Dunia Rangga kini berubah seratus delapan puluh derajat. Meski mengusiknya namun Rangga tetap menyukainya.
Jika dulu para wanitalah yang menggilainya, mati-matian mengejarnya, kini itu berbalik padanya. Dia kini yang merasakan semua itu.
Putrilah orangnya. Dia yang merubah dunia Rangga.
Tanpa Putri ketahui Rangga mengikutinya pulang sekolah dengan menggunakan taksi. Sedangkan Putri sendiri menggunakan busway.
Ketika Putri turun dan berjalan, Rangga mengikutinya dengan megendal-endap. Lalu berdiri dengan jarak lumayan jauh ketika Putri sampai dan masuk ke dalam rumahnya.
Saat Putri sudah benar-benar tidak terlihat Rangga muncul dari persembunyiannya. Berdiri menatap rumah Putri beberapa lama. Rumah itu tampak sederhana, namun tampak teduh.
Setelah sadar dengan apa yang dilakukannya, Rangga kemudian tersenyum menyeringai.
"Rangga, kenapa kau menjadi pecundang seperti ini," umpatnya pada dirinya sendiri. Dia tidak habis pikir pada dirinya sendiri yang sampai melakukan hal bodoh tersebut. Hal yang sebelumnya tidak pernah dia lakukan.
Kejadian yng kemudian berulang. Rangga lagi-lagi mengikuti Putri pulang sekolah. Bukan untuk tahu di mana rumahnya karena Rangga sudah tahu, dia hanya ingin lebih lama melihat Putri.
Dalam berdirinya seraya menatap Putri, Rangga menghela nafas.
"Kau sudah benar-benar menjadi pecundang ulung Rangga," ucapnya pelan. Harga dirinya terasa benar-benar jatuh ke dasar.
Namun berapa lama dia mengabaikan perasaannya . Keningnya berganti berkerut.
"Tapi kenapa dia ke kedai? Apa dia mau membeli makanan?" gumam Rangga dengan ekspresi berpikir.
Tanya yang dalam beberapa detik kemudian terjawab. Saat Putri memanggil wanita yang keluar dari pintu depan kedai dengan sebutan ibu. Mencium tangannya kemudian memeluknya dengan manja. Rangga memperhatikan itu. Bahkan saat Putri dan ibunya masuk ke dalam kedai.
"Itu kedai milik ibunya?" gumamnya bertanya pada dirinya sendiri sambil menatap ke depan kedai tersebut.
***
Hari yang melelahkan. Beberapa hari menjadi pecundang sudah sangat melelahkan bagiku. Lalu bagaimana dengan orang yang melakukannya selama bertahun-tahun? Aku tidak bisa mebayangkannya. Batinnya setelah dia menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Memejamkan matanya dengan helaan nafas pelan yang keluar dari mulutnya.
Tepat pukul lima pagi Rangga keluar dari rumahnya. Rumah yang masih tampak gelap dan sepi karena penghuninya yang masih tidur.
Rangga pun biasanya seperti itu, masih berada dalam dunia mimpinya. Namun pagi itu dia memaksakan diri. Keinginannya bertemu Putri membuatnya lebih mudah terbangun.
Rangga berharap pagi itu dia bertemu dengannya. Dia berharap Putri berolahraga agar perjuangannya yang bangun pagi, sekaligus perjalanannya menuju area rumah Putri tidak sia-sia.
Langit mulai cerah. Menampilkan warna biru keabuan. Waktu yang sangat cocok untuk lari berolahraga. Di saat udara masih segar dari polusi.
Putri membuka pintu. Menuntun sepedanya keluar rumah. Berjalan santai di lingkungan area rumahnya. Menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskanya secara perlahan. Putri tersenyum menatap pemandangan indah di pagi hari. Langit keabuan yang berpadu dengan lampu-lampu jalan tampak serasi dan indah.
Suasana taman dekat rumahnya lumayan ramai oleh orang-orang yang berolahraga. Ada satu dua yang bersepeda, namun lebih banyak yang berlari.
Putri terus menuntun sepedanya. Menatap ke sekitar seraya menikmati udara yang terasa masih bersih. Itulah alasan mengapa Putri selalu berolahraga setiap pagi walau hanya jalan-jalan kecil, berlari kecil, atau menuntun sepeda seperti yang dilakukannya pagi ini.
Seorang lelaki berlari kecil melewatinya. Namun yang menjadi aneh bagi Putri saat berada di depannya dengan jarak beberapa meter laki-laki itu menghentikan langkahnya. Terdiam membelakangi Putri. Membuat langkah Putri seketika terhenti.
Di saat benak Putri belum sempat menyimpulkan apa yang tengah terjadi pada laki-laki itu, lelaki itu terlebih dulu berjalan mundur dengan wajah tersenyum. Senyum yang tentu tidak dapat dilihat oleh Putri.
Lelaki itu tidak lain adalah Rangga. Langkah Rangga terhenti tepat di depan Putri dengan tubuh yang masih membelakangi. Membuat Putri semakin merasa bingung. Kerutan di dahinya semakin tajam.
Tanpa menunggu lama dengan senyumannya yang super manis Rangga berbalik. Dan pemandangan yang berada di depannya sontak membuat Putri terkejut.
"Usahaku ternyata tidak sia-sia," gumam Rangga lirih masih dengan senyumnya yang manis saat Putri masih berada dalam keterkejutannya.
"Ra..Rangga," ucap Putri lirih dengan sisa-sisa keterkejutannya.
Rangga tersenyum.
"Ya, ini aku."
Putri menghela nafas. Tidak habis pikir. Perasaannya kini sudah normal seperti sedia kala.
"Kenapa kau ada di sini?"
"Seperti yang tengah kau lihat, aku di sini untuk berolahraga," jawab Rangga santai.
"Tidak masuk akal."
Putri jalan lagi dengan menuntun sepedanya. Melewati tubuh Rangga yang jauh lebih tinggi darinya.
"Apanya yang tidak masuk akal? Ini bahkan sangat mudah. Mudah juga untuk cepat dicerna." Rangga mengikuti Putri berjalan di sampingnya.
"Kau bahkan tidak tinggal di area ini," lanjut Putri masih tidak percaya.
"Itu mudah saja. Aku hanya perlu keluar lebih awal. Bereskan."
"Bagiku itu tetap aneh."
"Kamu yang aneh. Aku yang kemari kenapa kamu yang sewot," sergah Rangga sambil tersenyum.
"Tapi bagaimana kamu bisa menemukan area ini?" lanjut Putri bertanya. Membuat Rangga mulai panik harus berkata apa.
Beberapa saat hening. Rangga berusaha mengendalikan diri agar paniknya tidak terlihat.
Dia kemudian mencoba berpikir cepat. Mencari jawaban yang masuk akal.
"Random. Aku terkadang berolahraga bisa di mana saja" jawabnya cepat. Hanya itu kata yang terlintas di benaknya.
"Random? Tidak masuk akal," sahut Putri tidak percaya.
"Sudahlah, lupakan itu. Ayo kita lanjut jalan saja." Bujuk Rangga berharap Putri menurutinya.
"Tapi..."
"Ayo Putri nanti keburu mataharinya naik," potongnya dengan cepat.
"Iya iya baiklah." Akhirnya Putri pun mengalah.