Satu Cita-cita untuk Ibu

ani__sie
Chapter #19

19. Rangga Si Penjaga

Insiden yang terjadi di sekolah siang tadi terbayang kembali di ingatannya. Berhasil menyita pikiran Putri di malam hari.

Dia berkali-kali menghela nafas. Menghentikan aktifitasnya saat mengerjakan soal.

Dia menghela nafas lagi. Menghentikan laju pena dibukunya. Belajarnya menjadi tidak fokus. Dia selalu salah mengerjakan soal hingga selalu mencoret-coret apa yang sudah ditulisnya.

Dalam dua jam itu Putri terus belajar meski dia harus banyak tersendat. Berhenti beberapa lama, termenung. Berkali-kali mencoret-coret apa yng sudah di tulisnya di buku.

Dia kemudian menatap sendu cahaya lampu belajar yang ada di meja belajarnya.

Keadaan tidak berjalan seperti yang ku harapkan.

Bukan saja waktu yang harus ku korbankan, atau pun rasa malas yang harus ku lawan, namun ternyata hal yang selama ini tidak pernah ku duga juga terjadi dan harus ku lalui, mendapat perundungan. Batin Putri masih terus menatap lampu belajar dengan tatapan sendunya.

Meski hal itu memberi rasa sakit dan menyesakkan aku tidak boleh menyerah. Tidak boleh menghindarinya dan pergi dari sekolah yang memberiku begitu besar harapan.

Aku harus tetap berada di sana. Tidak boleh mundur selangkah pun. Lanjut batinnya.

Putri menidurkan kepalanya miring tepat dia tas buku pelajarannya. Lama tercenung. Tatapnya entah kemana.

Waktu menunjukan pukul dua belas malam.

Masih dalam posisinya Putri menghela nafas panjang beberapa kali.

Meski dengan mood yang belum sepenuhnya kembali Putri dengan lemah mengangkat kepalanya. Duduk bersandar di kursinya beberapa saat. Menatap ke dinding depan meja belajarnya yang dipenuhi kertas warna-warni yang tertempel apik di sana. Mata Putri kemudian fokus menatap ke salah satu kertas berwarna kuning yang ada di sana.

Putri menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya keras. Dia beranjak dari duduknya. Mengambil wudhu di kamar mandi lalu mengambil Al-Qur'annya yang ada di nakas samping tempat tidurnya. Kemudian duduk kembali di kursi belajarnya.

Sebelum membuka Al-Qur'an Putri melihat lagi kertas berwarna kuning itu lalu mengambilnya dari dinding. Dan membatinkan kalimat yang ada di sana.

Jika kamu tetap di zona nyamanmu itulah mengapa kamu akan gagal. Kamu akan gagal di zona nyamanmu. Sukses bukanlah cara yang nyaman. Tapi hal yang sangat tidak nyaman untuk dilakukan. Kamu harus nyaman dengan ketidaknyamanan. Jika kamu memang ingin sukses mulailah memberi tekanan. Beri tekanan pada dirimu sendiri. Keluar dari sana dan lakukan!" Steve Harvey.

Denting air matanya beberapa kali menetes. Perih mengingat keadaan yang ia alami. Namun seperti kalimat itu Putri harus nyaman dengan ketidaknyamanan. Karena hal tersebut juga merupakan satu harga dalam upaya seseorang meraih mimpi.

Putri menarik nafas. Menguatkan dirinya sendiri. Dia menyeka sudut matanya yang masih basah bekas air matanya yang sebelumnya luruh.

Dia membuka Al-Qur'annya yang beberapa saat tertunda. Memejamkan mata untuk memfokuskan diri.

Lalu membuka matanya setelah beberapa saat. Kemudian tenggelam dalam menghafal selama dua jam.

Semua harga yang harus ia bayar demi mimpi-mimpinya sejatinya adalah jalan membentang untuknya terus menuju mimpi.

Aku akan berusaha untuk selalu kuat. Batinnya lagi.

***

Khawatir kejadian kemarin terulang, Rangga bertingkah seolah menjadi bodyguard Putri hari itu di sekolah. Sejak kedatangannya ke sekolah Rangga langsung mencari keberadaannya. Berusaha untuk selalu berada di dekat Putri.

Di saat jam istirahat pertama Rangga mengikuti Putri yang memilih menghabiskan waktu istirahatnya di perpustakaan. Ikut-ikutan Putri membaca buku dan sesekali menggangu dengan terus mengajaknya bicara di tengah Putri yang sedang fokus membaca. Namun meski begitu Rangga lebih banyak sibuk sendiri dengan buku yang dibacanya dan beberapa kali terdiam memandang Putri yang tengah fokus membaca.

Pun saat istirahat kedua, Rangga menemani Putri makan di meja yang sama. Membuat banyak mata tertuju pada mereka. Membuat Putri mulai merasa tidak nyaman.

Putri menghela nafas di sela-sela makannya.

"Sampai kapan kau akan terus seperti ini?" tanya Putri setelah menaruh sendok di atas tempat makannya. Melihat pada Rangga yang terus saja makan dengan santai.

Rangga menghentikan kunyahannya. Keningnya kemudian berkerut.

"Maksudnya apa?"

"Kau tidak lihat, banyak siswa yang tengah memperhatikan kita," jawab Putri pelan sambil melirik ke sekitar.

Lihat selengkapnya