Satu Cita-cita untuk Ibu

ani__sie
Chapter #18

18. Hijab dari Rangga

Ketika jam istirahat pertama tiba Maudi dan kedua temannya membawa paksa Putri ke belakang sekolah. Kedua teman Maudi masing-masing mencengkram lengan Putri di kanan dan kirinya dan memaksanya terus berjalan.

Sesampainya di belakang sekolah Maudi dan kedua temannya menghentikan langkah mereka.

Maudi dengan kedua tangan yang dilipatnya ke depan menyeringai menatap ke arah Putri.

"Lepaskan! Apa yang mau kalian lakukan? Lepas!" ujar Putri sambil meronta berusaha lepas dari cengkraman kedua teman Maudi.

Di depannya Maudi masih tersenyum menatapnya. Senyuman yang tentunya mengejek. Sedangkan Putri masih terus meronta.

"Tenanglah, tidak usah panik seperti itu. Kami hanya mau memberimu hadiah," ujar Maudi setelah mendekatkan tubuhnya seraya menepuk-nepuk beberapa kali wajah Putri kemudian di akhiri dengan menampakkan senyum miringnya.

"Aku tidak tahu apa sebenarnya salahku padamu hingga kau sangat membenciku seperti ini?" tanya Putri di sela rontaannya.

"Salahmu?" Maudi tertawa sumbang. Lalu mendekatkan wajahnya ke depan muka Putri.

"Karena kau pintar meski kau tak punya apa-apa." Maudi diam sejenak menetap semakin tajam Putri.

"Dan karena kau berhasil memenangkan hati Rangga," lanjut Maudi dingin.

Putri memasang wajah tak habis pikir.

"Hentikan Maudi. Hentikan! Ini hanya akan membuatmu yang mempunyai segalanya akan tampak rendah dan menyedihkan. Aku tulus berkata seperti ini sebagai teman."

"Hentikan hentikan hentikan...!!!!!!" Teriak Maudi melengking dengan amarah semakin membara kala mendengar kalimat yang Putri ucapkan.

"Hentikan aku tidak butuh ocehanmu," lanjut Maudi dengan nada penuh penekanan.

"Dudukkan dia!" Perintahnya pada kedua temannya yang memegangi Putri.

Kedua teman Maudi kemudian memaksa tubuh Putri untuk duduk. Meski Putri berusaha melawan untuk menahan diri agar tidak terjatuh namun tenaganya tidak sebanding dengan tenaga kedua teman Maudi.

Pada Khirnya Putri pun jatuh terduduk.

"Jangan khawatir, aku hanya akan memberimu hadiah. Bukankah dua hari lagi kau berulang tahun. Aku hanya ingin memberimu hadiah lebih awal. Hadiah yang tak kan pernah kau lupakan," ujar Maudi tersenyum lebar menatap ke arahnya.

Maudi lalu menyiramkan satu botol air yang diterimanya dari salah satu temannya tepat ke kepala Putri.

Kamu tidak boleh menangis Putri. Tidak boleh. Batinnya dengan kedua tangannya mencengkram tanah.

Satu botol lagi disiramkan ke kepala Putri. Membuat hijabnya basah kuyup.

Maudi membuang botol keduanya ke tanah. Maudi tersenyum lebar melihat Putri yang basah kuyup.

"Selesaikah?" tanya kedua temannya kompak seraya tersenyum.

"No, masih ada satu lagi." Maudi tersenyum penuh arti ke arah Putri yang menunduk. Maudi kemudian berjalan selangkah mendekat ke Putri. Tangannya seketika terjulur ke kepala Putri dan hendak melepaskan hijabnya.

Putri yang terkejut sontak menahan hijabnya agar tidak terlepas. Satu tangannya dengan kuat memegangi bawah hijabnya, sedang satu tangannya lagi berusaha melepaskan tangan Maudi yang berada di atas kepalanya yang tengah berusaha melepas hijab dari kepalanya.

"Aa....apa yang kamu lakukan Maudi? Hentikan. Ku mohon," Putri berujar mulai panik.

Maudi yang merasa kesulitan melepas hijab Putri dari kepalanya lantas meminta bantuan pada kedua temannya.

"Pegangi tangannya!" Pinta Maudi pada kedua temannya.

Kedua temannya segera menuruti perintahnya.

"Tidak. Ku mohon jangan lakukan itu padaku," ujar Putri dengan denting air di matanya yang menetes kala kedua teman Maudi memegangi kedua tangannya.

Maudi tersenyum senang. Leluasa melepaskan hijab itu dari kepalanya.

"Aku mohon Maudi jangan lakukan itu. Berikan hijab itu padaku." Pinta Putri dengan air mata yang terus mengalir di pipinya saat hijab itu benar-benar terlepas dari kepalanya. Memperlihatkan rambutnya yang terkuncir karet gelang.

"Kau mau ini?" lanjut Maudi menggoda Putri dengan menenteng memperlihatkan hijabnya tepat di depan wajahnya.

Kedua teman Maudi kompak tertawa.

"Aku mohon Maudi berikan padaku!" Pinta Putri memelas.

Maudi tersenyum miring. Menjongkokkan tubuhnya tepat di depan Putri.

"Tidak akan . Tidak akan pernah."

"Aku mohon!" Bujuk Putri lagi.

"Kau tidak bisa pergi saat kau tidak pakai hijab, bukan? Jadi nikmatilah," lanjut Maudi dingin.

Lihat selengkapnya