Di bawah pohon besar yang rindang, Putri termenung menatap Padang sabana yang luas.
Putri duduk dengan menautkan kedua tangannya ke lututnya, memejamkan matanya lalu menghela nafas panjang.
Walau kehidupan terasa sulit, aku percaya satu hal bahwa mimpi akan merubah segalanya.
Bukan layaknya ibu peri yang hanya bim sala bim mengubah baju lusuh cinderela menjadi gaun yang indah menakjubkan. Namun mimpi membutuhkan proses panjang untuk membuat seseorang bersinar indah.
Dan yang membuat mimpi tampak ajaib adalah, saat seseorang berikrar untuk bermimpi dan mewujudkannya, harapan dan semangat akan mekar mengembang. Melahirkan tekad yang kuat. Hingga hari yang dijalaninya lebih berarti. Dan aku bersyukur, karena kau mempunyai impian itu. Batin Putri panjang.
"Aku suka sendirian seperti ini," gumam Putri dengan mata masih terpejamnya.
"Bukankah lebih baik ada orang di sampingmu?"
Putri yang terkejut langsung membuka matanya. Menoleh ke arah sumber suara.
"Rangga," ujar Putri lirih.
"Ya, aku di sini," jawab Rangga tersenyum. Berdiri tegak tepat di sampingnya.
Tanpa Putri sadari Rangga mengikutinya sejak pulang sekolah. Sudah lama mematung jauh di belakangnya seraya menatap punggungnya yang terduduk.
Meski pun aktifitas yang dilakukannya sudah lebih dari satu jam, Rangga sedikit pun tidak merasa lelah atau pun jemu hingga dia akhirnya memutuskan untuk mendekat.
"Kau selalu saja mengejutkanku. Aku benar-benar tidak habis pikir. Jika aku jantungan itu bisa bahaya tahu," keluh Putri. Menatap ke depan lagi.
Rangga tidak menjawab. Hanya tersenyum lalu ikut duduk di sampingnya.
"Apa menurutmu tempat ini sangat indah?" tanya Rangga setelah ia duduk menatap ke depan juga.
"Sangat," jawab Putri singkat.
"Di sekolah kau juga sering duduk di taman. Apa kau juga menyukainya?"
Putri tersenyum. Bukannya menjawab dia justru mengajukan pertanyaan pada Rangga.
"Apa yang paling kau sukai di dunia ini?"
Rangga terdiam beberapa saat. Berpikir apa yang dia sukai.
"Emm...entahlah. aku tidak tahu apa yang benar-benar ku sukai di dunia ini. Semuanya terasa biasa saja bagiku," jawab Rangga seraya memicingkan matanya. Masih berpikir.