Keesokan harinya di sekolah bisik-bisik banyak terdengar dari para siswa.
"Itu pertama kalinya Rangga menolong orang lain loh. Aku sangat terkejut melihatnya."
"Apa Rangga menyukai Putri?"
"Wajarsih, Putrikan cantik. Pintar lagi."
Putri menghela nafas. Seiring perjalanannya menuju kelas tak henti-hentinya ia mendengar bisik-bisik tentang dia dan Rangga dari para siswa yang tengah berkumpul bersama temannya. Mereka melirik sekilas ke arah Putri saat dia lewat di depan mereka. Tatapan yang membuat risih dan tak nyaman.
"Dia luar biasa bisa meluluhkan hati Rangga yang anti sosial itu."
Kalimat itu terdengar dari seorang siswa laki-laki yang tengah berbincang dengan kedua temannya.
"Bagaimana kalau aku juga mulai mendekatinya?" lanjut siswa itu lagi sebelum kemudian kedua temannya memberi kode pada temannya itu untuk berhenti bicara karena mereka melihat Putri mulai mendekat ke arah mereka. Dan temannya yang sedang bicara itu berhenti diam.
Ketiganya hanya diam sambil melihat ke arah Putri saat Putri melewati mereka. Putri menyadari bahkan mendengar ucapan itu. Dia merasa tidak nyaman.
Dia mempercepat langkahnya menuju kelas. Namun sayangnya hal yang sama pun ia dapati di kelas. Teman sekelasnya juga tak lepas membicarakan kejadian itu.
Bagi mereka itu adalah hal ajaib. Rangga yang tiba-tiba menolong orang lain. Tidak pernah disangka.
Setelah terdiam beberapa saat di depan pintu kelas Putri masuk dengan langkah ragu. Di kelasnya pun pada saat itu dia merasa tidak nyaman. Jika saja waktu masuk masih lama Putri rasanya ingin sekali berlari menjauh ke atap gedung atau ke taman sekolah. Menghirup udara segar. Menyambut datangnya angin yang sangat dia sukai. Itu pasti akan sangat mendamaikan.
Putri duduk di kursinya. Begitu pun dengan siswa lain karena bel masuk sudah berdering.
Rangga duduk di bangkunya yang berada di belakang dengan menyilangkan kedua tangannya di depan seraya terpejam dengan headphone di telinga. Dia pura-pura tidak mendengar meski pada kenyataannya mendengar.
Putri beberapa kali menghela nafas. Mencoba memfokuskan dirinya pada buku pelajaran yang dibukanya.
Di bangku depan tubuh Maudi menegang. Kedua tangannya mengepal kuat. Ekspresi wajahnya pun penuh kemarahan. Dia tidak menyukai semua yang di dengarnya. Dan itu membuatnya sangat marah. Seharusnya dia yang berada di posisi itu. Yang disandingkan dengan Rangga. Bukan Putri.
Tidak beberapa lama kemudian guru masuk ke kelas, membuat segala bisik-bisik terbungkam. Dan itu sedikit melegakan bagi Putri.
Pelajaran demi pelajaran terlewati. Jam istirahat tiba. Kepergian guru dari kelas membuat kelas riuh kembali. Para siswa beranjak dari duduknya. Ada yang keluar, ada juga yang ke kursi temannya, duduk di atas meja lalu melanjutkan lagi bisik-bisik mereka yang beberapa jam lalu terbungkam karena ada guru yang mengajar. Dan bisik-bisik itu masih tentang Rangga dan Putri.
Putri yang merasa tidak nyaman segera keluar kelas. Menuju perpustakaan. Salah satu tempat yang paling disukainya di dunia setelah taman dan padang sabana.
Rak-rak yang berjejer panjang yang berisikan berbagai macam buku pun selalu membuatnya takjub. Putri sangat menyukainya.
Melihat rak-rak yang berisikan buku-buku itu dia seolah ingin membaca semuanya, namun dia sadar dia tidak bisa melakukannya.
Putri berjalan di lorong-lorong rak buku untuk memilih buku yang sedang ingin dia baca.
Bisik-bisik dari siswa yang membicarakan dirinya dengan Rangga sayup-sayup terdengar. Putri mencoba tak acuh. Menarik satu dua buku dari rak yang berjejer panjang itu.
Dia tidak menyangka di perpustakaan pun akan mendengar percakapan yang ia hindari tersebut.
Setelah duduk di kursi dengan meja panjang yang tersedia di perpustakaan Putri mulai membaca halaman pertama dari salah satu buku yang diambilnya dari rak buku. Putri membacanya dengan serius.
Ketenangan membaca buku yang baru saja ia baca satu halaman harus terusik karena bisik-bisik tentang dirinya yang kembali terdengar. Kali ini suara itu terdengar lebih jelas karena yang membicarakannya ada di belakang meja tempat duduknya sekarang.
"Itu Kak Putri yang meluluhkan hati Kak Rangga yang terkenal anti sosial itu kan?"
"Hm."
"Dia sangat cantik. Pantas Kak Rangga suka."
"Hah, aku sangat iri dengan dia. Aku yang sangat menyukai Kak Rangga malah tidak pernah digubris. Sekotak coklat yang aku berikan untuk Kak Rangga selalu ditolaknya mentah-mentah," ucap salah satu siswi itu dengan lesu.
Putri menghentikan membacanya. Mendengar semua percakapan dari sebrang yang berasal dari beberapa siswi kelas sepuluh yang kini tengah kompak melihat ke arahnya membuatnya merasa tak nyaman.
Putri menghela nafas dalam. Dia kemudian menutup buku yang semula tengah ia baca. Beranjak dari tempat duduknya. Menaruh kedua buku ke tempatnya lagi, kemudian secepat mungkin pergi dari perpustakaan.
Putri kini duduk di kursi yang ada di taman sekolah. Embusan angin sungguh menyejukkan.