatan emas yang tidak akan datang dua kali.
Putri tahu itu tidak akan mudah. Putri menghela nafas dalam. Mulai melangkahkan kakinya masuk ke dalam sekolah.
Mimpi dunia akan berakhir setelah kematian menjemput meski itu semenakjubkan apa pun. Tapi akhirat yang menjelang tak akan pernah berakhir. Selamanya kita berada dalam kehidupan itu. Aku harus bekerja keras untuk meraih dua kesuksesan dalam dua dimensi berbeda itu. Ucapnya dalam hati seraya terus berjalan menatap sekitar. Pepohonan, bunga-bunga, dan para siswa yang tersenyum, bahkan bergurau dengan teman mereka seraya terus berjalan.
Pitbull pernah berkata, kesabaran, semangat, dan ketekunan sama dengan kesuksesan. Aku menyukai kalimat itu. Karena itu kenyataan. Batinnya terus bergumam.
Langkahnya terus berjalan. Gedung sekolah yang besar itu terlihat sudah semakin dekat.
Pernahkah kalian merasakan semangat yang kembali datang membara setelah membaca sebuah kalimat inspirasi atau motivasi? Aku sering merasakannya. Aku juga sangat menyukainya. Kalimat itu seolah mempunyai kekuatan. Ajaib sekali. Tak henti-henti batinnya bergumam.
Langkah Putri pun kini menapaki lorong demi lorong kelas. Setiap tingkah siswa-siswa di depan kelas mereka membuat Putri tersenyum.
Ibu benar, meski kita mulai bermimpi dan berusaha keras untuk mewujudkannya kita tidak boleh lupa untuk bahagia karena kita masih remaja. Berumur tujuh belas tahun. Lanjut batinnya.
Bel yang berdering nyaring membuat para siswa yang berada jauh dari kelas mulai berlari, dan yang berada di depan kelas sontak berhambur memasuki kelas.
Begitu pula dengan Putri, bel yang berdering membuat gumaman di batinnya terhenti. Tidak lagi mengamati sekitar. Mempercepat langkahnya, bahkan sampai berlari kecil untuk segera sampai di kelasnya.