Harapan meski disertai amal. Jika tidak ia hanyalah angan-angan. Ibnu Atha'illah Al-Iskandari. Putri menatap sekaligus membatinkan kalimat yang ada di tembok di depan meja belajarnya.
Selain kalimat itu masih banyak kalimat motivasi dan inspirasi lain yang Putri tulis di sana.
Tembok depan meja belajarnya dipenuhi dengan kertas warna-warni yang terisi kalimat kalimat motivasi.
Putri menatap intens kertas berwarna biru yang berisikan kalimat tersebut beberapa lama. Dia kemudian tersenyum.
Aku akan berusaha keras hingga asa yang ku punya tidak akan berakhir hanya menjadi angan-angan. Gumam Putri dalam batinnya. Dia kemudian menarik nafas panjang.
Pukul sembilan malam, Putri membuka buku matematikanya. Tenggelam dalam dunia hitung menghitung. Satu jam, dua jam, bahkan sampai tiga jam. Putri menarik nafas panjang. Menutup buku pelajarannya dan menyudahi belajar matematikanya.
Putri menaruh bukunya di tempat semula kemudian beranjak dari kursi belajarnya menuju kamar mandi untuk berwudu. Waktunya ia menghafal Al-Qur'an. Memperjuangkan salah satu mimpinya yang lain. Mimpi yang sangat berarti dan spesial melebihi apa pun di dunia.
Waktu menunjukkan pukul dua belas dini hari. Putri membuka Al-Qur'annya. Memfokuskan segala pikirannya dalam ayat-ayat yang tengah ia hafal. Sesekali ia menengadahkan kepala dan menghela nafas pelan ketika ia merasa lelah. Namun kemudian tetap melanjutkan hafalannya. Tenggelam bersama Al-Qur'an.
Putri sadar itulah harga dan pengorbanan yang harus ia bayar ketika ia memutuskan untuk bermimpi dan berusaha untuk mewujudkannya.
Matanya yang sudah terasa berat tetap dia coba untuk bertahan. Untuk tetap terjaga dan fokus menghafal ayat demi ayat. Dua jam berlalu, waktu menunjukkan pukul dua dini hari. Matanya sudah terasa sangat berat tidak bisa ditahan lagi. Putri menutup Al-Qur'annya dan menyudahi menghafalnya. Lalu menaruh Al-Qur'annya di nakas samping tempat tidurnya.
Putri merebahkan tubuhnya di atas kasur. Berdoa lalu lantas tertidur.
Putri ingin mimpinya menjadi nyata. Bukan menjadi mimpi si bunga tidur yang akan menghilang seiring waktu .
Ibunya masuk ke kamarnya. Duduk di samping Putri yang tertidur dengan wajah yang terlihat meneduhkan.
Ibunya tersenyum sambil mengelus pucuk kepalanya.
"Ibu diberkati karena memiliki anak sepertimu. Terima kasih karena telah tumbuh menjadi anak yng sangat baik meski di tengah kehidupan yang sulit dan penuh rasa sakit. Ibu akan selalu berdoa semoga hidupmu akan selalu bahagia dan dikelilingi oleh orang-orang yang baik."
Ibunya lalu mengecup keningnya.
"Ibu berharap kau tetap bahagia meski dalam perjuangan kerasmu mengejar mimpi-mimpimu," lanjut ibunya seraya menyelimutinya. Lalu kemudian keluar dari kamarnya.
***
Rangga berdiri dari tempat duduknya dengan wajah memerah dan rahang mengeras karena amarah.
Ketegangan tercipta di pagi hari yang penuh kehangatan sinar mentari pagi.
Mama tiri dan saudara tirinya Frizi ikut menegang. Menghentikan aktifitasnya menyendok nasi dari piringnya saat mereka sedang sarapan.
"Aku benar-benar muak dengan semua ini. Sampai kapan pun kita tidak akan bisa menjadi keluarga." Rangga menjeda kalimatnya beberapa detik. Menatap tajam ke arah mama tirinya.
"Terutama wanita itu, sampai kapan pun dia tidak akan bisa menjadi mamaku. Aku tidak bisa menjadikan pembunuh mamaku menjadi seorang mama bagiku," paparnya dingin. Dan tidak beberapa lama dari itu tamparan keras mendarat di salah satu sisi pipinya
"Kau...kau sudah sangat keterlaluan Rangga." Mata papanya terbuka lebar, nafasnya pun ikut memburu.
Mama tirinya yang menangis mencoba menghentikan suaminya. Menyentuh lengannya dengan lembut.
"Aku mohon sudah Mas. Jangan membuat situasi menjadi semakin buruk. Aku mohon Mas!" Pinta istrinya memelas dengan air mata yang terus luruh.
Frizi membeku, tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa meluapkan kemarahannya dengan mengepalkan kedua tangannya.
Rangga menoleh ke arah papanya dengan penuh kebencian lalu menyeringai.
"Ini baru normal. Dibandingkan saat tadi duduk bersama di satu meja makan dan berpura-pura tenang menyantap hidangan."
Rangga kemudian berdecih.
"Itu benar-benar menyesakkan dan sekaligus menjijikan," lanjut Rangga penuh penekanan sebelum akhirnya dia pergi dari meja makan. Meninggalkan papanya yng tengah diliputi amarah yang memuncak.
"Rangga kembali!" seru papanya menggelegar. Namun Rangga tetap tak acuh. Terus melenggang menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Mas, ku mohon sudahlah!" Pinta istrinya lagi dengan ekspresi wajah memelas dan tangan yang semakin erat mencengkram pergelangan tangan suaminya.
Masih di tempatnya Frizi menghela nafas sangat dalam. Situasi yang sungguh melelahkan. Dan tidak beruntungnya situasi itu tak henti-hentinya terjadi di rumahnya. Membuat Frizi merasa muak.
Situasi yang sering membuat mood Frizi menjadi sangat tidak baik.
Di sekolahnya Frizi sangat tidak bersemangat mendengarkan gurunya yang tengah menerangkan di depan kelas. Mukanya lesu dengan arah pandangan entah ke mana. Menopangkan dagunya di atas tangan yang dia tumpukan di atas meja. Frizi benar-benar tidak mendengarkan gurunya di depan.
Yang dilakukannya semakin parah ketika berganti ke pelajaran berikutnya. Frizi malah menelungkupkan kepalanya di atas kedua tangannya sepanjang pelajaran berlangsung.